
Deni menyiapkan kamar untuk bos nya agar segera bisa beristirahat, melihat betapa lelah bos nya.
Tanpa membuang waktu, Yudha segera beranjak dari duduknya menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Deni,
Setelah membersihkan diri, Yudha merebahkan tubuhnya yang terasa begitu sangat lelah, tak butuh waktu lama, Yudha sudah tertidur dengan nyenyak nya.
Pagi menjelang, matahari yang mulai masuk melalui celah-celah jendela kamar membangunkan Yudha yang masih tertidur karena silaunya cahaya yang mengenai wajahnya.
"sudah siang ternyata," masih enggan untuk bangun dan kembali tidur dengan menutup wajahnya dengan selimut.
Ting,,Ting,,Ting,,
handphone Yudha berdering, dengan malas Yudha menjawab panggilan tersebut, Yudha langsung terduduk dari tidurnya karena terkejut mendengar berita bahwa Yura mengalami pendarahan karena terpeleset di kamar mandi,
"baik aku akan segera pulang" panik dan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Yudha sangat terburu-buru, pikiran nya saat ini hanya Yura saja, tanpa mencari tau dahulu informasi yang baru saja diterima.
sementara di seberang telepon yang baru saja memutuskan panggilan merasa puas dengan rencananya berhasil memancing kepanikan Yudha.
"bagaimana?" tanya seorang wanita yang sedang bergelayut manja di lengan seorang pria yang tadi menelpon Yudha.
__ADS_1
"kau tenang saja, rencana sesuai dengan yang di harapkan." mengecup singkat bibir wanita itu.
"bagus, aku sudah tidak sabar melenyapkan anak itu, dia sangat menggangguku" kesal wanita itu.
"tenang lah Tina sayang, dia tidak akan mengganggumu lagi setelah ini", kembali mengecup dan ******* bibir wanita itu yang ternyata adalah Tina ibu tiri Yudha.
"kau jangan hanya bicara," mendorong paksa laki-laki yang telah menciumnya penuh nafsu.
"ayolah,," mencoba menarik Tina kedalam pelukannya.
"tidak, sebelum kau berhasil menyingkirkan dia untuk ku, aku tidak akan mau kau sentuh" dorong Tina lagi menjauhi pria itu.
"kau tidak percaya padaku!" bentak Marko tidak terima karena Tina menolak bercumbu dengan nya. Marko adalah ayah biologis Raya.
"ayolah, kau masih mengingat nya saja" Marko tampak kecewa.
"tentu saja, bagaimana bisa aku melupakan semua yang telah kau lakukan padaku saat itu,"
"saat aku mengetahui aku tengah hamil Raya, kau malah pergi meninggalkan ku begitu saja," ucap Tina penuh emosi.
"hei sudahlah,, bukankah kau sudah mendapatkan pengganti ku Hem,," memeluk Tina erat.
__ADS_1
"omong kosong!" kembali mendorong tubuh Marko.
"ayolah sayang, aku juga semula kecewa karena saat aku kembali ternyata kau sudah menikah dengan orang lain", memperlihatkan kesedihannya
"heleh,, sandiwara basi!" ketus Tina lagi.
"aku sudah menyelamatkan putri kita, wajar jika aku masih mengharapkan kehangatan dari mu" ucap Marko dengan tidak tahu malu.
"kau memang menyebalkan, " maki Tina tidak terima dengan ucapan Marko.
"Raya itu putri kandungmu, bagaimana bisa kau malah minta balasan dari apa yang sudah kau lakukan untuk nya." kesal Tina tidak habis pikir dengan pemikiran Marko.
"ya memang benar, Raya adalah putri ku, tapi apa kau lupa jika raya hanya menganggap Rony lah ayahnya, bukan aku" berang Marko tak terima.
"dan aku tidak akan pernah memberi tahu Raya kalau kau adalah ayah kandungnya" tegas Tina.
"kau memang perempuan licik Tina" senyum mengejek Marko.
"terserah, aku hanya ingin putriku mendapatkan masa depan yang cerah karena masuk dalam daftar waris keluarga Raditya,"
"kau sangat ambisius sekali Tina,"
__ADS_1
"aku tidak perduli," bergegas pergi meninggalkan Marko dan menuju mobilnya untuk kembali ke rumah sakit menemani Raya putrinya.