
Terima kasih yang masih stay, dan yang mau lewat silakan. Mohon maaf atas segala kekurangan cerita ini.
...****************...
Setelah kehilangan bayinya Lisa memiliki Fira sebagai pengganti, tapi sayang dia tidak bisa memberikan ASI kepada bayi mungil ini karena beberapa penyebab salah satunya Lisa melahirkan bayi prematur, mengalami pendarahan yang cukup banyak, stres dan penggunaan cairan infus selama seminggu berturut-turut. Beberapa hal itu mempengaruhi ASI Lisa tidak keluar, mungkin masih bisa diusahakan tapi akan memakan waktu banyak, maka dari itu mereka memutuskan untuk menggunakan susu formula.
Jadi Safero Putra Anugerah dan Syafira Amanda Gami benar-benar tidak memiliki hubungan darah secara langsung. Lalu akan timbul pertanyaan baru, bagaimana Fira dan Alan menikah sementara seorang wanita membutuhkan wali nikah? Sederhananya Fira menggunakan wali hakim, saat akad dia tidak dihadirkan secara langsung. Sementara orang-orang yang berada di ruangan saat akad Fira adalah orang-orang yang sudah tahu dan dapat dipercaya.
Akan timbul lagi pertanyaan, Surat nikah yang selalu Fira bawa bagaimana? masa si nggak pernah baca atau buka sama sekali. Cerita rekayasa dalam rekayasa, Safran sudah menyiapkan semuanya termasuk buku nikah palsu. Saat itu Fira yang polos menandatangani beberapa buku nikah sekaligus, yang imitasi ia pegang sementara yang asli Safran yang simpan.
Semua proses perceraian, pembuatan akta kelahiran Alana Safran yang mengurus dan surat dan data-data yang diperlukan. Fira tidak pernah lengah dalam pengawasan Safran, karena Safran masih berusaha kuat untuk menyembunyikan siapa Fira.
__ADS_1
Lalu di mana Nene Fira? next ya kita bahas.
(Segala jenis pertanyaan membantu aku buat lanjut cerita. Karena ketika memutuskan untuk merubah sedikit alur semuanya sudah dipikirkan).
...****************...
Awalnya Fero tidak menerima kalau Fira saat itu menjadi adiknya, dia tidak berusaha mendekatkan diri pada bayi mungil yang saat ini sudah dibawa pulang ke rumah keluarga Lisa. Fero masih belum terima kalau adiknya sudah tiada dan dengan mudahnya digantikan oleh bayi asing.
"Tinggallah bersama bersama Lia di sini, biar kalian tidak saling kesepian, masalah rumah lama kalian saya akan membelinya dan memberikan atas nama ibu ayu," ucap Safran.
"Saya tidak tahu harus berkata apa, tapi saya ingin mengucapkan terima kasih. Kalau Nak Safran bersedia sebaiknya rumah itu atas nama Fira saja, saya tidak berhak memilikinya, lagi pula saya sudah tua,"
__ADS_1
"Baiklah, jika itu mau ibu saya akan lakukan. Ingat kalau ibu masih memiliki kami sebagai keluarga jangan merasa sendiri lagi. Nanti mamang istri saya yang akan mengantar ibu mengambil pakaian dan keperluan lainnya, Lia juga akan mengantar ibu, barangkali ibu ingin berpamitan dengan orang-orang di sana,"
"Baik, na Safran, lagi pula acara 40 sudah selesai dilakukan jadi saya hanya perlu berpamitan pada tetangga di sana, saya pun akan terus teringat putri saya jika masih tinggal di sana,"
"Ibu betul, nanti sebulan sekali saya akan berkunjung ke sini, membawa anak-anak. Atau kalau ibu rindu sama Fira ibu bisa mengunjungi kami ke Jakarta maka keluarga di sini akan mengantarkan ibu,"
"Baik nak Safran, ibu titip Fira ya, sayangi dia seperti kamu menyayangi anakmu sendiri, maafkan ibu karena membebani kamu dengan merawat seorang bayi. Terima kasih juga untuk Nak Lisa dan keluarga yang sudah berbesar hati menerima cucu ibu," mendengar ucapan Bu Ayu, Lisa pun memeluknya dan justru mengucapkan terima kasih, karena dengan adanya Fira dia tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan.
***
Hari-hari Lisa berjalan dengan baik, meskipun sesekali dia masih teringat putrinya. Foto yang terpajang di dinding saat ia mengandung putrinya dulu masih terpasang, foto itu akan menjadi pengingat kalau dia punya Putri lain yang sudah tiada.
__ADS_1