
Hujan gerimis membasahi bumi, padahal baru saja tadi masih terlihat sang mentari bersinar, tampaknya cuaca hari ini tidak cukup baik, tapi tidak dengan sepasang manusia yang sudah tak lagi muda masih sanggup memadu kasih diatas penderitaan orang lain.
Siapa lagi kalau bukan Tina dan mantan kekasihnya Marko, sungguh manusia tidak beradab mereka ini, Tina yang sudah bersuami malah sibuk menjajakan tubuhnya hanya demi sebuah ambisi, tidak pernah sekalipun dirinya merasa bersalah dan berdosa.
Hanya harta dan harta saja yang ada di dalam kepalanya, dia tidak pernah memikirkan dosanya yang sudah menggunung, segala cara dia lakukan demi untuk tercapai keinginan nya, sungguh istri yang durhaka.
"Tina sayang,,kau memang memuaskan" ucap Marko sambil membelai pipi Tina lembut setelah selesai melakukan adegan panas bersama nya.
"kau juga sangat perkasa,,aku sampai kewalahan" ucap Tina puas.
"kapan kau akan bercerai dengan tua Bangka itu?"
"kau sabarlah,,jika aku bisa mengambil ahli harta Raditya, aku akan segera membuangnya, dan kembali kepada mu"
"aku sudah tidak sabar menantikan itu"
"aku dengar dia sedang melakukan perjalanan bisnis di luar negeri"
"ya kau benar, tapi asisten sialan itu tidak mengizinkan ku masuk kedalam kantornya", kesal Tina.
"bagaimana kalau kita singkirkan juga asisten itu" tawar nya pada Tina.
__ADS_1
"kau atur saja lah, aku tinggal terima beres saja"
"kau punya foto asisten itu?"
"tunggu sebentar, aku akan mencarinya dulu" Tina langsung mengambil handphone nya dan mengotak Atik nya mencari foto Leon.
sambil menunggu Tina mencari foto asisten Rony, Marko tak henti-hentinya membelai tubuh Tina, rasanya dia tidak pernah merasa puas dengan penyatuan yang mereka lakukan berulang ulang.
"bisa diam tidak, kau mengganggu ku" kesal Tina.
"ayolah sayang,,selagi suami mu itu tidak dirumah, kita habiskan malam panjang penuh cinta untuk kita berdua.
"jangan ganggu aku, aku sudah lelah, setelah ini, aku akan kembali kerumah sakit, menemani Raya" tegas nya.
"oke,,oke,,baiklah,," ucap nya sambil mengangkat kedua tangannya.
Tina hanya melengos melihat sepintas wajah Marko yang kecewa dan juga menahan hasrat yang sudah mulai naik.
Tina tidak perduli, karena dia juga merasa lelah, ditambah lagi, setelah ini, dia juga harus kembali kerumah sakit menemani putri semata wayangnya.
Setelah mendapatkan foto Leon, Tina langsung mengirimkan foto itu ke handphone Marko,
__ADS_1
"Foto nya sudah aku kirim, kau lihat lah, aku akan membersihkan diri sebentar. meninggalkan Marko yang masih mendambanya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Setelah selesai mandi, Tina memakai kembali pakaiannya, dan berhias sebentar di meja rias, agar tidak terlihat pucat, dan tidak terlihat tua tentu nya, mengingat usia nya yang tidak lagi muda.
Tina memberikan kecupan pintas di pipi Marko dan meninggalkan Marko yang masih malas-malasan untuk beranjak dari tempat tidur.
Malam hari nya Tina sudah berada di rumah sakit, agar tidak mencurigakan, Tina sengaja menghubungi Rony suaminya, namun berulang kali di hubungi, nomor nya tidak juga tersambung, hanya suara operator yang terdengar.
"kemana tua Bangka itu" kesal Tina yang tak juga tersambung panggilan telepon nya.
"apa dia sudah mulai curiga ya" ucap nya menerka-nerka,
"ahh tidak mungkin, aku kan selalu bermain cantik",
"sebaiknya aku kirim pesan sajalah,,agar dia merasa diperhatikan," senyum nya mengembang tatkala menuliskan ide nya di chat telepon,dan berharap Ronny membacanya,",
Tina meletakkan handphone nya di atas nakas bersama dengan tas nya, mengelus lembut pipi putri semata wayangnya,
"sayang,, cepatlah bangun,,mama merindukan mu" ucapnya pelan menahan tangis,
Bagaimana pun jahatnya Tina, dia tetap merasakan kesedihan bila orang yang dia sayang mengalami musibah, apalagi ini adalah putri kandungnya, tentu dia merasakan kesedihan yang mendalam.
__ADS_1