
Deni mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, menuju kantor bersama Yudha, disepanjang jalan Yudha hanya diam menuju kantornya.
Sampainya di kantor, Yudha langsung masuk, di ikuti oleh Deni dibelakangnya.
sapaan dari semua karyawan nya hanya angin lalu bagi nya, seperti biasa hanya mengangguk kan kepala sebagai jawaban tanpa senyum sedikitpun.
"Lisa, apa saja jadwal saya hari ini,?" tanya Yudha ketika sampai di meja sekertaris nya.
Melihat pemilik perusahaan sudah datang dan berada dihadapannya, Lisa langsung berdiri dan membacakan semua jadwal Yudha yang ternyata sangat padat.
"atur semuanya sesuai jadwal," dan berlalu masuk kedalam ruangannya.
Yudha kembali berkutat dengan laptopnya, dan tak lupa pula dia melihat monitor cctv tersembunyi yang berada dirumahnya,
Yudha selalu mengawasi Yura dari kantor, hanya ingin memastikan istri kecilnya baik-baik saja, Mengingat perlakuan mama tiri nya yang tidak menyukai Yura, dan Yudha juga memberikan penjaga bayangan untuk Yura jika Yura berada di luar rumah.
Benih-benih cinta mulai bersemi dalam hati Yudha, entah sejak kapan Yudha mulai jatuh cinta dengan istrinya, terlebih lagi ketika saat Yudha menemani Yura ke panti asuhan,
Yudha melihat sisi lain dari Yura yang selalu membangkang ketika beradu argument, dan hari itu Yudha menyadari betapa Yura berhati malaikat, dari jumlah uang yang diberikan Yudha, hanya sedikit saja yang dipergunakannya untuk membeli keperluan nya, dan sisanya semua di berikan kepada orang lain.
Senyum Yudha tak pernah pudar, tatkala mengingat Yura,
"ahh,,manis sekali" Yudha berkata dalam hati.
Dan itu semua ternyata sudah diperhatikan oleh Deni yang melihat gelagat aneh tuannya yang senyum-senyum sendiri,
" sepertinya tuan sedang jatuh cinta" Deni berkata dalam hati.
"hei,,apa yang kau lihat" Yudha menatap tajam Deni.
"tidak ada tuan" Deni gelagapan setelah ketahuan memperhatikan tuannya..
sambil bekerja Yudha sesekali melihat layar monitor cctv,
"apa yang dilakukan wanita itu lagi", batin Yudha melihat Dinda datang kerumah dan disambut hangat oleh Tina.
Yudha masih terus mengawasi kedua wanita yang berbeda usia itu, sampai sebuah ketukan mengganggu nya,
"masuk," jawab Yudha.
"pak, 5menit lagi meeting dengan pak jaya,, ucap Lisa ketika sudah menghadap bos nya.
"baiklah,,kali boleh keluar,"
"den, siapkan semua berkas nya," titah Yudha setelah melihat Lisa keluar dari ruangannya, dan Yudha bersiap untuk pergi menghadiri meeting.
Namun saat hendak keluar, Yudha melihat sekilas layar monitor nya, dan seketika Yudha membelalakkan matanya,
"apa-apaan mama dengan Dinda, mengapa mereka menggedor-gedor pintu kamarku," batin Yudha geram.
"Deni, kau pergilah dulu, nanti aku akan menyusul,," titah Yudha kepada Deni agar lebih dulu menghadiri meeting.
"tapi tuan,," Deni ragu untuk bertanya.
"istriku, jauh lebih penting saat ini," tegas Yudha.
"apa yang terjadi dengan nona tuan?" tanya Deni penasaran.
__ADS_1
"sepertinya si wanita menyebalkan itu masih saja menganggu Yura," kesal Yudha.
"apa perlu saya mengurusnya tuan?"
"tidak perlu, kau urus saja meeting hari ini,
"aku yang akan mengurus mama dan wanita menyebalkan itu," tegas Yudha.
setelah itu, Deni pergi meninggalkan ruangan Yudha, dan menuju ruang meeting.
"loh pak Yudha nya, mana pak?" tanya Lisa bingung
"tuan Yudha ada urusan penting, sehingga tidak bisa menghadiri meeting hari ini, dan saya yang akan mewakili tuan," jelas Deni panjang lebar .
Lisa mengangguk kan kepala nya, tanpa bertanya lagi, pasalnya Deni juga sama dinginnya dengan Yudha,
dan itu tadi adalah ucapan Deni yang paling terpanjang yang pernah di dengar Lisa.sangat luar biasa, pikir Lisa.
Di ruangan Yudha tampak sedang mengawasi kedua wanita itu, Yudha memperbesar volume suara, agar bisa mendengar langsung apa yang mereka bicarakan.
sementara dikediaman keluarga Raditya, Tina dan juga Dinda datang ke kamar Yura dan menggedor pintu kamar sangat keras.
merasa terganggu, Yura segera membuka pintu,
"hufh,, Yura membuang nafas nya panjang dan memutar bola matanya jengah.
"jam segini kamu masih tidur," bentak Tina.
"mama kalau datang hanya untuk membuat keributan, mending mama pergi aja deh, yura capek ma,,mau istirahat,,ucap Yura malas.
"apa kamu bilang,,berani kamu mengusir nyonya dirumah ini," teriak Tina tak terima.
"mimpi kamu," berang Tina.
"kenyataannya memang seperti itu ma,
"kenapa sih mama ga pernah baik sama aku,
"salah aku apa ma,?" Yura tak habis pikir dengan mama mertua nya yang selalu mencari masalah dengan nya.
"kamu tanya, salah kamu dimana? hah?"
"kesalahan kamu adalah menikah dengan Yudha. ucap Tina menggebu menahan emosi yang memuncak.
"mengapa mama harus marah sama aku,,
"tanyakan semua nya dengan mas Yudha, Yura juga ga tau alasan apa mas Yudha mau menikahi Yura, tegas Yura.
"alah,,ga usah sok merasa tersakiti deh Lo,,
"Lo kan yang menjebak Yudha biar bisa nikahin Lo,,basi tau rencana Lo," Dinda ikut menimpali.
Yura menatap tajam Dinda dengan jengah.
"heh,,nela, aku ga ngomong sama kamu ya,, sela Yura kesal.
"siapa nela,,"tanya Dinda.
__ADS_1
"nela itu kamu,,nenek lampir,," ketus Yura.
"kurang aja kamu ya,," Dinda tak terima.
Tina juga ikut serta menyerang Yura, dan mendorong tubuh Yura hingga mundur beberapa langkah,
"stop,,!!!?" teriak Yura.
"cukup ma,,Selama ini Yura diam, karena Yura mengormati mama, tapi sepertinya itu tidak perlu lagi,
"kita lihat siapa yang akan menang,,Yura memulai ancang-ancang nya untuk menyerang balik kedua wanita yang merepotkan itu.
tanpa ba bi bu, Yura langsung mendorong tubuh Dinda, hingga terjengkang kebelakang, karena serangan Yura yang tiba-tiba, membuat Dinda terkejut dan tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, hingga jatuh terjengkang,
"auw,," dinda mengerang kesakitan, terasa nyeri di pinggul dan juga bokong nya akibat terjerembab dengan lantai.
"Dinda, kamu ga apa-apa,," Tina khawatir.
" tolongin Dinda Tante,," rengek Dinda manja.
"huh,,dasar nenek lampir,,gitu aja merengek,,manja,," ejek Yura.
Tina tak menghiraukan ejekan Yura, dia fokus menolong Dinda yang kesakitan, akibat dorongan Yura yang kuat.
"ayo sayang,,kita keluar,," Tina menuntun Dinda keluar dari kamar Yura,
"aku akan buat perhitungan nanti,," ancam Tina dan berlalu dari kamar Yura.
Yura hanya memandangi punggung mereka hingga tak terlihat lagi,
sepertinya mood Yura tidak bagus hari ini, biasanya jika dia merasa badmood, Yura berkumpul dengan teman-teman nya,
"ah,,sebaiknya aku bersiap-siap untuk pergi menemui Sule dkk, setelah itu minta izin mas Yudha." Yura berkata dalam hati.
Dikantor Yudha terus memperhatikan layar monitor, rasa geram menyelimuti hati nya, setelah melihat dan mendengar apa yang ada dilayar monitor.
tak berselang lama, handphone Yudha berbunyi,
"wa'alaikumussalam,," jawab Yudha.
"mas,,aku izin jalan sama Sule boleh?" pinta Yura diseberang telepon.
"pergi diantar supir,
"ga perlu mas, Yura naik motor aja",
"kenapa mesti naik motor,?"
"mas, Yura cuma mau jalan sama Sule, ga kemana mana kok, " Yura memberi alasan.
"ya sudah, hati-hati,," Yudha pasrah dengan kemauan istrinya.
"makasih mas ganteng,, assalamualaikum,," ucap Yura senang dan menutup Panggilan telepon nya.
meskipun Yudha sudah memberikan izin, bukan berarti Yudha tidak mengawasi Yura.
Yudha menghubungi salah satu anak buahnya untuk melindungi Yura secara sembunyi.
__ADS_1
Tanpa Yura ketahui, Yura selalu dalam pengawasan Yudha.