Menikah Mudah

Menikah Mudah
Terkejut


__ADS_3

Kepala sekolah telah berhasil menghubungi orang tua Fira, mereka tentu saja panik mendapatkan kabar kalau Fira dilarikan ke rumah sakit. Safran yang berniat akan pergi ke kantor pun ia batalkan, kemudian bergegas menuju rumah sakit bersama sang istri.


"Pa, apa Alan sudah tahu kondisi Fira?" tanya Lisa khawatir.


"Sepertinya belum, Ma. Papa akan menghubungi Alan sekarang," Lisa pun mengangguk.


Hanya sekali panggilan langsung terhubung dan tak lama Alan mengangkat telepon dari ayah mertuanya.


"Halo, Alan. Ini Papa, Papa dan Mama sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Papa mendapatkan telepon dari kepala sekolah Fira kalau Fira pingsan dan saat ini sedang berada di rumah sakit," Safran langsung berbicara pada intinya, hal itu membuat Alan cukup terkejut.


"Apa kamu tahu, kalau Fira sedang sakit?" sabung Safran.


"Beberapa hari ini Fira memang sering muntah-muntah, Pa. Aku sudah menyarankan dia untuk ke rumah sakit, tapi dia selalu menolak." sahut Alan menjelaskan apa yang dia tahu tentang kondisi Fira.


"Baiklah, sebaiknya kamu segera menyusul ke rumah sakit,"


"Baik, Pa. Kirimkan saja lokasinya, aku akan langsung ke sana,"


"Baiklah,"


Tidak memakan waktu terlalu lama Safran dan istrinya sudah sampai di rumah sakit tempat Fira di rawat, tak lama kemudian Alan pun datang dengan terburu-buru.


Setelah bersalaman Alan langsung bertanya mengenai kondisi Fira "Bagaimana keadaan Fira, Pa?"


"Kami belum lama tiba-tiba, kamu pasti membawa mobil dengan kecepatan tinggi hingga bisa datang lebih cepat," Safran benar-benar beranggapan kalau Alan khawatir dan hubungan pernikahan anaknya benar-benar baik-baik saja.


Alan hanya mengangguk" Sebaiknya kita lihat kondisi Fira, Pa," timpal Lisa.


"Baiklah,"

__ADS_1


Ketiganya pun berjalan beriringan menuju meja informasi, ia menanyakan ruangan Fira dirawat, sebelum akhirnya mereka bertemu dengan kepala sekolah.


"Pak, gimana kondisi anak saya?" tanya Safran pada kepala sekolah Fira.


"dokter sedang menunggu kalian, biar dokter yang akan menjelaskan semuanya," sahut kepala sekolah tak ingin banyak menjelaskan.


Mendengar ucapan kepala sekolah Fira, ketiganya menyimpulkan ada hal yang tidak beres, kalau semuanya baik-baik saja Fira pun tidak akan berada di sini.


Setelah mengetahui ruangan dokter yang menangani Fira, ketiganya pun masuk untuk mencari penjelasan mengenai keadaan Fira.


"Selamat pagi dok, bagaimana kondisi Fira sebenarnya?" tanya Safran khawatir.


dokter menatap ketiganya kemudian bertanya mengenai wali Fira "Sebelumnya apa hubungan kalian dengan pasien, saya tidak bisa menjelaskan apapun kecuali pada walinya,"


"Kami orangtuanya, dan ini suaminya," ucap Safran menjelaskan status mereka.


"Oh, jadi anak anda sudah menikah?" tanya dokter memastikan.


dokter pun mulai mengerti, dari setelan yang digunakan ketiganya mereka bukan orang biasa, apalagi barang-barang yang digunakan cukup berkelas. Tidak mungkin mereka mencoreng nama baik mereka jika tidak diantisipasi sebelumnya.


"Kondisi anak bapak cukup menghawatirkan, telat sebentar lagi saja dia akan mengalami masalah dengan kehamilannya..."


Ucap dokter yang membuat ketiganya terkejut bukan main, apa hamil? entah mereka harus bereaksi seperti apa, senang sudah pasti tapi mereka khususnya orang tua Fira menyayangkan hal ini, kenapa Alan tidak bersabar lebih dulu. Sedangkan Alan sangat terkejut, sampai-sampai dia tidak bisa berkata-kata .


"Alan apakah kamu tahu hal ini?" tanya Safran yang mulai curiga dengan ikut terkejutnya sang menantu. Lisa sudah mulai menitikkan air matanya, Safran melihat respon Alan yang diam saja mulai mengerti situasinya, bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja.


Tarikan napas Safran yang begitu dalam menggambarkan kekecewaan terhadap menantunya. Dengan berat hati ia pun melanjutkan bertanya kepada dokter laki-laki yang menangani Fira.


"Apa ada masalah lain dengan kondisi putri saya, kalau boleh tahu berapa bulan usia kehamilannya?" Safran lebih banyak bertanya dalam hal ini ketimbang Lisa dan Alan.

__ADS_1


"Putri bapak hanya kekurangan cairan saja, mungkin karena dia terlalu banyak muntah dan asupan makanan yang masuk tidak banyak. Kami sudah menyuntikkan vitamin kedalam cairan infusnya, mungkin beberapa waktu lagi putri bapak akan sadar dari pingsannya. Mengenai usia kandungannya, saat ini sudah memasuki trimester kedua, janin berkembang dengan baik dan juga sehat," ucap dokter menjelaskan kondisi Fira.


Mendengar hal itu ketiganya lagi-lagi terkejut, usia kandungan Fira bukan lagi memasuki awal kehamilan tapi janin yang sudah berkembang menjadi manusia yang beberapa bulan lagi siap lahir kedunia.


Setelah mengetahui kondisi Fira mereka pun keluar dari ruangan dokter, kemudian mereka masuk ke ruangan tempat Fira di rawat, di sana hanya ada Ana yang setia menjaga Fira, sedangkan wali kelas dan kepala sekolah sudah berpamitan kembali ke sekolah untuk melanjutkan aktivitas sekaligus memberi penjelasan atas desas desus yang tidak berdasar.


"Kamu siapa?" tanya Safran


Ana yang sedang menggenggam tangan Fira dan terus menangis pun menghentikan kegiatannya dan berdiri, karena tahu kalau mereka adalah keluarga Fira.


"Saya teman sekelas Fira, Pak," sahutnya singkat.


Safran mengangguk "Terima kasih sudah menemani anak kami," ucap Safran tulus


"Sama-sama, Pak," Ana yang mengerti situasi yang terjadi pun memutuskan untuk keluar dari ruangan Fira dan memberikan privasi pada mereka.


**


"Sayang bangun, Nak. Ini Mama, kenapa kamu bisa seperti ini, kenapa kamu menyembunyikannya dari kami? apa kami tidak cukup pantas untuk menerima kebahagiaan yang kamu miliki? sayang bangun kami sudah ada di sini, apa kamu akan terus tertidur seperti ini?" Lisa terus bicara dengan lelehan air mata, dia merasa gagal menjadi orang tua, bagaimana bisa Lisa tidak menyadari kalau putrinya sendang mengandung, padahal dirinya beberapa kali bertemu Fira.


Sedangkan Alan masih tetap terdiam tak tahu harus bagaimana, ia terlalu kaget mendengar kabar kehamilan Fira. Apakah ini alasan Fira bertanya mengenai anak, jika iya jelas saja Alan sudah menyakiti hati Fira dan secara tidak langsung menolak kehadiran anaknya.


"Sepertinya pernikahan kalian tidak berhasil, Papa pikir selama beberapa bulan ini kalian baik-baik saja dan berusaha saling terbuka. Tapi apa ini? bahkan kamu yang setiap hari bertemu Fira tidak mengetahui perihal kehamilannya, dia pasti sangat kesepian, dia pasti merasa sedih menghadapi kehamilannya sendiri. Cucu papa pasti lebih sedih karena keluarga bahkan ayahnya sendiri tidak mengetahui kehadirannya," ucap Safran sudah mulai menitikkan air mata


"Maafkan kami nak, kamu seperti ini karena keegoisan kami,"


Fira sudah sadar dari pingsannya, hanya saja dia belum siap membuka matanya dan memilih tetap terpejam. Air matanya menetes di sudut mata Fira, dia benar-benar ingin memeluk kedua orangtuanya.


**

__ADS_1


Like dan Komen Yo, apa aja boleh. Emoticon doang juga boleh. Terima kasih


__ADS_2