
Beberapa hari menghabiskan waktu di sekolah lamanya, sambil mempersiapkan keperluan di sekolah barunya. Fira benar-benar antusias, apalagi sekolah tempatnya belajar bukan sekolah internasional yang saingannya orang-orang kaya dan kecerdasan diatas rata-rata. Semua orang benar-benar tidak ada yang tahu kecuali Papa dan Mamanya.
Alan, bagaimana dengan Alan? suaminya masih disibukan dengan pembukaan sekolah baru di luar kota, tidak ingin melibatkan dan merepotkan Fira benar-benar melakukannya setenang mungkin.
Hari hari pertama Fira masuk sekolah baru, berpenampilan sederhana seperti biasanya, tidak akan ada yang menyangka kalau dia anak salah satu donatur disekolah mereka. Ya, Safran berpindah haluan untuk menjadi donatur ditempat baru Fira belajar. Namun di sekolah milik besannya dia masih mendukung untuk program beasiswa bagi anak berprestasi namun dengan kemampuan ekonomi yang terbatas.
"Kamu yakin tidak ingin memilih sekolah yang lain? di sini sepertinya fasilitasnya kurang, Sayang." ucap Safran saat mengantar putrinya ke sekolah baru.
"Papa sudah sepakat bukan untuk mendukung pilihan ku, jadi jangan bertanya lagi," sahut Fira ketus.
"Baiklah, asalkan kamu nyaman Papa akan mendukung. Semoga kamu betah dan bisa menemukan teman yang baik, Papa akan terus memantau, kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri," Fira langsung mengangguk.
"Baik, Pa. Kalau begitu aku pamit belajar, terima kasih sudah mengantarku."
Safran tersenyum. "Inginnya Papa mengantar mu sampai ke dalam sekolah, kenapa hanya di depan gerbang seperti ini," protes Safran
"Aku tidak ingin mereka minder atau lebih buruknya memanfaatkan keadaan ku, aku ingin senatural mungkin. Kalau mereka bertanya dan melihat Papa hari ini aku akan bilang kalau Papa taksi online haha," ucap Fira terus, dan langsung meninggalkan Papanya.
Safran lagi-lagi hanya menggeleng dan tersenyum dengan tingkah putri bungsunya. Setelah kepergian Fira, Safran terus memperhatikan Fira sampai putrinya tak terlihat lagi.
"Maafkan Papa yang terlalu terburu-buru menikahkan kamu, Papa hanya takut kamu bertemu dengan laki-laki yang tidak baik. Tapi sepertinya pernikahan kalian pun tidak semulus yang papa harapkan, Papa akan terus berdoa untuk kebahagiaan putri kesayangan Papa," ucapnya bermonolog.
***
Proses perkenalan Fira berjalan dengan lancar, semua murid menyambut dengan baik kedatangan Fira. Bahkan hari ini Fira memiliki teman sebangku yang baik, gadis berhijab dan berkacamata, penampilannya sederhana sepertinya dia kutu buku terlihat dari tebalnya kacamata yang digunakan haha, Fira sok tahu.
"Hai, aku Fira. Aku tidak apa-apa kan kalau duduk di sini?" ucap Fira menyodorkan tangan dan meminta izin teman barunya.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk dan tersenyum. " Aku Ana, Silakan, aku memang sendiri duduk di sini." Fira pun duduk tepat di samping Ana.
"Terima kasih,"
"Sama-sama, kamu pindahan dari mana? kamu hanya memperkenalkan nama saja dan usia," tanya Ana.
"Aku pindahan dari kampung, kebetulan ayahku pindah tugas ke kota ini," sahut Fira berdusta.
"Wah berarti kamu pendatang baru, selama di sini kalau ada yang ingin ditanyakan atau butuh bantuan aku siap membantu," ucap Ana
"Terima kasih,"
Jam pelajaran berlangsung, seperti biasanya Fira akan kesulitan mencerna setiap materi yang diberikan oleh guru, meskipun dia pendengar dan penyimak yang baik. Fira masih saja kebingungan.
"Kenapa, kamu pasti kesulitan memahami materi? setahuku memang kurikulum pendidikan di kampung dan di kota sedikit berbeda atau tertinggal. Aku akan membantu mu belajar mulai saat ini," ucap Ana yang mengerti Situas Fira, padahal kenyataannya Fira memang memiliki Pentium otak yang amat minim.
Fira hanya mengangguk dan seolah apa yang dikatakan Ana benar adanya. "Terima kasih," Ana pun mengangguk dan tersenyum.
**
"Kamu tidak pergi ke kantin?" tanya Fira, Ana menggeleng. "Aku bawa bekal dari rumah, kamu mau?" tawar Ana sambil menyodorkan nasi timbel dengan lauk telur dadar dan tempe orek, makan sederhana namun menambah nafsu makan.
"Nanti kamu tidak kenyang," sahut Fira bercanda.
"Haha kamu ini, aku tidak akan jatuh pingsan hanya karena berbagi makanan dengan mu," sahut Ana.
"Boleh kalau kamu memaksa," Fira pun bergabung dengan Ana, dan Ana menyerahkan sendok yang belum lama ia gunakan.
__ADS_1
"Tidak apa-apakan kalau kita menggunakan sendok yang sama?" tanya Ana.
"Tentu saja tidak apa-apa, aku senang seperti ini,"
"Syukurlah, aku takut kamu jijik-an. Besok-besok aku akan membawa bekal lebih banyak agar kita bisa makan bersama lagi," ucap Ana.
"Memangnya kamu setiap hari bawa bekal, kan biasanya di kantin banyak pilihan jajanan, apa tidak bosan?" tanya Fira penasaran.
Ana menggeleng "Aku lebih suka masakan ibu, selain itu aku bisa berhemat. Uangnya bisa aku tabung untuk mendaftar kuliah nanti, kamu tahu kalau aku ingin sekali menjadi seorang guru hehe," ucap Ana menceritakan cita-citanya.
Fira sangat kagum dengan jawaban Fira, ia terlalu lama bergaul dengan lingkungan yang penuh kemewahan, padahal diluar sana masih banyak orang yang bermimpi dengan mimpi yang sederhana. Fira merasa sangat bersyukur.
"Aku doakan semua keinginan mu tercapai, Aamiin,"
Setelah ini sepertinya Fira akan meminta bantuan Papa nya, untuk memasukkan Ana kedalam katagori penerima beasiswa di Universitas terbaik. Lalu bagaimana dengan Fira? Ahh dia tidak pernah bercita-cita masuk universitas karena sadar keterbatasan otaknya, tapi siapa tahu saja ada keajaiban.
"Aamiin. Setelah ini aku akan membuat jadwal belajar untuk kita, kamu tahu tidak aku punya cara yang efektif untuk belajar mudah, cepat dan efektif. Aku selalu mencari cara agar saat mengajar les anak-anak bisa menyampaikan materi dengan cara yang fun namun mudah dipahami," Ana selalu antusias saat menceritakan kegiatan sehari-hari apalagi berkaitan dengan belajar.
"Kamu mengajar?" tanya Fira.
Ana mengangguk "Hanya les saja, biasanya seminggu tiga sampai empat kali. Mereka biasanya datang ketika kesulitan memahami materi di sekolah, aku bahkan sering mengajar anak seumuran kita hehe,"
"Wah kamu hebat sekali, pasti kamu sangat pintar," puji Fira
"Aku hanya realistis dengan hidup Fir, lahir dari keluarga sederhana setidaknya harus ada yang diperjuangkan yaitu mimpi. Aku ingin membanggakan ayah dan ibu, aku ingin hari tua mereka tenang dan nyaman," Ah Fira begitu tercubit dengan kata-kata Ana, selama ini dia hanya menikmati apa yang ada, tanpa memikirkan orangtuanya.
"Kamu hebat, aku yakin kamu akan jadi orang sukses nantinya,"
__ADS_1
"Aamiin, nggak terasa makanannya sudah habis, Alhamdulillah. Kamu kenyang kan?," tanya Ana, Fira mengangguk. "Makanannya lezat sekali, terima kasih," Ana menjawab dengan senyuman.
***