Menikah Mudah

Menikah Mudah
Di mana Fira?


__ADS_3

Hari pertama masuk ke sekolah barunya Fira merasa bahagia, terutama dia memiliki teman baru yang baik dan menyenangkan. Fira pulang ke rumah Alan dengan memesan ojek online, dia tidak meminta di jemput supir sama seperti saat dia sekolah di tempat lamanya.


Bi Rani yang sedang menyapu halaman sedikit heran dengan seragam yang di gunakan majikan mudanya, wajar saja tadi pagi Fira berangkat dari rumah Safran. Seragam putih abu-abu biasa, bukan seragam mahal dengan jas kebanggaan ciri khas dari sekolah internasional tempat Fira belajar dulu.


"Assalamualaikum, selamat siang menjelang sore," Ucap salam Fira, setelah berhasil menutup gerbang rumah.


"Wa'alaikumussalam, neng. Kok pulang naik ojek online, terus ini kenapa seragamnya berbeda dari seragam biasanya?," tanya Rani penasaran.


"Masa si? bukannya seragam sekolah itu umumnya putih abu-abu?" sahut Fira berusaha mengecoh.


"Ahh bener, ini mah seragam sekolah umum, kalau sekolah milik Pak Adlan mah tidak seperti ini seragamnya," ucap Bi Rani


"Ahh Bibi so tau, udah ya aku mau masuk dulu ke kamar, gerah ni cuaca hari ini panas sekali," Fira mengalihkan perhatian agar bi Rani tidak membahas hal yang serupa.


"Yasudah neng, silakan. Mau bibi siapkan makan siangnya?"


"Tidak usah, aku masih kenyang tadi di sekolah ikutan nebeng makan bekal teman. Bi, besok aku mau bawa bekal juga ah," Bi Rani hanya mengangguk, karena bukan hal aneh kalau Fira membawa bekal ke sekolah.


"Mau bawa apa neng besok, nugget, daging teriyaki , atau omelette?" tanya bi Rani menawarkan beberapa makanan yang biasa Fira bawa.


"Bi, makanan khas kampung bibi apa?" tanya Fira tiba-tiba.


"Memangnya kenapa Neng?"


"Iya nanya aja, kalau boleh aku ingin dibuatkan,"


"Pepes ikan peda mau haha," Bi Rani menyebutkan salah satu makanan favoritnya di kampung.


"Apa itu?"


"Pepes ikan asin neng, pakai Pete ,"


"Enggak ah, nanti bau Bi, yang normal normal saja,"


"Lah itu normal neng, makanan kampung mah emang gitu. Sayur di rebus, ikan di pepes, lalapan mentah sambelnya juga sambel mentah, terus makannya di pinggir sawah. Beuhhh nikmat Allah manalagi yang kamu dustakan," ucap Bi Rani sambil membayangkan situasi di kampung dengan makanan yang belum lama ia sebutkan.

__ADS_1


"Ya kan di sini nggak ada sawah BI, lagian bawa bekel ke sekolah bukan mau nyangkul di sawah,"


"Hehe, apa atuh ya, bibi mah suka langsung bleng kalau ditanya dadakan gini. Gimana kalau bawa pepes ayam saja sama tempe orek neng," Ucap BI Rani memberi usul.


"Boleh deh bi, ayamnya ada nggak? kalau nggak ada nanti beli dulu sekalian sama daun pisangnya,"


"Nggak usah neng, semua kebutuhan sudah lengkap. Daun pisang kebetulan tadi pagi Bibi beli, soalnya rencana mau ngeliwet nanti malam sama teman-teman komplek,"


"Hoalahhh, yasudah kalau seperti itu,"


***


Malam harinya Alan telah kembali dari luar kota, bukan Fira yang menyambut melainkan satpam rumah dan BI Rani pastinya.


"Sudah pulang den, mau langsung istirahat atau bibi siapkan makan malam?" seharusnya tugas istri yang harus bertanya hal seperti ini, tapi faktanya bukan.


"Tidak perlu BI, saya mau istirahat saja. Badan saya lelah sekali. Apa Fira ada di rumah?,"


"Cie, Aden kangen ya?" ledek BI Rani.


"Mana ada aku kangen sama orang, apalagi Fira. Cuma penasaran aja sama anak itu, ditinggal seminggu an pasti ngelayab terus," Alan menggeleng jika mengingat tingkah Fira,


"Baguslah kalau seperti itu, Yasudah aku ke kamar dulu,"


"Silakan, Den,"


***


Malam yang sama namun memisahkan mimpi keduanya, hubungan yang entah kapan akan membaik atau malah sebaliknya. Fira akan berusaha bertahan sampai sekolahnya selesai.


Pagi-pagi sekali Fira sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, bekal yang diinginkan pun sudah disiapkan oleh BI Rani ada dua susun dimana tempat bekal pertama berisi nasi dan yang susunan kedua berisi lauknya.


"Neng, sudah rapih?" tanya bi Rani


"Sudah bi, aku mau berangkat sekarang. Bekal aku udah siapkan?"

__ADS_1


"Pagi banget neng, baru jam 6,"


"Gapapa Bi, aku udah keseringan telat, mau merubah kebiasaan hehe," kilah Fira pada Bi Rani


"Hoalahhh, tapi itu seragamnya nggak kaya biasa neng," Bi Rani masih penasaran dengan seragam yang sejak kemarin Fira gunakan.


" Si bibi masih penasaran aja, ini masih seragam sekolah Bi. Udah ah aku mau berangkat sekarang nanti aku nggak jadi masuk tepat waktu,"


"Ya sudah , mau diantar pak Asep neng?" tanya bi Rani


"Nggak usah Bi, aku mau naik ojek online aja, kebetulan udah pesan tadi, kayanya sebentar lagi datang,"


"Lah kan ada supir neng, kenapa harus naik ojek online?" tanya bi Rani.


"Nggak apa-apa bi, aku mau menikmati udara pagi kalau di mobil kan nggak berasa bi hehe, udah ya aku pamit dulu," ucap Fira sambil mencium tangan Bi Rani, dan pergi meninggalkan meja makan.


"Neng, nggak sarapan dulu?" tanya bi Rani kembali.


"Nggak usah Bi, aku mau makan bareng teman sekolah ku aja,"


"Yasudah, hati-hati neng, nggak pamit sama den Alan dulu?"


"Nggak deh bi, soalnya Mas Alan masih tidur , kasian kalau aku bangunin nanti dia marah,"


"Iya si dia sampai sudah malam juga.." tak lama mang Asep masuk ke dalam memberi tahu kalau gojek pesanan Fira sudah datang.


**


Hari hari yang dilalui Fira berjalan seperti biasanya, hari ini Alan mulai masuk ke sekolah untuk mengajar seperti biasanya. Selama tiga hari Alan tidak mengajar dan memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumah atau mendatangi kantor. Alan benar-benar melupakan statusnya sebagai seorang suami, jangankan memberikan perhatian sekedar menyapa juga belum ia lakukan selama dia kembali dari pekerjaannya .


Suasana kelas begitu menegangkan jika Alan yang menjadi guru mata pelajaran, apalagi kalau ada murid yang terlambat atau lupa mengerjakan tugas yang ia berikan, maka tamatlah riwayatnya.


Setelah berada di kelas tatapan matanya mengarah ke bangku yang biasa di duduki Fira, pikirnya Fira sudah berangkat sejak pagi tapi saat ini gadis itu belum sampai di kelas. Alan sudah terlihat kesal, namun dia mulai mengambil buku absen dan memanggil nama muridnya satu persatu.


Giliran nama Fira disebut semua orang terdiam termasuk Dina dan Sella. Keduanya cukup bingung, bagaimana bisa suaminya tidak tahu kalau Fira sudah tidak sekolah di sini.

__ADS_1


"Syafira Amanda Gami? apa dia masih sering terlambat?" tanya Alan marah.


Semuanya terdiam tidak ada yang bersedia menjawab pertanyaan Alan.


__ADS_2