
"Terus Papa mau menjodohkan dia dengan siapa? jika di tempat ini sudah tidak ada lagi pemuda yang mau sama dia?"
"Papa yakin akan segera menemukanya dalam waktu dekat ini, sebelum ulang tahun Maria tiba." Hendra sangat percaya diri dengan kata katanya
"Terserah Papa, mama cuma mau yang terbaik buat Maria dan keluarga kita." Ucap Ana menurut, Hendra melihatnya tersenyum tipis.
"Papa hari ini ada meeting dengan klien dari luar negeri. Mungkin Papa akan pulang lambat, jadi Mama gak usah menunggu Papa pulang." Seru Hendra, saat mengambil tas kerja.
Ana mengangguk, dan mengantar Hendra ke depan rumah.
"Ya udah Papa berangkat dulu." Pamit Hendra, satu kecupan mendarat di kening Ana.
"Hati hati Pa." Ucap Ana, dengan mencium punggung tangan suaminya.
Maria memperhatikan kemesraan kedua orang tuanya dari balkon kamarnya.
"Papa dan mama yang di jodohkan bisa hidup bahagia sampai saat ini. Jadi aku tidak ada alasan untuk menolak keinginan papa." Gumam Maria yang hanya bisa ia dengar sendiri.
Hendra sudah sampai yang sudah di rencanakan untuk meeting. Beberapa klien sudah datang, tinggal menunggu tamu yang dari luar negeri. Tak selang berapa lama rombongan dari Italy datang.
Hendra menyambut kedatangan mereka, karena pengusaha dari Itali itu adalah asli orang Indonesia maka Hendra tidak perlu susah payah untuk mentranslite bahasa.
"Selamat datang kembali di Indonesia Tuan Samuel. Mari kita langsung saja mulai meeting kita hari ini. Karena kami tau Anda bukan tipe orang yang suka basa basi. Mari silahkan di mulai!" kata Hendra dengan mempersilahkan mereka semua duduk.
Meeting di laksanakan selama 4 jam. Setelah meeting selesai mereka menikmati jamuan yang sudah di siapkan Hendra. Dan yang terakhir bermain golf dan makan malam.
"Terima kasih atas jamuan yang Anda berikan, saya sangat terkesan." Ujar Samuel.
__ADS_1
"Seharusnya saya yang berterima kasih karena sudah mau kerja sama dengan Perusahaan kami." Kata Hendra.
"Tentu saja, karena perusahaan Anda salah satu perusahaan yang besar di negara ini. Saya yang sepatutnya bersyukur mendapat kesempatan kerja sama dengan Anda." Ucap Samuel.
Setelah kepergian Samuel, para klien satu persatu ikut pulang.
"Ok Pak... sekarang kita sudah bisa pulang, aku ingin segera istirahat." Ajak Hendra pada supirnya. Pak Sueb tersenyum mengangguk dan segera membukakan pintu mobil untuk Hendra.
Hari sudah larut malam saat mereka mulai melajukan mobil. "Ini sudah larut Pak, kita harus lebih hati hati dan waspada." Seru Hendra, dengan memperhatika keadaan jalan.
Tak berapa lama kemudian tiba tiba di tengah jalan mobil Hendra di hadang perampok. Jumlah mereka tidak sedikit, "Mungkin ini masih sama dengan yang sudah lama mengincar kita." Ucap Pak Sueb dan di jawab anggukan oleh Hendra.
Mereka sangat tau Hendra Adi Winata orang terkaya di kota itu yang memiliki tambang emas.
"Bagaimana ini Tuan? mereka jumlahnya banyak, kita tidak mungkin bisa melawan." Ucap Sueb lagi.
Satu perampok memukul pintu.
"Keluar kalian!" bentak laki laki bertopeng itu dengan menodongkan pisau tajam. Hendra dan Sueb keluar.
"Serahkan semua yang kalian punya atau kalian milih mati?" perampok itu memberi pilihan pada mereka.
"Ambil saja semua milik kami." Ucap Hendra dengan memberi semua yang mereka mau termasuk hp, jam tangan dan
mobil yang digunakan.
Beberapa kartu yang penting dan kartu atm sudah di simpan di dalam sepatu yang mereka gunakan. Pengalaman yang mengajarkan Hendra dan Sueb untuk menyimpan barang penting di tempat yang aman, saat mereka pulang tengah malam.
__ADS_1
Sebenarnya mereka membawa senjata, namun jumlah perampok yang banyak, membuat keduanya ragu untuk melakukan perlawanan.
Semua perampok akhirnya pergi, setelah mendapatkan apa yang mereka mau.
Hendra dan Sueb tertawa terpingkal pingkal melihat kebodohan para perampok tadi. Karena sebelum mereka keluar dari mobil tadi, Hendra sudah memberi tahu pihak kepolisian. Dengan alat pelacak yang ada dalam mobil, maka dengan mudah pihak polisi melacak keberadaan mereka.
Setelah puas tertawa, Sueb langsung memperhatikan sekeliling. Mereka tepat berada di depan area pemakaman.
"Tapi, maaf Pak, ini kita sekarang ada di depan area pemakaman, ini juga sudah malam bagaimana cara kita untuk pulang? tidak akan ada orang yang lewat malam seperti ini apalagi ini malam jumat kliwon." Ujar Sueb.
"Betul juga, kita jalan saja dulu, siapa tahu nanti ada yang lewat dan mau memberi tumpangan." Ucap Hendra.
Mereka berdua terus berjalan sampai kecapek'an. Tepat berada di depan masjid mereka berhenti.
"Pak, lebih baik berhenti di sini dulu, gak terasa sudah hampir satu jam kita jalan. Tapi tidak ada satupun orang atau kendaraan yang lewat. Lama lama putus juga kakiku Pak." Seloroh Hendra, dengan membungkukkan badan karena lelah.
"Iya Pak, mari kita duduk dulu, sebentar lagi pasti ada orang yang datang." Ucap Sueb. Hendra melihat jam yang ada di dinding depan pintu masjid. Baru pukul 2 pagi.
"Sebentar apa Pak? ini masih jam 2 pagi." Protes Hendra. Sueb hanya tersenyum menanggapi kata majikannya. Mereka merebahkan tubuh di kursi yang ada di halaman masjid.
Di rumah Hendra.
Ana belum bisa memejamkan mata, karena pikiranya cemas. Sudah berulang kali mencoba menghubungi suaminya namun tidak di angkat. Maria yang terbangun karena haus, heran melihat mamanya sedang mondar mandir di ruang tamu, iapun turun.
"Mama kenapa belum tidur? ini sudah hampir pagi low Ma." Tanya Maria.
"Mama menunggu papa, entah mengapa papa sampai sekarang belum juga pulang. Padahal tadi jam 12 papa telfon Mama, bilang meetingnya udah selesai. Dan kata papa akan langsung pulang, seharusnya sekarang papa sudah sampai rumah. Tapi kenapa belum sampai juga, Mama khawatir terjadi sesuatu sama papa." Maria mendekati mamanya dan memeluknya dari belakang. "Mama jangan khawatir ya, mari kita berdoa agar papa baik baik saja." Seru Maria.
__ADS_1