Menikah Mudah

Menikah Mudah
Bertubi-tubi


__ADS_3

Setelah kepergian Alan, beberapa menit kemudian pintu rumah itu diketuk kembali, Fira berpikiran kalau Alan kembali lagi karena ada sesuatu yang terlupakan, namun tebakannya salah karena yang datang kali ini adalah seseorang yang Alana rindukan dan seketika membuat gadis kecil itu langsung terdiam dan tidak menangis lagi.


"Dad...dy ," ucap Alana yang langsung berhambur memeluk laki-laki yang tak lain adalah Fero. Fero tersenyum dan membalas pelukan Alana, balikan berusia 1 tahun yang belum pandai bicara itu hanya mampu mengatakan beberapa kata saja termasuk memanggil Daddy yang pernah diajarkan Fero.


Fira hanya mematung melihat pemandangan dihadapannya, bagaimana bisa Alana berhenti menangis hanya karena melihat Fero sedangkan sejak tadi ia kesulitan menenangkan Alana bahkan ayah kandungannya pun tidak bisa melakukannya.


"Ada apa kakak pagi-pagi datang ke sini?," Tanya fira sedikit ketus semenjak mengetahui perasaan Fero untuk dirinya, karena menurut Fira itu hal konyol.


"Apa aku tidak boleh berkunjung ke sini, melihat kamu dan juga Alana? sekalipun kamu menolak berkali-kali maka kakak akan terus kembali, kakak hanya ingin memperjuangkan apa yang seharusnya kakak lakukan sejak awal," ucap Fero penuh ketulusan.


"Apa yang ingin kakak perjuangkan dari wanita sepertiku? sadar kak masih banyak wanita yang lebih layak untuk kakak, lagi pula apa kata dunia, mereka yang awalnya tau kalau aku anak perempuan dari keluarga kalian tiba-tiba menjalin hubungan, apa itu tidak akan menjadi pergunjingan? "


"Sebaiknya kita membicarakan hal ini lain waktu saja, ada Alana di sini. Tapi satu yang ingin kakak tekankan kalau kakak akan berjuang sampai akhir, jika pada akhirnya takdirku bukan dengan kamu maka aku akan menyerah. Setidaknya biarkan aku berjuang," Mendengar ucapan Fero, Fira tidak bisa berkutik, dan memilih membiarkan Fero bersama Alana.


Interaksi Alana dan Fero memberikan Fira rasa haru, karena Alana tidak pernah mendapatkan hal itu dari ayahnya. Saat dulu Alan sering mengunjungi dirinya namun tujuannya meyakinkan Fira untuk kembali menjadi istrinya. Komunikasi dengan Alana hanya sesekali, pikirnya bayi Alana belum mengerti saat di ajak komunikasi padahal dengan sering berkomunikasi akan menjadi bonding antara ayah dan anak.


Pukul 9 lewat Fero menyudahi sisi bermain dengan Alana, anak itu kini sudah tidak rewel lagi seolah sudah menemukan mood yang hilang. Saat fero berpamitan pun Alana tidak menangis karena Fero berjanji akan kembali dan berpamitan untuk bekerja.


"Apa kamu akan pergi ke kafe? jika iya ikutlah dengan kakak, kebetulan kita satu arah," ucap Alan menawarkan tumpangan.


"Tidak usah kak, aku akan pergi dengan ojek online saja." tolak Fira.


"Kenapa harus naik ojek online? aku akan mengantarkan mu!" Fero kembali memaksa Fira.


"Aku mohon Kak, jangan seperti ini. Aku sudah memesan ojek online yang kebetulan tetangga yang biasa mengantarkan aku,"


Fero hanya menarik napasnya dalam-dalam, sepertinya akan benar-benar menjadi perjuangan untuk mendapatkan hati Fira. Setelah berpamitan pada neneknya dan menitipkan Alana pada pengasuhnya Fira dan Fero pun pergi dengan kendaraan berbeda, Fira pergi lebih dulu sedangkan Fero mengikuti dari belakang menatap punggung dari wanita yang dia cintai. Fero mengikuti fira sampai kafe dan setelah itu dia melanjutkan perjalanan menuju kantor.

__ADS_1


......................


Disebuah ruangan yang tidak terlalu besar Fira baru saja mendapat laporan dari orang kepercayaannya kalau kondisi kafe sedang tidak baik. Pendapatan mulai menurun di setiap bulannya.


"Kenapa bisa seperti ini, Mbak?" Tanya Fira pada orang kepercayaan baru yang ia rekrut, karena yang biasa membantu Fira mengundurkan diri karena harus ikut suaminya ke luar kota.


"Banyak Faktor Mbak Fira, salah satunya era persaingan yang tidak bisa dihindari, banyak kafe yang mengusung tema kekinian dan menjadi daya tarik untuk setiap pengunjung yang datang. Belum lagi kepindahan Mbak fira ke bandung mengharuskan kita menganti pekerja di pastry untuk membuat kue, seperti yang Mbak tau kalau salah satu menu favorit di kafe ini adalah kue buatan dan perlahan para pelanggan yang biasa datang mulai menghilang," ucap Fiya menjelaskan situasi kafe.


"Apa pendapatan kita benar-benar menurun drastis?,"


"Benar Mbak, bahkan gaji karyawan belum dibayarkan padahal ini sudah memasuki minggu pertama di awal bulan,"


Mendengar hal itu fira benar-benar tidak menyangka kalau kepergiannya memberikan efek yang begitu besar, pikirnya semua akan baik-baik saja.


"Baiklah, sebaiknya Mbak Fiya kembali ke depan saja, aku akan mencari cara untuk menyelamatkan kafe ini,"


Tut..tut..tut


Setelah beberapa menit akhirnya Ana mengangkat telepon nya.


"Assalamualaikum, Ana."


"Waalaikumsallam, wah kamu kemana saja baru mengabari aku?"


"Ada aja ko, oiya aku menelepon kamu ingin meminta bantuan,"


"Bantuan apa, Fir? kalau bisa bantu pasti aku bantu,"

__ADS_1


"Situasi kafe di sini sedang tidak baik, pendapatan menurun drastis, bahkan gaji pegawai pun belum diberikan. Apa kas di sana aman? kalau aman aku ingin meminjamnya untuk menggaji karyawan bulan ini.


"Sejujurnya keadaan di sini pun tidak lebih baik, apalagi semenjak kembalinya kamu ke jakarta. Pesanan kue yang biasa membeludak kini tidak terlalu banyak, meskipun enak menurut mereka buatan mu yang paling favorit,"


"Kenapa permasalahannya sama? di sini pun begitu,"


"Sepertinya kamu harus segera memutuskan kafe mana yang akan jadi prioritas, karena tangan mu cuma dua, jika harus pulang pergi Jakarta Bandung rasanya tidak mungkin,"


"Aku ingin keduanya tetap berjalan. Aki memiliki ide untuk memproduksi kue dalam satu tempat kemudian di distribusikan ke kafe yang saat ini baru memiliki dua cabang,"


"Ide yang bagus, tapi bukankah akan memakan banyak biaya?"


"Sepertinya begitu. Bagaimana, apa kas di sana aman?"


"Untuk saat ini masih aman, nanti kirim pesan saja berapa yang harus aku transfer, "


"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya,"


"Sama-sama. Kalau gitu aku permisi melanjutkan tugasku, kebetulan sedang ada pelanggan, "


"Yasudah lanjutkan saja, maaf mengganggu waktu mu,"


Setelah menelepon Ana dan mengirim chat pada sahabatnya itu tak lama bunyi notifikasi dari hape fira pertanda kalau uang yang di kirim Ana sudah masuk. Fira pun langsung memerintahkan Fiya untuk mengirim data pegawai yang belum menerima gaji bulan ini.


Hari ini benar-benar melelahkan bagi Fira bukan hanya fisik tapi semuanya. Permasalahan seperti datang dan pergi , di usianya yang masih muda namun beban hidupnya begitu berat, sanggupkah Fira menghadapi semuanya?


Dimainkan tempat Fero mendapatkan laporan dari salah satu orang kepercayaannya mengenai kondisi Fira. Fero menjadikan ini kesempatan untuk dekat dengan fira dengan cara membantu kesulitan dari wanita yang Fero cintai.

__ADS_1


__ADS_2