
"Iya Pak. Saya paman dari Dani. Sebenarnya ada apa ya Pak." Fadli maju ke depan polisi itu. Fadli mulai cemas begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.
"Kebetulan sekali kalau anda pamannya. Saya ke sini ingin menyampaikan kabar duka bahwa saudara Dani dan ke empat orang lainya mengalami kecelakaan dan mereka meninggal di tempat kejadian."
Bagaikan petir menyambar, semua orang yang ada di aula terkejut.
"Tidak, ini pasti tidak benar," kilah Fadli.
"Maaf Pak, apakah Bapak bisa menunjukkan bukti atas ucapan Bapak?" tanya Viki, yang tidak percaya atas kabar itu. Polisi itu langsung menunjukkan foto sebuah mobil dan kelima korban. Viki akhirnya yakin dengan apa yang sudah ia lihat, kemudian ia membenarkan bahwa yang di sampaikan Pak polisi adalah benar.
Maria pingsan setelah mendengar kata kata viki. Dengan sigap Hendra langsung membawa putrinya ke kamar pengantin dan di ikuti olehAna.
Fadli shock, namun dia sadar sebagai wakil dari mempelai laki laki dia tau apa yang jarus dia lakukan
Fadli yang di ikuti aleh Viki di belakangnya berdiri di atas podium.
"Saya selaku perwakilan dari kedua mempelai, saya ingin terima kasih atas kehadiran anda semua di acara putra dan putri kami. Tapi saya minta maaf karena... pernikahan ini harus di hentikan karena- .... Mempelai pria dan keluarga mengalami kecelakaan dan me-- meninggal di tempat. Kami selaku keluarga korban mohon Al fatihahnya untuk Saudara kami. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar besarnya." Ucap Fadli dan di akhiri dengan membungkukkan badan.
Setelah selesai membaca al fatihah bersama, para undangan akhirnya meninggalkan aula. Hanya tersisa keluarga Dani keluarga Maria, yang larut dalam kesedihan.
__ADS_1
Fadli, Viki, dan Hendra ikut polisi pergi ke rumah sakit. Sedangkan Ana dan beberapa orang masih menunggu Maria yang masih pingsan. "Mama tidak menyangka, jika semua ini akam terjadi padamu nak. Maafkan Mama sayang." Gumam Ana dengan membelai puncak kepala Maria.
Sesampainya di rumah sakit mereka di arahkan menuju ke kamar Jenasah. Ketiga polisi terus mendampingi dan mengarahkan kami.
Fadli membuka penutup tubuh jenasah itu, Bagian wajah yang ia buka, perlahan dengan berat hati ia melihat wajah Johan, wajah sang adik. Hampir saja ia terjatuh karena badannya lemah, tapi Viki yang selalu berada di belakang Fadli dengan cepat ia membantunya berdiri. Kemudian satu persatu ke empat jenasah yang lain di bukanya. Benar lima korban itu adalah mereka... keluarganya.
Karena hanya Fadli saudara kandung dari Johan, maka Fadli yany mengurus mereka hingga proses pemakaman dan di bantu juga oleh Hendra sekeluarga. Bagaimana juga mereka ikut terpukul dengan kejadian naas itu.
Berat rasanya untuk Maria ikut dalam prosesi pemakaman, tapi hatinya memilih untuk ikut mengiringi Dani ke tempat pengistirahatan terakhir.
Maria berderai air mata, ia berusaha tabah dan ikhlas. Di taburnya bunga mawar di atas pusara Dani.
"Maria yuk, kita pulang ini sudah mau hujan." Ajak Hendra.
___________
2 tahun kemudian.
Selama 2 tahun Maria menjadi gadis yang pendiam bahkan dia tidak mau bergaul dengan anak seusianya. Dia menjadi gadis yang tertutup. Setiap hari dia hanya sekolah dan membantu Hendra di tambang. Tidak ada pria yang berani mendekati atau melamar karena status sosial.
__ADS_1
"Mar, 2 bulan lagi kamu berusia 17 tahun, tentunya kamu tau maksudnya?" tanya Hendra. Maria dan Ana yang tengah makan seketika menghentikan aktivitasnya. Di tatapnya wajah Papanya. Hendra keheranan mendapat tatapan dari dua bidadari dalam hidupnya itu.
"Kenapa wajah kalian seperti itu? katakan sama Papa!" seru Hendra
"Pa, bisa tidak aku selesaikan dulu sekolahku Pa---" belum selesai Maria berbicara, tangan Hendra sudah memberi isyarat untuk diam.
"Sekolah bisa kamu lanjutkan, tidak ada yang melarang, namun tradisi di tempat ini harus tetap di lakukan, tidak ada alasan. Dan satu hal lagi, apa kamu sudah punya kekasih yang ingin kamu kenalkan dengan kami sebagai calon pendamping hidup?" tanya Hendra serius.
Maria menggeleng dengan pandangan tertuju pada piring yang di hadapanya. Ana yang melihat expresi putrinya, menepuk tangan Maria.
"Kalau begitu Papa akan mencarikan lelaki yang baik untuk jadi imammu. Percayakan semua pada Papa, Papa akan mendapatkan yang terbaik buat kamu." Janji Hendra.
"Terserah Papa, karena aku tidak punya pilihan kecuali menurut apa kata Papa." Ujar Maria, yang kemudian berlalu pergi dari hadapan orang tuanya.
"Papa cobalah beri waktu untuk Maria memilih pasangannya. Hati Mama sedih melihat sikap Maria seperti itu." Seru Ana, yang sudah menitihkan air mata.
"Bagamana dia mencari pasanganya sendiri? kalau dia sendiri selalu menyendiri dan tidak mau bergaul dengan siapapun. Bahkan 1 pemuda saja tidak berani mendekatinya. Karena sikap dingin dan galaknya Maria sama mereka. Papa hanya tidak mau jika kita kehilangan semua ini karena Maria. Ini semua Papa lakukan untuk masa depan dia juga." Ucap Hendra.
"Terus Papa mau menjodohkan Maria dengan siapa? jika di tempat ini sudah tidak ada lagi pemuda yang mau sama anak kita." Tanya Ana dengan wajah serius.
__ADS_1