
Semua sudah kumpul di meja makan, tapi mereka belum mulai makan karena masih menunggu Maria.
"Ma, coba kamu lihat ke atas, kenapa Maria lama sekali?" pinta Hendra. Ana mengangguk dan pergi memanggil Maria.
Tok tok tok
"Maria... cepat sayang, kita sedang nunggu kamu."Seru Ana.
Pintu kamar terbuka, Maria yang baru selsai mandi, masih menggunakan handuk masih melilit di tubuhnya.
"Bentar Ma, aku mau ganti baju dulu." Ujar Maria.
"Ya udah sana cepet ganti baju, jangan pakek lama kasian mereka menunggu kamu."
"Mereka suruh duluan aja Ma, nanti aku nyusul."
Ana langsung turun.
"Gimana Ma?" tanya Hendra, Surya yang memang penasaran ikut mendengar pembicaraan mereka.
"Dia masih ganti baju, bentar lagi juga turun. Lebih baik kita makan aja dulu, mari silahkan. Jangan sungkan sungkan." Ana mempersilahkan Wisnu dan Surya.
Tak lama kemudian Maria turun menggunakan kaos bermotif love di tengahnya dan celana pendek selutut. Rambut yang masih basah tergurai begitu saja dengan make up tipis, mungkin hanya bedak dan lipglos. Tapi penampilan itu sudah cukup membuat Surya tak berkedip, dan jantungnya berirama.
Maria duduk di tempat yang biasa ia duduki. "Maaf saya terlambat." Ucap Maria. "Gak masalah, kami juga baru mulai." Kata Ana.
"Sial...setiap aku mendengar suarnya kenapa aku seperti ini? dan kenapa gadis ini tambah kelihatan cantik, terus kenapa juga dengan jantungku? aahh jangan jangan aku mulai kena serangan jantung? lebih baik nanti aku segera periksa ke dokter." Gumam Surya, saat tak bisa mengendalikan detak jantungnya yang semakin cepat.
Hendra terus memperhatikan reaksi Surya, dia senyum senyum terus.
__ADS_1
"Pa, ada apa sih? kok dari tadi Papa lihat Surya senyam senyum?" gumam Ana yang bisa di dengar oleh Hendra dan Wisnu. Hendra hanya geleng kepala dan melanjutkan makan. Karena penasaran Wisnu melihat ke arah Surya, setelah melihatnya Wisnu baru sadar apa yang di maksud tuan rumah.
Kaki Wisnu bergerak menendang Surya... berhasil. Surya langsung melihat wajah Papanya. Mereka saling memberi kode, dan akhirnya Surya paham maksud dari Papanya.
Wisnu dan Surya berpamitan, tuan rumah mengantar sampai depan.
"Maafkan atas ke tidak sopanan kami dan saya terima kasih sudah di jamu dengan baik. Sekarang saya pamit untuk pergi dulu." Tutur Wisnu, yang sudah sangat malu dengan kelakuan Surya sejak tadi bahkan sampai detik ini. Mata Surya masih belum juga di kondisikan, bahkan berulang ulang kali Wisnu memberi isyarat namun tak di gubris oleh Surya. Di matanya hanya ada Maria... meskipun sejak tadi Maria cuek dan tidak menegur Surya sama sekali, tidak bisa mencegah kedua mata Surya untuk mengagumi Maria.
"Saya yang harusnya bersyukur karena Anda mau mengantar saya, kalau enggak mungkin saya masih kluntang klantung di jalan." Ujar Hendra.
"Itu memang yang seharusnya di lakukan, mana mungkin saya membiarkan Anda dan pak sueb jalan. Saya rasa ini sudah siang dan saya harus segera pergi. Assalammualikum." Ucap Wisnu.
"Walaikumsalam." Jawab Tuan rumah. Wisnu dan Surya sudah masuk dalam mobil, saat mobil mulai berjalan Surya terus memperhatikan Maria dari kaca spion mobil.
"Kamu suka sama putri pak Hendra?"pertanyaan Wisnu membuat Surya terkejut.
"Siapa yang suka?" kilah Surya.
Ibarat maling ketahuan mencuri, wajahnya Surya memerah.
"Apa iya aku suka sama gadis tadi? ah gak mungkinlah," batin Surya.
Di rumah Maria.
Hendra segera melakukan rencananya, dia segera menghubungi orang suruhanya.
"Jac, aku mau kamu selidiki siapa Wisnu dirgantara dan juga anaknya Surya. Aku mau cepat informasinya!"
"Baik tuan Hendra, akan segera kami laksanakan."
__ADS_1
"Bagus." Sambungan di matikan.
"Apa Papa yakin dengan pilihan Papa? pemuda tadi?" Ana tiba tiba datang mengejutkan Hendra yang tengah duduk di kursi taman.
"Dari mana Mama tau? jika pemuda itu yang menjadi pilihan Papa?" Hendra pura pura tidak mengerti maksud Ana.
"Dari cara Papa pandang pemuda itu, Mama sudah tau maksudnya. Mama lebih mengenal Papa lebih baik dari Papa sendiri." Ucap Ana yang kini sudah duduk di pangkuan sang suami.
"Terima kasih Mama sudah mengerti Papa dan memahami Papa lebih dari diri Papa sendiri." Hendra mencium tangan Ana.
"Lebih baik cari tau dulu bagaimana keluarga mereka? supaya tidak akan terjadi hal yang tidak kita inginkan suatu hari nanti."Saran Ana.
"Siap. Papa baru saja hubungi Jac untuk menyelidikinya."Ujar Hendra.
Bik Lastri berlari ke arah majikannya. Melihat majikanya yang sedang bermesraan dia bingung, "Haduh... Tuan dan Nyonya kok ya mesra mesraan di situ."Bik Lastri membalikkan badan karena malu. "Permisi Nyonya... ada polisi yang datang."Bik Lastri sedikit berteriak karena jarak yang agak jauh dari majikannya.
Hendra dan Ana yang sedang ciuman terkejut saat mendengar teriakan dari asistenya.
"Kemarilah Bik." Perintah Hendra, namun Bik Lastri masih tidak bergerak. Karena paham, Hendra dan Ana berjalan mendekatinya.
"Ampun Tuan, saya hanya mau bilang di luar ada pak Polisi." Hendra dan istrinya langsung bergegas menemui tamunya.
"Selamat Sore Pak Hendra."Sapa Polisi itu, dengan mengulurkan tangan. Hendra menyambut uluran tangannya. "Iya selamat sore. Silahkan duduk." Kedua Polisi itu pun duduk.
"Begini Pak, saya sudah menangkap perampok yang merampok Pak Hendra tadi malam. Mereka memberikan informasi, bahwa mereka bekerja kelompok dan tidak ada campur tangan dari pihak manapun. Kini mobil Pak Hendra dan barang barang yang lain masih kami gunakan untuk penyelidikan. Jadi kami mohon maaf jika kami sementara waktu belum bisa mengembalikan pada Pak Hendra." Tutur Polisi Ajay.
"Saya tidak keberatan Pak jika semua itu masih di perlukan untuk bukti."Ujar Hendra.
"Kalau sekiranya Pak Hendra punya waktu bisa ikut saya ke kantor, untuk melengkapi data data dan keterangan yang kami perlukan."Seru Polisi Ajay.
__ADS_1
"Tentu Pak, dengan senang hati."Jawab Hendra.