
Setelah beberapa kali menarik ulur keputusannya, akhirnya Fira benar-benar melakukan keinginan. Dia tidak ingin menyesal karena tidak pernah bisa membahagiakan dirinya sendiri, setidaknya ini tidak terlalu terlambat.
Dia merubah rencananya yang ingin merahasiakan niatannya untuk pindah sekolah kepada kedua orangtuanya, Fira ingin melakukan sesuai keinginannya, jika mereka tidak menyetujuinya maka Fira akan berusaha agar mereka mau setuju.
Malam ini Fira akan menginap di rumah orangtuanya, dia ingin merealisasikan keinginannya secepatnya mungkin, Fira benar-benar tidak ingin menundanya.
"Sayang, kamu menginap di sini sudah izin suamimu?" tanya Mama Lisa
"Benar sayang, apa kamu sudah izin?" sambung Papa Safran
Fira mengangguk, karena memang benar kalau Fira sudah mengirimkan pesan pada Alan kalau dirinya akan menginap di rumah orangtuanya.
"Ma, Pa. Fira ingin bicara, tapi aku ingin Mama dan Papa kali ini mendengarnya lebih dulu," ucap Fira terus terang.
"Kelihatannya serius sekali anak Papa, mau bicara apa sayang?" Papa Fira memang orang yang sangat lembut dalam bertutur namun jangan lupa kalau dia juga tegas kalau di perusahaan.
"Iya ih, Mama jadi penasaran. Apa ada masalah dengan pernikahan kalian?," tanya Mama curiga.
"Boleh aku bicara tanpa kalian harus menyanggah lebih dulu?"
"Baiklah, silakan sayang, kami akan mendengarkan,"
"Pa, Ma. Aku tidak tau meragukan kasih sayang kalian selama ini kepada ku, meskipun aku tidak pernah membuat kalian bangga. Bahkan papa harus menjadi donatur tetap di sekolah ku asalkan aku bisa masuk di sekolah yang bonafit itu, jika harus melihat kemampuan ku hal itu mustahil terjadi. Selama ini aku tidak pernah tahu apakah kalian punya ekspektasi tinggi atau tidak dengan memasukkan aku ke sekolah itu, bahkan nilai-nilai yang aku terima sangat lah buruk, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa naik kelas..."
__ADS_1
"Semakin ke sini aku semakin sadar kalau aku hanya merepotkan kalian saja, sampai di titik di mana Papa dan Mama menjodohkan aku dengan Mas Alan. Aku tidak bisa menolak karena sadar aku tidak bisa memberikan banyak hal pada kalian selain baktiku, bahkan aku tidak memikirkan apakah aku akan bahagia atau tidak, yang terpenting aku mengikuti keinginan kalian dan itu sudah cukup..."
"Aku menjalani hari-hari ku dengan banyak ke was-wasan, saat akan memejamkan mata aku selalu berharap bahwa hari ini hanya mimpi dan besok pagi aku terbangun dengan kehidupan ku sebelumnya. Mama dan Papa tahu bukan kalau aku terlalu sensitif untuk tidak memikirkan banyak hal, terlalu insecure untuk bisa baik-baik saja.."
"Mama dan Papa menjodohkan aku dengan laki-laki yang tidak selevel dengan ku, kami bagaikan langit dan bumi. Dia orang yang cerdas dan begitu menawan sedangkan aku seorang gadis bodoh yang beruntung menjadi anak kalian.."
Kedua menyimak ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut putrinya, ada rasa nyeri yang mereka rasakan dan bisa menangkap kalau putrinya tidak bahagia.
"Pa, Ma. Bolehkah aku meminta sesuatu pada kalian, selama ini aku jarang sekali meminta banyak hal pada kalian," pinta Fira pada keduanya.
Mama Lisa yang sudah berkaca-kaca mengangguk, begitu juga dengan Papanya, sesuai keinginan Fira mereka tidak melakukan penyanggahan atau sekedar menyela ucapan Fira.
"Ma, Pa. Aku ingin pindah sekolah," ucap Fira terus terang.
"Kenapa harus pindah, sayang?" tanya Papa
"Tempat itu tidak cocok dengan ku, Pa. Jadi aku mohon izinkan aku pindah dari sekolah lama ku, anggap saja ini bayaran lain karena aku menikah dengan laki-laki pilihan kalian,"
"Apa kamu tidak bahagia dengan suami mu?" tanya Mama Lisa.
Fira tersenyum " Mana ada laki-laki cerdas akan bahagia dengan wanita seperti ku, Ma. Kalau boleh memutar waktu aku ingin kembali ke waktu di mana Mama dan Papa meminta ku menikah, dan saat itu aku ingin jadi anak pembangkang," sahut Fira tersenyum.
"Mama dan Papa jangan khawatir sebisa mungkin aku akan bertahan, entah sampai kapan yang jelas aku ingin mengusahakannya. Dan aku mohon setujui keinginan ku dan tolong tanda tangan surat pengunduran diri ku dari sekolah lama ku,"
__ADS_1
"Apa kamu sudah membicarakan semuanya dengan suami mu, Sayang? kamu sekarang bukan lagi tanggung jawab kami melainkan suami mu,"
"Mas Alan pasti akan menyetujuinya, aku juga tidak ingin mempermalukan dia lebih lama, seorang anak pemilik yayasan memiliki istri bodoh seperti ku akan menjadi aib kedepannya, jadi dengan aku pindah sekolah itu akan menyelamatkan reputasi nya,"
"Kalau Papa dan Mama tidak ingin menandatangi surat ini, aku akan tetap melakukannya meskipun aku harus mengulang sekolah dari awal. Aku tertekan setiap hari, bolehkah aku meminta agar kalian menyetujui keputusan ku, jika kalian melakukannya aku akan sangat berterima kasih,"
Keduanya benar-benar dilema, namun melihat keadaan putrinya yang seperti saat ini mereka pun tak tega, perjodohan ini adalah keinginan mereka bahkan tanpa mendengar pendapat keduanya, melainkan hanya keinginan mereka dan keegoisan mereka sebagai orang tua.
"Maafkan Papa dan Mama yang sudah membawa mu dalam situasi pernikahan ini. Papa hanya ingin yang terbaik untuk putri Papa, tidak ada niatan sedikitpun untuk membuat kamu bersedih apalagi menderita. Papa menyesali keputusan Papa yang tidak meminta pendapat mu lebih dulu. Apa Alan memperlakukan mu sangat buruk, jika ia Papa akan membawa mu pulang,"
Fira menggeleng "Semuanya sudah terlanjur Pa, untuk saat ini aku baik-baik saja, dan seperti ucapanku sebelumnya kalau aku masih bisa bertahan. Mas Alan laki-laki yang baik Pa, mungkin aku bukan orang yang tepat untuk menerima kebaikannya lebih banyak. Dia menjalankan kewajibannya meskipun tidak sepenuhnya karena kami masih perlu beradaptasi..."
"Jika aku benar-benar sudah menyerah, aku sendiri yang akan meminta Papa menjemput ku. Untuk saat ini biarkan semua berjalan mengikuti alur waktu, kalian tidak perlu khawatir yang penting untuk saat ini kalian menyetujui kepindahan sekolah ku,"
Dengan terpaksa dan berat hati Safran pun menandatangi surat pengunduran Fira, dia tidak ingin anaknya tertekan dengan situasi yang tidak Fira inginkan, meskipun sebuah keterlambatan untuk menyadari hal ini.
"Terima kasih, Pa. Aku harap Papa tidak memberi tahukan siapapun, termasuk Mas Alan. Aku ingin kepindahan ku dilakukan secara diam-diam tanpa menimbulkan kehebohan teman-teman ku apalagi pihak sekolah. Aku ingin melakukannya dengan tenang,"
"Jika itu keputusan mu, Papa dan Mama akan mendukungnya. Namun lambat Laun kamu harus bicara dengan suami mu, karena bagaimanapun dia juga berhak untuk mengetahuinya,"
Fira mengangguk "Terima kasih sudah mengerti aku, aku janji akan terus berusaha membahagiakan kalian semampuku," ucap Fira langsung memeluk kedua orangtuanya, Mama dan papanya membalas pelukan Fira sambil mengelus rambut dan punggungnya .
"Sudah malam, Sayang. Sebaiknya kamu tidur,"
__ADS_1
Fira mengangguk dan meninggalkan keduanya, sedangkan sepasang suami istri itu sedang memikirkan keadaan rumah tangga anaknya. Mereka ingin yang terbaik bagi Fira namun faktanya Fira begitu tertekan, pikir mereka Alan orang yang bijaksana apalagi dia orang yang lebih dewasa sudah pasti mampu membimbing Fira, dan menggunakan kemampuan atau kecerdasan otaknya untuk membantu Fira belajar. Namun sayangnya itu hanya harapan semata, kenyataannya sangat jauh dari yang diharapkan.