Menikah Mudah

Menikah Mudah
Akhirnya


__ADS_3

Fira merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan meninggalkan sekolah yang sejak TK menjadi tempatnya belajar kalau dihitung sudah lebih dari 10 tahun. Safran dan Adlan bersahabat sejak mereka berada di bangku SMA, bukan dari keluarga yang benar-benar kaya, namun mereka pekerja keras hingga mencapai kesuksesan seperti saat ini.


Safran dan Adlan sudah seperti saudara kandung, mereka tidak pernah berselisih semua hal mereka atasi dengan baik. Sampai di mana mereka menemukan jodoh masing-masing, dan merek sepakat untuk menjodohkan anak-anak mereka agar persahabatan mereka tetap terjalin selamanya. Namun sayangnya anak pertama keduanya adalah laki-laki, tak putus sampai di situ Safran benar-benar berusaha untuk memiliki anak perempuan, dia menjalankan program ke dokter spesialis kandungan. Meskipun memakan waktu lama, 10 tahun kemudian Fira kecil hadir dan menjadi kebahagiaan untuk keduanya.


Adlan hanya memiliki satu anak yaitu Alan, sedangkan Safran memiliki sepasang anak, dengan jarak 10 tahun. Fira kecil itu kini telah menjadi seorang istri dari Razka Allandra Wijaya, bisa di bilang Fira itu anak emas namun tetap dididik menjadi pribadi yang sederhana dan rendah hati.


Pribahasa orang dulu buah kelapa dalam satu pohon tidak akan selalu menghasilkan buah yang berkualitas, pasti ada satu saja yang gagal. Begitu juga dengan kedua anak Safran dan Lisa, Namun berbeda dengan Adlan dan Rima. Anak mereka mendekati sempurna.


***


Kembali ke Fira..


Setelah kedua orangtuanya menyetujui keinginan Fira, hari ini dia ingin menghabiskan waktunya bersama Sella dan Dina. Karena selama SMP mereka lah yang menemani hari-hari Fira.


"Aku akan mentraktir kalian sepuasnya," ucap Fira pad kedua sahabatnya.


Keduanya tidak merasa heran karena Fira memang memiliki kebiasaan mentraktir teman-teman sekolahnya.


"Asikkk uang jajan aku aman," sahut Sella


"Kali ini dalam rangka apa mentraktir kita," timpal Dina.


"Memangnya harus ada alasan ya, pokoknya hari ini aku sedang bahagia," sahut Fira dengan senyuman merekahnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan hasben udah jinak ya?" Sella berucap ngasal.


"Hahaha, kaya hewan liar aja yang perlu dijinakkan. Pokonya kalian tidak perlu tahu apa alasannya, yuk nanti jam istirahat keburu habis,"


Sesampainya di kantin bukan hanya keduanya saja yang Fira saja yang mendapatkan makanan gratis melainkan satu kantin yang saat itu sedang makan siang. Ada 5 gerai makanan dan minuman yang tersedia, dari makanan tradisional sampai yang makanan internasional. Fira sudah membayar mereka lunas, dan siapapun bisa makan gratis selama porsinya masih ada, kali ini Fira menggunakan kartu kredit yang papanya berikan tadi pagi.


Fira diberi kartu itu untuk membeli keperluan sekolah Fira ditempat baru. Safran kembali berpikir kalau menyekolahkan Fira adalah kewajibannya, bukan suaminya jadi dia ingin melakukan tugas terakhirnya untuk menyekolahkan Fira.


***


Satu sekolah sangat berterima kasih kepada Fira, begitu juga dengan sahabat-sahabat nya. Fira ingin memberikan kesan baik untuk terakhir kalinya. Hari itu Fira benar-benar menikmati waktu kebersamaannya dengan Sella dan Dina.


"Guys terima kasih ya karena selama ini kalian sudah mau menjadi temanku. Aku bersyukur bisa kenal dengan kalian," ucap Fira tiba-tiba saat mereka kembali ke kelas.


"Iya, Fir. Ada apa si cerita aja jangan bikin kita menduga-duga," timpal Dina


"Enggak ada apa-apa, emang kalau mengekspresikan perasaan nggak boleh ya? aku cuma mengungkapkan rasa syukur aku aja bisa kenal kalian," Sahut Fira berdusta.


"Kita pikir begitu, Iya fir kita juga seneng ko punya sahabat baik kaya kamu, kaya lagi haha," ucap Sella.


"Ni anak frontal banget," toyor Dina.


"Ya emang, meskipun kita nggak bisa ngarepin contekan dari Fira, tapi ngarepin di jajanin mah peluangnya banyak hehe, canda Deng," Sella benar-benar bermulut menyebalkan.

__ADS_1


Fira hanya menggeleng dan tersenyum, apa yang mereka katakan adalah kenyataan sebenarnya jadi yasudah.


Hari Senin mendatang adalah hari pertama Fira di sekolah barunya, saat ini Safran sedang mengurus kepindahan Fira, seperti keinginan anaknya dia tidak memberitahu besan atau menantunya terlebih keduanya sedang meninjau cabang sekolah mereka di luar kota. Safran bersahabat baik juga dengan Kepala sekolah di tempat Fira belajar, jadi tidak sulit untuk meminta bantuan.


"Cepat tanda tangani surat kepindahan putriku," ucap Safran pada Yoga teman semasa kuliah nya dulu, yang saat ini dipercaya menjabat sebagai kepala sekolah di yayasan milik Adlan.


"Apa tidak sebaiknya kamu menunggu Adlan dulu, dia pasti terkejut kalau menantunya pindah dari sekolah ini," sahut yoga.


"Itu urusanku nanti, yang penting sekarang kamu menandatangi nya. Aku akan mengatakannya setelah Adlan pulang dari luar kota," sahut Safran.


"Memang apa alasan mu memindahkan Fira, kita sudah berusaha untuk menutupi kekurangan nilai anakmu, aku tidak yakin kalau sekolah lain akan melakukan hal yang sama,"


"Dia tidak benar-benar bodoh, Yog. Semua nilainya hanya pas-pasan untuk bisa lulus, itu sudah lebih baik. Meskipun tidak berprestasi tapi dia memiliki etika yang baik selama di sekolah dan jangan lupakan kalau anakku anak yang rajin datang ke sekolah tanpa membuat onar dan masalah, kekurangan anakku hanya kurang pintar saja,"


"Kamu tahu bukan kalau aku menjodohkan anakku dengan anak Adlan, aku pikir Alan akan mengurus Fira dengan baik, tapi sepertinya Alan masih butuh penyesuaian, dan mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk mereka saling menerima. Sampai saat itu tiba aku tidak ingin membuat putriku tertekan, sepertinya bukan rahasia lagi kalau Alan adalah orang yang dingin dan tidak berperasaan saat menjadi guru..."


"Anakku terlalu sensitif mangkanya dia selalu merasa kecil jika melihat betapa sempurnanya Alan sebagai suaminya. Aku hanya ingin membuatnya nyaman untuk saat ini, salah ku juga yang tidak meminta pendapatnya saat akan menjodohkan dulu, pikirku Alan akan menyayangi Fira setidaknya seperti adik sendiri,"


Yoga hanya mengangguk, memang selama beberapa bulan ini dia tidak melihat kehangatan dalam hubungan keduanya, sepertinya memisahkan memang cara terbaik.


"Baiklah, namun resiko kedepannya kamu yang tanggung. Aku tidak ingin menerima ocehan Adlan lebih banyak Karena menyetujui kepindahan menantunya,"


"Haha biarlah itu menjadi urusanku, yang terpenting kamu menandatanganinya dulu. Terima kasih sudah mengurus putri ku selama sekolah di sini, sekarang dia sudah bisa mengemukakan keinginannya, jadi sebagai seorang ayah aku merasa bersalah kalau selama ini terlalu mengaturnya tanpa bertanya apa keinginannya.

__ADS_1


Safran menarik napasnya dalam-dalam, penyesalan memang selalu menjadi ending yang tidak bagus.


__ADS_2