
Acara sudah di tentukan, undangan juga sudah di sebarkan. Dalam waktu kurang dari empat hari mereka berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan pernikahan.
"Gimana persiapanya jeng?" tanya Shinta pada pihak WO.
"Semua sudah hampir siap 80 persen. Jeng tenang saja semua akan sempurna saat hari H." Tutur mbak Mei.
"Saya percaya sama kinerja kalian. Silahkan lanjutan." Shinta pamit.
Sore ini nenek Dani di bawa pulang, dengan syarat harus rawat jalan. Keluarga Shinta merasa senang dengan kepulangan ibunya.
"Shin, ajak Maria datang ke rumah, aku ingin bertemu dengannya."
"Iya bu, nanti aku minta Dani untuk menjemputnya." Ucap Shinta, saat membantu ibunya naik kursi roda.
Dani sudah menunggu di depan pintu rumah sakit. Sedangkan Johan menyelesaikan administrasi di kasir.
"Dani nanti jemput Maria ya setelah antar kami nanti." Pinta Shinta.
"Ok mama."
"Gimana persiapanya Shin?"
"Hampir 80 ℅ bu. Tenang saja ibu gak usah ikut mikir ya... semua kita sudah serahkan pada WO."
"Dani, lebih baik jangan bertemu dengan Maria dulu, ini kan acaranya tinggal 2 hari lagi. Seharusnya kalian sekarang sedang di pingit."
"Tadi yang nyuruh jemput Maria kan ibu sendiri."
__ADS_1
"Iya maaf ibu tadi lupa jangan marah ya maklum sudah pikun."
Dani tertawa mendengar percakapan antara mamanya dan nenek.
"Nenek tidak pikun, tapi sering lupa ma..." celetuk Dani sambil melihat sang nenek dari kaca spion.
"Sama aja itu mah..." ucap nenek memanyunkan bibirnya.
Semua dalam mobil tertawa terbahak bahak.
Di rumah Maria.
Tidak ada aktivitas yang terlihat, semua seperti biasa, beberapa keluarga yang datang dari luar kota mereka menginap di hotel yang akan di jadikan acara resepsi. Begitupun juga dengan keluarga Dani.
"Mar, ini gaun yang akan kamu gunakan besok saat ijab kabul. Kamu coba dulu ya nanti kalau ada yang kurang cocok masih ada waktu untuk merombaknya." Kata mamanya Maria. Tanpa berkomentar Maria langsung pergi ke kamar mandi, ganti baju.
"Masya Allah... kamu cantik sekali nak. Semua orang akan kagum melihat kecantikanmu. Semoga kamu bahagia selalu ya..." ujar Ana yang kagum dengan kecantikan Maria.
"Ma, kenapa sejak semalam perasaanku tidak enak ya? rasanya aneh." Maria mengeluh pada Ana dengan wajah yang bingung.
"Tapi ini beda ma!" bantah Maria.
"Mama harap kamu jangan mikir yang aneh aneh. Lebih baik sekarang kamu tidur dulu ya, besok pagi kita harus sudah siap." Seru sang mama.
Maria menurut apa kata mamanya, ia pun merebahkan diri di atas tempat tidur, berusaha masuk ke alam mimpi.
"Malam sayang...." Ana mengecup pipi Maria, dan matikan lampu kamar.
****
"Dani, cepetan! nanti kita telat low!" seru nyonya Shinta, yang berteriak dari lantai bawah. "Ma, bisa nggak, mama nggak teriak teriak. Malu di lihat orang." Ucap Johan, yang merasa risih dengan suara nyaring istrinya. Shinta tak menggubris omongan suaminya. Ia langsung pergi ke kamar Dani.
__ADS_1
"Johon tolong ibu!"
"Iya Bu, ibu mau ngapain?" Johan membantu mertuanya untuk berdiri.
"Ibu mencari kado yang ibu pegang tadi." Johan ikut mencari benda yang di maksud. Saat merabah di bagian samping kursi roda.
"Apa ini yang ibu maksud?" tanya johan seraya menunjukkan barang yang ia temukan.
Nenek tersenyum dan mengambil kotak itu. "Ini adalah hadiah untuk Dani dan Maria. Sepasang cincin milik ibu dan almarhum bapak dulu. Ibu menyimpanya dengan baik agar suatu saat bisa ibu berikan. Ibu ingin melihat Dani mememberikan cincin ini pada Maria." Ujar nenek Dani.
"Nanti ibu bisa memberikannya saat acara di mulai. Lebih baik kita sekarang ke mobil dulu bu." Johan mengajak ibu mertuanya menunggu di mobil.
Di kamar Dani.
"Ya ampun Dani apa yang sedang kamu lakukan? kita nanti telat low," gerutu Shinta. Dani yang sedang siap siap tak merespon perkataan Shinta.
Shinta mulai geram karena di acuhkan oleh Dani. "Dani! kamu dengar Mama gak sih? dari tadi Mama ngomong gak di tanggepin. Apa kamu pikir Mama ini radio rusak hah??"
"Shuttt. Mama gak usah marah marah lagian acaranya kurang 2 jam lagi, kita masih ada waktu. Nanti kalau Mama marah marah terus make up mama rusak low!" Dani meletakan ujung jari telunjuk di bibirnya sendiri. Tanpa protes Shinta diam. Dalam hati Dani dia menertawakan Mamanya yang takut riasan di wajahnya hilang.
Setelah selesai bersiap, "Kamu sangat tampan Dani... dengan baju ini. Semoga Allah selalu melindungimu dan menjaga kamu." Shinta menitikan air mata saat melihat Dani yang sudah siap dengan baju pengantin adat jawa. Dani mengusap air mata mamanya.
Dani menggandeng tangan Mamanya menuju mobil. Senyum bahagia di wajah keluarga besar Johan. Kini mobil mereka sudah mulai jalan menuju Hotel tempat ijab kabul dan resepsi di adakan.
Jalanan di pagi hari itu macet, karena ada kendaraan yang mogok di tengah jalan.
"Maaf Pak di depan ada kontainer yang sedang mogok, jika kita terjebak di sini kita akan terlambat tiba di sana." Ujar sopir Johan.
"Pak, kita bisa lewat sini saja." Usul Dani menunjuk ke arah kiri jalan.
"Tapi den, jalan itu menurun tajam, di tambah semalam turun hujan." Jelas Pak Joko.
__ADS_1
"Kalau lewat situ gak macet dan kita bisa cepat sampai sana kenapa nggak." Sahut Nenek Dani.
"Iya pak, betul juga kata Ibu. Kita lewat jalan itu saja. Yang penting bawa mobilnya hati hati." Ujar Johan, Pak Joko akhirnya menurut kata majikannya. Walaupun sesungguhnya ia tidak ingin lewat jalan yang sudah terkenal sering terjadi kecelakaan dan banyak menelan korban jiwa.