Menikah Mudah

Menikah Mudah
Haruskah pindah sekolah?


__ADS_3

Pengunjung yang datang silih berganti membuat Fira kesulitan untuk beristirahat, apalagi saat ini jam makan siang. letak kafe yang strategis dan menyajikan banyak pilihan makanan enak ditambah harga yang aman dikantong, membuat orang-orang kembali datang, jangan lupakan promo Jumat yang selalu dinantikan oleh sebagian orang, karena bisa makan enak dengan membayar setengah harga.


"Mbak Fira sebaiknya istirahat saja, biar karyawan lain yang mengerjakan," ucap Shofi yang baru selesai meeting dengan beberapa klien yang akan menggunakan jasa Kafe milik Fira.


"Iya Mbak aku lelah sekali, oiya sebaiknya kita memperkerjakan beberapa orang lagi. Sepertinya kafe sudah mulai ramai, cari karyawan yang bisa bekerja paruh waktu saja, kalau keadaan kafe terus berkembang baru rekrut mereka sebagai karyawan," usul Fira pada Sofi.


"Saran yang bagus Mbak, nanti saya suruh anak-anak lain merekomendasikan orang terdekat mereka, diusahakan mereka yang benar-benar baik dan jujur pastinya punya semangat bekerja," Fira mengangguk dan menyetujuinya.


Fira membuka Efron yang sejak tadi menggantung dilehernya, setelah membuat pesanan terakhir untuk pelanggannya, Fira beranjak menuju salah satu meja kosong yang kebetulan baru saja ditinggalkan oleh pengunjung nya selebihnya penuh. Fira duduk dengan bersandar ke pagar setengah tiang yang menjadi pembatas taman di belakang kafe, tempat favorit untuk menenangkan diri.


Fira masih fokus melamun dan melihat tanaman bunga yang sengaja menjadi konsep kafenya, kolam ikan yang di isi dengan berbagai warna ikan koi, dan area foto yang disediakan untuk pengunjung yang mau berselfi ria.


Tiba-tiba dari belakang terdengar seseorang yang sedang kesulitan mencari bangku kosong, satu-satunya tempat yang kosong adalah bangku yang diduduki Fira. Tiba-tiba perempuan itu dengan ramahnya meminta izin untuk bergabung dengan Fira, dan ternyata wanita itu tidak sendirian.


"Permisi, Mbak. Boleh kami bergabung dengan Mbak, kebetulan Kafe sedang ramai jadi saya tidak mendapatkan tempat duduk," ucap wanita cantik yang sepertinya pernah dilihat oleh Fira.


Fira pun tersadar dari lamunannya.


"Ooo silakan, saya hanya sedang melihat pemandangan ini saja, kalau gitu saya permisi," Fira pun bangun dari duduknya, namun saat Fira berhasil membalikkan badannya ia melihat suaminya yang sibuk dengan gadgetnya.


"Mbak, mau kemana, kita makan bersama saja," sambung wanita yang tak lain adalah Dinda itu.


Alan pun mematikan hapenya dan memasukkan kedalam saku baju miliknya, ia begitu terkejut kalau wanita dihadapannya adalah istri kecilnya.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Alan ketus.


"Kamu kenal dia?" tanya Dinda


"Dia murid saya, apa kamu lupa kalau dia adiknya Fero, yang sering menempel pada kakaknya saat kita berkunjung ke rumahnya," ucap Alan menjelaskan.


Dinda terkejut sekaligus senang, ternyata adik kecil yang imut itu sudah beranjak remaja. Bodoh kenapa dia tidak mengenali adik Fero, padahal dulu hampir setiap minggu berkunjung hanya untuk belajar bersama atau sekedar menemui seseorang yang ia sukai, meskipun perasaannya hanya dia yang tahu.

__ADS_1


"Kamu beneran Fira, ya ampun aku beneran lupa sama wajah kamu, sekarang tambah cantik saja,"


Fira hanya tersenyum kaku, cantik? cantik darimana nya, muka polos tanpa riasan bisa dibilang dekil apanya yang cantik kalau basa-basi yang benar saja.


"Iya Kak, saya Fira. Kalau begitu aku permisi..."


"Jangan kita makan bersama saja, kami ini sahabat kakak mu, dan kamu sudah seperti adik kami,"


"Tapi aku lebih dari sekedar adik untuk laki-laki disebelah kakak, aku istrinya meskipun dia tidak pernah menganggap ku," ucap Fira tentu saja dalam hatinya.


"Tidak usah, Kak. Aku mau langsung pulang saja.." ucapan Fira terpotong karena salah satu karyawan mendatangi Fira.


"Mbak, pelanggan yang biasa, mau milkshake strawberry buatan Mbak. Mbak Sofi sudah membujuk untuk dibuatkan oleh Mas zio tapi tetap tidak mau," ucap salah satu pegawainya yang tidak tahu kalau orang dihadapannya adalah suami Fira.


"Baiklah aku segera kesana,"


"Kalau begitu aku pamit Kak, "


"Ehhh,..." belum selesai ucapan Dinda, Fira sudah pergi meninggalkan mereka berdua, heran jelas saja apalagi Alan.


Alan masih mematung dengan apa yang ia dengar dan lihat, Fira bekerja? memangnya uang yang selama ini ia berikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Fira?


"Alan kenapa kamu bengong seperti itu?" tanya Dinda yang merasa kalau dia tidak mendapatkan respon dari sahabatnya.


"Ehhh iya, apa, gimana? " tanya balik Alan spontan dengan pertanyaan tak jelas.


"Ah kamu ini, sebaiknya kita pesan makan dulu sebelum jam makan siang berakhir,"


"Baiklah,"


Di saat makan siang fokus Alan masih memikirkan perihal Fira yang bekerja mendominasi pikirannya.

__ADS_1


***


Pukul 5 sore Alan sudah kembali dari rutinitas nya hal pertama yang ia tanyakan pada asisten rumah tangganya adalah perihal Fira.


"Bi, apa Fira sudah pulang?" tanya Alan.


"Sudah, Den. Sepertinya sedang beristirahat di kamarnya,"


"Baiklah kalau begitu saya pamit ke kamar juga,"


"Silakan, Den."


"Sepertinya mereka sedang bertengkar, kan suami istri kenapa tidak saling mengabari. Apa aku harus lapor sama ibu perihal mereka, tapi aku juga kasian dengan neng Fira yang sepertinya tidak diperlukan dengan baik oleh den Alan," ucap Bi Rani sambil melihat ke arah Alan.


Saat jam makan malam Fira memilih tidak turun, ia membawa makanan dari Kafe, sengaja ia bawa untuk makan malamnya. Fira benar-benar ingin menjaga jarak dengan Alan, jika terus bertemu dan bicara yang ada dirinya akan terus sakit hati dengan ucapan ketus Alan. Alan benar-benar kesal jika membayangkan kalau dirinya memiliki istri seperti Fira.


"Bi Fira tidak makan malam?" tanya Alan karena sudah hampir selesai Fira belum juga turun.


"Sepertinya neng Fira sudah makan malam, tadi bibi melihatnya membawa piring kotor dan mencucinya setelah itu neng Fira kembali ke kamar,"


Alan hanya mengangguk, sebenarnya dia ingin bertanya perihal Fira tadi siang. Benarkah kalau dia bekerja, dan uang yang ia transfer setiap bulan ke ATM nya digunakan apa? seandainya yang Alan berikan adalah kartu kredit mungkin ia bisa memantau penggunaan uang Fira melalui hapenya, namun ia memilih memberikan kartu ATM dan tidak memperdulikan lagi uangnya digunakan apa.


***


Keesokan harinya Fira datang ke sekolah lebih awal, dia ingin mendatangi bagian tata usaha, ingin memastikan kalau ia memiliki tunggakan atau tidak, setahunya kedua orang tuanya akan membayar setahun penuh biaya pendidikannya. Namun setelah menikah sepertinya kewajiban mereka diserahkan pada Alan, Fira tidak ingin merepotkan orang lain untuk membayar sekolahnya meskipun suaminya adalah pemilik sekolah ini.


"Berapa total keseluruhan untuk 1 semester?" tanya Fira


"8xxxxxxx, "


" Baiklah, saya akan usahakan membayarnya dengan mencicil setiap bulannya," ucap Fira, meskipun belum jatuh tempo atau Fira menunggak namun dirinya ingin berusaha sendiri dulu.

__ADS_1


Petugas Tu yang bertugas merasa heran pasalnya orang-orang yang sekolah di tempat kebanyakan membayar satu tahun penuh atau 6 bulan ke depan, tapi ini setiap bulan? mereka berpikiran kalau orang tua Fira sudah jatuh miskin.


"Semangat Fira, uang sekolah anak bodoh ini ternyata mahal juga, aku semakin merasa bersalah sama papa dan Mama. Mereka memasukkan aku ke sekolah yang tidak murah. Aku mulai berpikiran untuk pindah sekolah saja, di sini tidak cocok untuk kapasitas otak ku, hmmh sepertinya aku harus memikirkan hal ini lagi," ucap Fira melanjutkan langkahnya menuju kelas.


__ADS_2