Menikah Mudah

Menikah Mudah
Menyelesaikan


__ADS_3

Terima kasih untuk nama-nama yang tidak asing yang selalu komentar di novel ini. Terima kasih atas dukungannya, setidaknya masih ada harapan kalau upaya menulis ini masih diapresiasi. Melihat banyaknya penulis dan cerita yang bagus sedikit banyak membuat aku tidak percaya diri untuk nulis. Sekali lagi terima kasih 💕💕


...----------------...


Setelah mengulur waktu dan menunggu kesiapan Fira untuk mengatakan semuanya, akhirnya Fira memberanikan diri dan ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Hari ini tepat usia Alana satu bulan, bayi cantik itu kini sudah memiliki bobot tubuh yang lumayan berat, ASI Fira berlimpah maka pantas saja kalau berat badannya cepat naik.


Alan dan keluarganya sering berusaha datang namun Safran berkali-kali menolak, Safran berjanji akan membicarakan semuanya setelah Fira siap. Safran berharap kalau Alan akan mengatakan semuanya, meskipun mereka sempat melarang karena alasan perceraian yang harus selesai lebih dulu. Pikir Safran, Alan akan benar-benar berjuang untuk anak dan cucunya meskipun dirinya jelas akan menolak, tapi semuanya tidak Alan lakukan.


Safran sempat melihat Alan yang sedang makan siang bersama istrinya, kebetulan saat itu Safran sedang mengadakan pertemuan diluar. Safran hanya menggeleng melihat betapa pengecutnya laki-laki yang ia jodohkan bersama putrinya, lihatlah wanita hamil itu tampak bahagia sementara anaknya sedang melewati fase terluka yang disebabkan oleh Alan.


Fira sudah mendaftarkan perceraiannya seminggu setelah dia sadar dari koma, dan sekarang surat perceraian itu sudah selesai. Fira akan mengundang keluarga suaminya, yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya, Fira ingin Alan menandatangani perceraian dihadapan keluarga, dan setelah itu semuanya selesai.


Pukul 8 malam rumah Safran sudah dipenuhi tamu yang tak lain adalah besannya sendiri. Alan datang bersama Papa dan Mama nya, sementara Fira ditemani oleh kedua orang tuanya dan satu wanita yang cukup asing. Wanita itu adalah pengacara yang akan menangani kasus perceraian Fira.


Dengan balutan gamis rumahan berwarna hitam dan hijab berwarna putih, Fira melangkahkan kakinya menemui Papa dan Mama mertuanya. Fira menyalami ketiganya setelah itu dia duduk di kursi bersebelahan dengan Mama nya.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Adlan penasaran, karena sejak tadi sahabatnya selalu diam.


"Biarkan putriku yang akan menjelaskan," sahut Safran sambil melihat ke arah putrinya.


Fira pun mengangguk dan perlahan tangan Lisa memeluk lengan putrinya untuk menguatkan anaknya yang belum genap 18 tahun itu. Fira tersenyum menatap ketiganya, senyum kegetiran yang ia tampilkan sebaik mungkin bagaimana pun semuanya sudah terjadi.

__ADS_1


"Sebelumnya Fira mau meminta maaf pada Mama Rima dan Papa Adlan, maafkan Fira jika selama ini tidak bisa menjadi menantu yang baik buat kalian, begitu juga untuk Mas Alan. Maaf karena Fira terlahir sebagai seseorang yang tidak Mas kehendaki, tapi semuanya sudah terjadi...."


Belum Fira menyelesaikan ucapannya, Adlan kembali menyela karena tak mengerti dengan permintaan maaf Fira yang tiba-tiba.


"Jangan membuat Papa kebingungan Fira, untuk apa kamu meminta maaf? kamu adalah menantu terbaik yang kami miliki, kami bersyukur memiliki kamu sebagai bagian dari keluarga Wijaya,"


Fira kembali tersenyum, sementara Alan terus menunduk dan tak bisa berkata-kata seperti biasanya.


"Baiklah, Fira tidak akan bertele-tele. Pa, Ma Fira ingin saat ini juga Mas Alan menjatuhkan talak untuk Fira."


Deg..deg


"Apa maksudnya ini, Saf. Apa kamu akan terus diam?" tanya Adlan yang mulai kesal.


Adlan semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi, sementara Rima berusaha menenangkan suaminya. Adlan sudah menatap tajam pada putranya, dia mulai mengerti sumber permasalahan yang terjadi.


"Aku harap semuanya tenang dulu, keputusan Fira untuk bercerai dari Mas Alan sudah bulat. Keputusan ini dibuat jauh sebelum Fira mengandung Alana, Fira dan Mas Alan memang tidak berjodoh dan harus mengakhiri semuanya dalam waktu singkat. Terima kasih sudah menunggu sampai Fira melahirkan...."


Alan menggeleng menatap Fira dengan lelehan air mata yang sudah membasahi pipinya, rasa penyesalan itu semakin besar, entah kenapa saat ini Alan begitu mencintai Fira.


"Fira, Mas mohon berikan kesempatan kepada Mas untuk memperbaiki semuanya, Mas janji akan menjadi suami yang baik..."

__ADS_1


Adlan dan Rima merasa tidak tega dengan keadaan putranya, laki-laki yang biasanya tegas dan berwibawa kini menangis dihadapan semua orang tanpa malu sedikitpun, itu tandanya Alan sudah menyesali perbuatannya.


"Fira Mama mohon maafkan anak Mama kalau memang dia salah dan berikan kesempatan kepada dia untuk menjadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan Alana," Rima ikut memohon kepada Fira, andai keduanya tahu kalau perbuatan Alan sudah kelewatan pasti mereka tidak akan berani bicara seperti tadi.


Fira tersenyum dan air matanya sudah mengering karena sudah terlalu banyak air mata yang jatuh sebelumnya.


"Fira sudah memaafkan Mas Alan, tapi untuk memberikan kesempatan lagi Fira tidak bisa. Ada alasan yang pada akhirnya akan kalian mengerti, tapi sebelum itu Fira mohon Mas Alan tidak mempersulit semuanya, lepaskan Fira seperti kesepakatan kita dulu, semuanya sudah cukup bagi Fira..."


"Tolong jatuhkan talak untuk Fira dan tandatangani surat perceraian ini saat ini juga. Fira tidak ingin apapun selain hak asuh Alana dan perceraian kita, Fira tidak akan mempersulit Mas untuk menemui Alana nanti, dia tetap anak Mas meskipun Mas tidak menginginkan nya."


Ucapan yang keluar dari mulut Fira memancing Adlan untuk menarik kerah putranya. "Apa maksudnya tidak menginginkan anak kalian?, apa kamu sudah bersikap jahat pada menantuku?, katakan Alan jangan diam saja, kalau sampai kau melakukannya maka bersiaplah untuk tidak lagi menjadi anakku!"


Alan langsung bersujud di kaki ayahnya, dia menangis dan meminta ampun. Alan tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya, namun adlan sadar secara tidak langsung Alan telah mengakui kesalahannya. Adlan mengusap wajahnya kasar, sedangkan yang lain hanya melihat tanpa berniat ikut terlibat, sedangkan Rima sudah menangis karena melihat anak dan suaminya.


"Maaf, saya harus segera pergi, karena besok pagi surat perceraian ini akan segera di proses jika yang bersangkutan tidak menyetujui untuk menandatangani surat perceraian ini, maka kami akan menggugat dengan beberapa bukti yang kami pastikan akan menang dipersidangan nanti. Saya sudah menyarankan hal ini kepada klien saya, tapi dia ingin melakukan secara kekeluargaan dan saya harap semuanya berjalan sesuai kesepakatan," ucap pengacara Fira bernama Sarah yang sudah siap dengan dokumen yang harus ditandatangani oleh Alan.


"Apa kamu akan pasrah saja untuk bercerai? perjuangan istri mu jika memang kamu mencintainya, jangan jadi laki-laki pengecut yang pasrah menerima begitu saja," ucap Adlan memberikan motivasi pada anaknya, dia kecewa pada sahabatnya yang tidak mau memberikan kesempatan kepada Alan.


"Papa akan mendukung kamu untuk tidak menandatangani surat perceraian itu, dan kita akan menyewa pengacara terbaik untuk melakukan banding..." belum selesai Adlan bicara, Safran merasa tak terima dengan ucapan sahabatnya seolah anaknya yang kejam yang tidak mau memberikan kesempatan pada Alan.


"Sejak awal anakmu sudah menjadi laki-laki pengecut, seandainya dia tidak berkhianat mungkin anakku masih mau memaafkan putramu!" timpal Safran

__ADS_1


...****************...


__ADS_2