
Sakit Fira berlanjut hingga harus dilarikan ke rumah sakit malam-malam. Awalnya Fira menganggap sakit perutnya adalah kram biasa dan tidak akan berlangsung lama. Semenjak kandungan Fira memasuki usia 7 bulan Fira sudah memutuskan untuk pindah ke lantai satu, ia menempati kamar tamu. Fira sudah merasa engap karena harus naik turun tangga.
Sesaat setelah berdebat dengan Alan kondisi perut Fira membaik dan memutuskan untuk kembali kebawah. Semua pakaian yang sudah dirapikan dibawa oleh asisten rumah tangga.
Pukul 11.30 Fira merasakan sakit yang hebat, bahkan terdapat cairan seperti air pi*pis yang sudah membasahi baju yang saat itu Fira gunakan. Tanpa banyak drama dia meminta tolong pada Bi Rani yang saat ini sedang menemaninya tidur. Selama pindah kebawah Fira berbohong tidak ingin dekat-dekat dengan suaminya seperti drama ngidam kebanyakan padahal dipikir-pikir usia kandungan Fira seharusnya sudah melewati fase mengidam.
"Bi, bangun," ucap Fira sambil menggoyangkan bahu Bi Rani yang masih asik mengarungi mimpinya, setelah beberapa kali akhirnya BI Rani terbangun.
"Ada apa neng, apa butuh sesuatu?,"
"Bi, aku mohon lakukan dengan tenang. Panggil pak Asep dan siapkan mobil milikku, bibi sudah menaruh perlengkapan bayiku kan di mobil?" sambil menahan sakit Fira masih berusaha bicara.
Bi Rani terkejut "Apa neng sudah mau melahirkan?"
"Aku mohon lakukan dengan tenang,"
"Tapi den Alan harus tahu, neng,"
Fira menggeleng "Bi, tolong," ucap Fira memohon, karena tidak tega akhirnya BI Rani mengikuti keinginan Fira. Bi Rani membangunkan mang Asep yang sedang tidur di kamarnya, sedangkan Bi Rani buru-buru mengganti pakaian.
Kurang dari 15 menit semuanya sudah siap dan berangkat menuju rumah sakit, Fira sudah menghubungi dokter Mira kebetulan jarak rumah dokter Mira tidak terlalu jauh dari RS.
Saking Fira semakin menjadi dan bi Rani ikut panik sementara mang Asep berusaha tenang karena bagaimanapun dirinya yang membawa kendaraan. Sesampainya di rumah sakit dokter Mira sudah menyambut Fira dengan beberapa perawat disampingnya untuk membantu Fira. Kamar sudah disiapkan, kemudian dokter langsung melakukan pemeriksaan, ternyata air ketuban Fira sudah hampir kering, ia harus segera melakukan tindakan.
"Fir, harus ada penanggung jawab untuk melakukan tindakan operasi. Apa kamu tidak membawa suami mu?" Fira menggeleng, apa tidak bisa kalau tanpa persetujuan suami. dokter mengangguk.
"Aku tidak ingin menghubunginya, apa boleh diwakilkan oleh supir mas Alan saja," ucap Fira konyol.
__ADS_1
"Mana mungkin Fir,"
Tak lama kemudian terdengar langkah dari dua orang yang berlarian, beberapa saat kemudian mereka pun ada di hadapan Fira.
"Biar saya yang akan menandatangani persetujuan untuk melakukan operasi, saya yang lebih berhak bertanggung jawab," ucap laki-laki paruh baya yang tak lain adalah ayah Fira.
"Papa, Mama..."
"Iya sayang, kami di sini," ucap Lisa dan Safran memeluk putrinya.
"Dari mana kalian tahu aku ada di sini?"
"Mama memiliki firasat yang tidak enak, Mama menghubungi ponsel mu dan diangkat oleh supir kalian, dia yang memberi tahu kalau kamu ada di rumah sakit saat ini. Kami langsung kemari,"
"Ohh iya hape ku tertinggal di mobil,"
"Sudah tidak apa-apa. Sekarang segera proses kelahiran cucu saya dok, berikan perawatan yang terbaik saya tidak ingin terjadi apaapa dengan cucu dan anak saya," ucap Safran.
Semua prosedur telah diselesaikan, saat ini Fira sudah berada diruang operasi untuk bertarung melahirkan putrinya. Fira berjuang sendiri di dalam tanpa adanya suami yang mendampingi, tapi itu pilihan Fira. Alan sejak awal tidak menginginkan kehadiran putrinya, jadi bukan masalah saat dia harus berjuang sendiri.
Di luar ruangan kedua orang tua Fira sedang berdoa sambil harap-harap cemas. Lisa sudah menjelaskan situasi pernikahan Fira, namun dia tidak mengatakan kalau Alan sudah memiliki istri lain, sesuai janjinya pada Fira kalau dia harus tetap diam sampai Fira bercerai dari Alan.
Safran terus menangis, berada di situasi saat ini teringat dulu saat Lisa akan melahirkan Fira. Istrinya mengalami pendarahan dan sempat koma selama beberapa hari, kini Safran takut hal itu akan terulang lagi.
"Pa, apa sebaiknya kita hubungi Adlan dan Rima saja?" tanya Lisa pada suaminya.
"Tidak perlu, ketika Fira memutuskan untuk tidak memberi tahu suaminya, berarti Fira tidak ingin siapapun tahu dulu. Kita tunggu sampai cucu kita lahir," Lisa hanya mengangguk menyetujui.
__ADS_1
Kurang dari satu jam bayi berjenis kelamin perempuan, dengan berat 3,2 kg dengan tinggi badan 45cm telah lahir dengan selamat melalui proses operasi sesar. Putri Fira langsung menangis dan suster langsung menyerahkan bayi pada Fira untuk IMD. Fira menangis haru, bayi yang selama sembilan bulan menemaninya dalam kandungan kini sudah berada dalam pelukan.
"Selamat datang Putri momy, kamu cantik sekali. Momy janji akan jadi momy terbaik untuk kamu," ucap Fira pada bayinya yang tengah asik menye*sap sumber kehidupannya.
"Selamat ya Fir, saya yakin kamu adalah ibu yang kuat. Putri mu pasti bangga memiliki ibu seperti mu," ucap dokter Mira tulus
"Terima kasih, dok. Terima kasih untuk semuanya,"
"Sudah tugas saya,"
Perjuangan Fira benar-benar tidak mudah, dia mengalami pendarahan hebat karena ra*him tidak berkontraksi hingga hal itu menyebabkan pendarahan pasca melahirkan. suster langsung berhamburan mengambil stok darah yang tersedia, sementara para dokter berusaha menghentikan pendarahan.
"Pa, kenapa mereka berlarian? apa terjadi sesuatu dengan putri kita?. Bagaimana ini, Pa,"Mama Lisa perasaannya sudah tidak karuan, begitu juga dengan Safran.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk Fira,"
Tak lama kemudian suster membawa bayi Fira keluar. "Pak, ini bayinya. Apa pihak dari keluarga ada yang akan mengazankan?"
"Saya, Sus," sahut Safran langsung berdiri. "Bagaimana keadaan Putri saya?"
"Berdoa saja Pak, dokter sedang melakukan penanganan, nanti akan ada dokter yang menjelaskan kondisi putri bapak,"
"Baik, Sus. Terima kasih," Safran mengazani cucunya dengan penuh keharuan, seharusnya Alan yang melakukannya, tapi laki-laki itu tak kelihatan batang hidungnya. "Cucu opa cantik sekali," Lisa ikut mengangguk setuju, memang benar kalau cucunya cantik.
Setelah selesai mengazani bayi Fira dibawa ke ruang perawatan bayi, Lisa mengikuti suster ketika cucunya di bawa ke ruangan bayi. Dia hanya ingin melihat ruangan mana yang akan ditinggali cucunya untuk sementara waktu, terlebih Lisa masih ingin menggendong cucunya tapi suster melarang bayi yang baru lahir berada di suhu ruangan tinggi, apalagi banyak diluar sedang banyak virus.
***
__ADS_1
Satu jam kemudian Fira berhasil ditangani dan pendarahannya sudah hampir berhenti. Kepanikan sempat terjadi karena pendarahan pasca melahirkan bisa berakibat fatal , salah satunya kematian.
Safran terus berdoa untuk anaknya, dia meminta keselamatan dan kesehatan untuk anaknya. Setelah ini dia berjanji akan mengikuti keinginan Fira, apapun itu.