Menikah Karena Terpaksa

Menikah Karena Terpaksa
Jodoh Maria


__ADS_3

Beberapa orang sudah berdatangan ke masjid. Beberapa di antaranya melihat ke arah Hendra dan Sueb yang tengah tertidur pulas. Imam masjid yang sedang lewat mengehentikan langkahnya.


"Assalammualaikum... saudara bangun, saudara." Seru Pak Imam. Sueb terbangun, dengan mata yang belum sempurna membuka, "Apa bu, nanti aja bangunkan Ayah, sekarang Ayah masih ngantuk." Racau Sueb, yang kembali menutup mata. Pak Imam geleng geleng, "Assalammualaikum." Ucap Pak Imam lagi. Merasa Aneh, "Mana mungkin ibu membangunkan aku mengucap salam?? tunggu coba ku lihat lagi." Pelan pelan Sueb membuka matanya. Seorang laki laki dengan baju rapi berdiri di depanya. Refleks Sueb langsung duduk dan menjawab salam. "Walaikumsalam." Ada sedikit rasa malu di hati Sueb. "Maaf mengganggu tidurnya, tapi saya cuma mau mengingatkan ini sudah subuh, mari kita sholat dulu. Saudara islamkan?" tanya Pak Imam, Sueb mengangguk pelan. "Kalau begitu mari kita masuk." Ajak Pak Imam. "Iya Pak, tapi saya bangunkan majikan saya dulu." Ujar Sueb. "Oh berarti laki laki yang tidur itu majikannya." Gumam seseorang yang ada di belakang Pak Imam. Hendra yang kala itu tidur dengan menutup wajahnya dengan jas yang ia gunakan.


Setelah Sueb berhasil membangunkan Hendra, semua mata terkejut melihat orang nomer 1 di kota tidur di halaman masjid. Banyak tanya di hati mereka, Pak Imam mengajak mereka untuk wudhu terlebih dahulu. Tak lama kemudian seseorang mengumandangkan Adzan. Dengan kusyuk dan kidmat jemaah menjalanlan sholat. Setelah selesai Pak Imam, Sueb, Hendra tiga orang lainya tidak langsung pulang.


"Maafkan saya, jika saya ingin tahu apa sebabnya Pak Hendra bisa tidur di sini?" tanya Pak Imam, yang kini mereka sudah duduk membuat lingkaran.


"Kami baru kerampokkan Pak." Ucap Sueb. Hendra kemudian menceritakan kronologinya.


"Innalilahi wa inna lilahi rojiun." Ucap mereka serempak.


"Dan kami tidak bisa pulang, semua sudah di ambil mereka." Tambah Sueb.


"Sabar menghadapi ujian dariNya, karena semua yang kita miliki bukanlah milik kita, itu semua hanya titipan." Tutur Pak Imam.


"Bagaimana jika saya antar pulang? kebetulan saya juga mau ke arah sana, sekalian." Usul Wisnu.


"Alhamdulillah, terima kasih." Ucap Hendra.


"Tidak perlu sungkan begitu Pak Hendra. Kita sebagai warga harus saling membantu, mari kita berangkat. Pak Imam saya permisi dulu." Pamit Wisnu, di susul dengan Hendra dan Sueb. Mereka berempat pun akhirnya pergi dari masjid.

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Perkenalkan Pak ini anak saya Surya, dia baru pulang dari Jakarta." Ujar Wisnu. Surya mengulurkan tangan pada Hendra dan Sueb.


"Sudah kerja? apa masih kuliah?" tanya Hendra.


"Kerja." Jawab Surya singkat.


"Sudah menikah? apa sudah punya pacar?" Hendra mulai introgasi. Sueb mencium sesuatu dari majikanya, dia hanya senyum tipis.


"Pacar saja dia tidak punya, apalagi menikah Pak, anak saya ini hanya sibuk kerja sampai mamanya di rumah sudah pusing menyuruh dia segera ke menikah tapi dianya gak mau." Wisnu sangat antusias menceritakan anak semata wayangnya itu. Sedangkan si empunya, diam tanpa memperdulikan Papanya bicara kayak burung beo.


"Kebetulan sekali, kalau di lihat dari penampilan ok juga, tinggi, tegap, tampan pasti sangat cocok dengan Maria, semoga saja ini memang jodohnya Maria. Tapi aku akan mencari tau dulu seperti apa mereka."Batin Hendra, yang terus melirik ke arah Surya.


"Alhamdulilah, akhirnya sampai rumah." Ucap Sueb, Hendra tersenyum mendengarnya.


"Saya sungguh berhutang budi pada Anda, terima kasih atas tumpanganya. Dan saya akan lebih berterima kasih lagi jika Anda berkenan untuk mampir dulu." Seru Hendra.


Wisnu dan Surya akhirnya mau mampir ke rumah Hendra, setelah di bujuk Sueb.


Tok tok tok.

__ADS_1


Ana dan Maria yang tengah tertidur di sofa langsung bangun setelah mendengar ada yang mengetuk pintu.


"Mungkin itu papa Ma?" ucap Maria. "Mungkin juga." Kata Ana, yang berjalan menuju pintu, di ikuti oleh Maria. Ana membuka pintu, melihat siapa yang datang Ana langsung memeluk Hendra, tak menghiraukan ada orang lain di sana.


"Ma sudah dong, gak enak di lihat tamu kita." Bisik Hendra, membuat Ana sadar bahwa di belakang suaminya ada 3 pasang mata yang sedang melihat mereka. Seketika wajah Ana memerah dan ia melepaskan pelukanya. Maria hanya bisa tertawa kecil melihat kedua orang tuanya.


"Kenapa kamu gak bilang kalau ada orang lain?" gumam Ana pada Maria. "Mama aja yang main peluk Papa, gak di lihat situasinya dulu." Desis Maria.


Saat mendengar suara merdu di belakang Ana, hati Surya bedetak kencang. Ia pun penasaran dengan pemilik suara itu. Dia menggeser tubuhnya sedikit agar bisa melihatnya.


Gadis cantik dengan wajah khas bangun tidur begitu sangat alami, rambut yang bergelombang dengan panjang hampir sepinggang, hidung yang mancung dan postur tubuh yang tinggi sekitar 165 dan mungkin berat badanya sekitar 70 Di lihat sekilas mungkin usianya 25 tahun. Surya terus memperhatikan dan menilai setiap inci tubuh Maria dari atas ke bawah, hingga tanpa sadar semua orang yang di situ memperhatikan dia juga.


"Kau sedang apa? lihatlah semua orang sedang melihatmu." Bisik Wisnu tepat di telinga Surya, dan itu berhasil membangunkan surya dari alamnya.


Hendra yang melihat tatapan Surya pada Maria itu, semakin membuatnya semangat untuk segera mencari tahu tentang keluarga Wisnu. Karena sebagai seorang laki laki dia tau maksud dan arti dari tatapan Surya.


Mereka di persilahkan masuk, Ana segera meminta Bik lastri untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan dia membuatkan minum untuk tamunya.


Maria beranjak menuju kamarnya, Surya terus memperhatikan langkah kaki dari Maria sampai hilang dari pandangan. Hendra dan Sueb yang tau hanya senyum tipis.


"Surya, ada apa? kok muka kamu gitu?" tanya Wisnu setelah sadar Surya manyun.

__ADS_1


"Pasti karena Maria pergi... tenang saja dia pergi cuma mau mandi, nanti kalau sudah selesai pasti dia turun." Tutur Hendra yang membuat Surya jadi salah tingkah.


"Bagaimana Om Hendra tau aku sedang kesal karena anaknya. Atau jangan jangan Om Hendra peramal." Batin Surya yang melirik ke arah Hendra.


__ADS_2