Menikah Karena Terpaksa

Menikah Karena Terpaksa
Rencana


__ADS_3

"Kenapa pulang malam Mar?"tanya Ana, yang melihat Maria membuka pintu.


"Eh, Mama... aku baru ke taman kota Ma, gak jadi pergi Mall."Jelas Maria.


"Low, tadi kata bibik kamu pergi ke Mall, apa yang terjadi? sehingga dari Mall berubah ke Taman kota."Penasaran Ana, dan kini ia ikut duduk bersama Maria.


"Tadi pas aku lewat Taman, tiba tiba ada beberapa anak kecil menarik perhatianku jadi aku putuskan untuk dengan mengikutinya."Maria jawab dengan jujur. Ana hanya manggut manggut mendengar Maria.


Di kamar.


Kring kring


Hendra mengangkat panggilan di handphone-nya.


"Katakan."Seru Hendra.


"Saya sudah mengirimnya di email Tuan."Ucap Jac.


"Baiklah terima kasih."Hendra segera membuka email yang di maksud Jac. Dia baca dengan sesama informasi yang ia inginkan. Senyum mengembang di bibirnya, "Terima kasih Ya Allah."Ucap Hendra.


Dirumah Surya.


"Kenapa muka kamu biru semua? apa kamu habis di pukuli?"tanya Wisnu yang terkejut melihat Surya pulang dengan wajah yang penuh luka.


"Gak ada yang mukulin aku Pa, cuma tadi aku habis jatuh kesandung."Bohong Surya. Mata Wisnu menyelidik, dagu Surya di gerakkan ke kiri dan ke kanan. Surya mulai cemas, dia takut kalau sampai Papanya tidak percaya.


"Bener kamu habis jatuh? Papa bukan anak kemarin sore yang bisa kamu bohongi. Cepat obati lukamu, atau kalau gak nanti Papa yang nambah lukamu!"Gertak Wisnu, dengan matanya tajam. Surya yang merasa bersalah, hanya bisa menurut dan langsung pergi membersihkan lukanya.

__ADS_1


Didalam kamar mandi Surya pelan pelan membersihkan lukanya di depan cermin besar yang ada didalamnya. Beberapa kali bayangan Maria melintas di cermin saat menjulurkan lidah, dan beberapa kali itu juga Surya menghentikan aktivitasnya. Dia tertawa sendiri kala mengingat kejadian di Taman. "Dasar gadis aneh."Gumam Surya dengan senyum tipis.


_______


Wisnu datang ke kantor Hendra atas undangan semalam.


"Ada apa kiranya Pak Hendra ingin bertemu denganku?"gumamnya saat di dalam lift.


Ting.


Lift terbuka,


Wisnu bertanya pada karyawan yang tak jauh dari lift.


"Permisi, di manakah ruangan Pak Hendra."


"Terima kasih." Hendra langsung berjalan menuju tempat yang di tunjuk.


"Permisi apa Pak Hendra ada?"


"Pak Wisnu?"tanya Sisi, sekretaris Hendra. Hendra mengangguk, Sisi langsung mengantar Wisnu ke ruangan Hendra.


Tok tok


"Masuk."Sahut Hendra. Wisnu pun masuk.


"Pak Wisnu, silahkan masuk. Maaf jika anda harus repot repot datang kemari. Mari silahkan duduk."Seru Hendra.

__ADS_1


"Langsung saja ya Pak, pada alasan saya menyuruh anda datang ke sini."


"Iya Pak silahkan."Ucap Pak Wisnu.


"Saya mempunyai keinginan untuk menjodohkan Surya dengan Maria anak saya, seandainya Pak Wisnu berkenan."Tutur Hendra.


Antara bahagia dan bingung, Wisnu hampir tidak percaya dengan ucapan Hendra.


"Apa Pak Hendra serius? Pak Hendra belum mengenal keluarga kami, bagaimana mungkin Anda mau menyatukan keluarga tanpa mengenal dulu siapa kami?"tanya Wisnu serius. "Saya sudah mengetahui siapa Anda dan seperti apa keluarga Anda, itu adalah hal yang mudah bagi saya. Jadi gimana, apa Anda mau menjodohkan anak kita?"Hendra menatap Wisnu dengan penuh harap.


"Suatu kehormatan bagi keluarga saya Pak, bisa berbesanan dengan orang nomer satu dikota ini. Saya ingin sekali menerimanya Pak, tapi ijinkan saya untuk berbicara terlebih dahulu pada Surya. Karena bagaimana pun ini adalah hidupnya, saya tidak mau terlalu memaksa dia dalam memilih pendamping hidup. Saya harap Pak Hendra bisa mengerti."Tutur Wisnu dengan penuh hormat.


Hendra tersenyum, "Baiklah saya beri waktu tiga hari untuk memikirkanya. Saya yakin, jika Surya tidak akan menolak perjodohan ini."Ucap Hendra percaya diri.


"Iya Pak, secepatnya saya akan beri jawaban. Kalau begitu ijinkan saya pamit dulu. Permisi." Pamit Wisnu. Hendra berdiri menjabat tangan Wisnu, "Silahkan, ingat ya Pak tiga hari saja."Ujar Hendra, Wisnu menjawab dengan anggukan dan berlalu.


Sepanjang perjalanan Wisnu gelisah, tidak di pungkiri jika lamaran ini sangat membuat dia bahagia, namun dia juga takut jika Surya tidak menyetujuinya maka dia pasti akan merasa malu. Dan takut jika Hendra bisa berbuat apa saja demi apa yang ia inginkan.


Sesampainya di rumah Wisnu segera memanggil istri dan anaknya. Setelah semua sudah kumpul, Wisnu mulai bingung mau bicara. "Ada apa Pa? kenapa kami di kumpulkan di sini sepertinya serius?"tanya Istri Wisnu.


"Pak Hendra, menginginkan agar keluarga kita di persatukan dengan ikatan suci."Tutur Hendra yang membuat Surya dan Mamanya bingung untuk mencerna. "Maksud Papa apa sih? to the point sajalah Pa!"protes Surya. "Iya betul apa kata Surya, Papa langsung aja ngomong intinya itu apa?"seru Mama Surya.


"Ok. Dengarkan baik baik, Pak Hendra ingin menjodohkan Surya dengan putri tunggalnya yaitu Maria." "Uhuk uhk uhukk. Apa Pa? coba katakan sekali lagi!"Surya terkejut hingga tersedak.


"Kamu mau di jodohkan dengan Maria."Ucap Wisnu. Surya merasakan jantungnya berdebar, "Gadis itu mau di jodohkan sama aku? apa gak salah, tapi jujur dia memang cantik. Mimpi apa aku semalam, dapat berita seperti ini?" gumam Surya dalam hati sambil tersenyum.


"Surya, Surya... hai,"Wisnu mengguncang pundak Surya sampai Surya kembali ke alam nyata. "Apa yang kamu pikirkan? hingga membuat kamu menghayal. Apa kamu suka sama anak Pak Hendra? ayo jawab Papa!"desak Wisnu. "Ihhh, apaan sih Pa? siapa juga yang suka sama cewek sombong kayak dia."Decak Surya. "Tapi kamu maukan dengan perjodohan ini??" tanya Mama Surya, yang menyelidik ke setiap inci wajah Surya terutama mata mencari kejujuran. "Terserah kalian."Jawab Surya singkat yang langsung pergi. "Apa menurut Mama dia memang suka sama Maria?"tanya Wisnu lirih. "Kalau menurut Mama dia suka sama gadis itu. Kalau dia tidak suka pasti dia akan menolak seperti yang sudah sudah. Dan lihatlah... kali ini dia menjawab 'terserah kalian' jadi secara tidak langsung ia mengatakan 'Iya' bukan begitu?"

__ADS_1


__ADS_2