Menikah Mudah

Menikah Mudah
??


__ADS_3

kembali ke Indonesia, ia ingin memberikan kejutan kepada keluarganya dengan kepulangannya yang tiba-tiba. Awalnya Fero memutuskan untuk menetap diluar negeri karena ia tidak tidak ingin menderita sendirian, bagaimana pun perasaannya harus dilindungi.


Namun ia mendapatkan kabar dari sahabatnya kalau seseorang telah berpisah. Bukannya sedih mendengar hal itu, ia justru bahagia k dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia.


"Bu, den Fero sudah kembali dari luar negeri sekarang sedang beristirahat di kamarnya," ucap Bi Dwi asisten rumah tangga Lisa.


Lisa yang baru pulang dari arisan bersama teman-temannya pun terkejut " Hah yang benar? Bukannya satu minggu lagi dia baru tiba di Indonesia,"


"Saya tidak tahu Bu, tapi saya senang akhirnya bisa melihat den Fero lagi. Lumayan lama juga ya Bu dari zaman lulus SMA, saya sampe kaget soalnya Den Fero makin dewasa dan tampan," ucap Bi Dwi terus memuji majikan mudanya.


Berbeda dengan Lisa, kepulangan Fero justru menjadi hal yang sedikit mengkhawatirkan, bukan tidak merindukan putranya tapi saat ini situasinya sedang tidak cukup baik. Lisa lebih memilih mengunjungi putranya setiap beberapa bulan sekali ketimbang Fero pulang ke Indonesia, Lisa dan Safran sudah beberapa kali menjodohkan Fero dengan anak dari rekan bisnisnya tapi anaknya selalu menolaknya, sahutnya dia akan melajang seumur hidup, jika bukan menikahi wanita yang ia cintai.


Lisa langsung berlari ke arah kamar Fero dan bertanya perihal kepulangannya, ia benar-benar penasaran meskipun dari jauh hari Lisa dan Safran melarang Fero kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Namun Fero sungguh paham maksud kedua orangtuanya.


Tanpa mengetuk pintu Lisa masuk ke dalam kamar Fero yang tidak di kunci, di dalam kamarnya Fero sedang mengistirahatkan tubuhnya, mungkin setelah ini dia akan berdebat banyak dengan kedua orangtuanya.


Melihat Fero yang sedang terlelap akhirnya Lisa memutuskan untuk keluar dan menghubungi suaminya.


Tut...Tut..Tut


"Halo, Ma. Ada apa tumben telpon?"


"Papa masih di kantor?"


"Ya masih Ma, memangnya di mana lagi?,"


"Pa, Fero sudah kembali, saat ini dia ada di rumah," ucap Lisa terus terang.


"Apa! bukankah Minggu depan dia baru kembali?"

__ADS_1


"Mama juga nggak paham, sebaiknya Papa segera kembali ke rumah,"


Terdengar tarikan napas dari suaminya, pertanda semuanya cukup tidak baik "Baiklah Papa akan segera pulang,"


Panggilan telepon pun sudah diakhiri, sambil menunggu suaminya pulang, Lisa memutuskan untuk membersihkan diri dan mengumpulkan kekuatan untuk berdebat dengan sang putra.


Pukul 3 sore Safran sudah kembali dari kantor dan langsung menghampiri istrinya yang sejak tadi menunggu kepulangan suaminya.


"Dimana dia?"


"Masih tidur di kamarnya,"


"Panggil dia ke sini?"


"Pa, sebaiknya tenang dulu, papa baru sampai. Bagaimana kalau Papa membersihkan diri dulu, sebentar lagi azan ashar, setelah itu baru kita bicara dengan Fero," Safran pun menuruti kata-kata istrinya, bagaimana pun dia tidak ingin tersulut emosi disaat dirinya belum benar-benar tenang.


"Apa tujuan mu kembali lebih cepat ke Indonesia?" tanya Safran tegas.


"Bukankah sudah saatnya aku kembali, Papa dan Mama sudah terlalu lama mengirim ke luar negeri dengan alasan sekolah dan bekerja,"


"Apa maksud kamu?" tanya Papa Safran.


"Apa masih kurang jelas, kalau Papa dan Mama mengirim ku keluar negeri adalah untuk memisahkan aku dari Fira," sahut Fero.


"Papa semakin tidak mengerti apa maksud kamu bicara seperti itu, yang jelas belajar diluar negri bukan sepenuhnya keinginan Papa. Kamu sendiri yang memutuskan untuk pergi,"


"Aku pergi karena Papa mengancam akan membawa Fira pergi, dan saat itu aku tidak punya pilihan lain,"


"Fer, sadar. Fira itu adik kamu, kalian anak Mama dan Papa yang sama-sama kita besarkan. Kenapa kamu seperti ini, Fer," timpal Lisa.

__ADS_1


Fero tersenyum tipis "Fira memang adikku tapi aku mencintai dia Ma, aku tidak ingin menganggap dia sebagai adikku, apa aku salah, Ma, Pa?"


"Jelas salah Fero, mana mungkin seorang kakak mencintai adiknya sama seperti mencintai lawan jenisnya, ini tidak benar Fer. Papa mohon jangan seperti ini," Safran sudah benar-benar kesulitan untuk meyakinkan Fero, sepertinya putranya sangat keras kepala.


"Aku tidak salah! justru kalian yang salah memisahkan aku dari wanita yang aku cintai. Bahkan dengan tega kalian menjodohkan Fira dengan laki-laki brengsek seperti Alan, kalian tidak memberikan kebahagiaan untuk dia, justru sebaliknya. Aku mohon kali ini biarkan aku yang akan membahagiakan Fira, izinkan aku melakukannya..."


"Jika kalian takut nama kalian tercoreng, biarkan aku membawanya ke luar negeri. Kalian cukup merestui kami dan aku akan membahagiakan dia dan putrinya selamanya,"


Safran dan Lisa terkejut mendengar apa yang dikatakan Fero "Fero! jangan keterlaluan kamu, bagaimana bisa kamu bertindak sejauh ini. Papa benar-benar kecewa dengan apa yang kamu katakan. Kami mohon biarkan semuanya seperti ini, kamu dan Fira tetap menjadi anak Papa sekarang dan seterusnya,"


"Apa bedanya Pa, saat nanti aku menikahi Fira aku akan tetap jadi anak kalian begitu juga Fira...."


"Fero, Mama mohon sayang. Dunia tahunya Fira adalah anak kami begitu juga kamu, apa kamu tega membuat adikmu sedih." Lisa ikut memohon kepada Fero agar putranya tidak meneruskan keinginan konyolnya.


"Kenapa kalian egois seperti ini, aku tidak pernah menjadi anak yang mengecewakan bahkan sampai detik ini. Tapi kalau kalian menganggap keinginan ku menikahi Fira adalah sebuah kesalahan, katakan padaku dimana letak kesalahan itu. Aku bukan anak kecil yang tidak mengerti apapun, aku tahu apa yang benar dan tidak. Sekarang aku tidak peduli lagi dengan semuanya, dengan atau tanpa restu kalian aku akan menjelaskan pada dunia mengenai aku dan Fira..."


"Apa kamu akan bertindak sejauh ini Fer, Papa mohon Fira sudah terlalu banyak menderita, apa kamu akan menambah beban kesedihannya lagi? biarkan dia bahagia dengan kehidupan barunya, dan kamu pun bisa memulai kehidupan mu sendiri. Papa mohon Fer, jangan buat Fira semakin terluka lagi dengan apa yang akan kamu lakukan,"


Fero terdiam mendengar ucapan Papanya, tapi dia akan tetap pada pendiriannya.


"Apa kalian tahu betapa menderitanya aku saat kalian menikahkan Fira dengan alan, aku pura-pura bahagia untuk mereka berdua, menelpon dan mengucapkan selamat tapi hatiku hancur. Saat di mana aku mendengar kehamilan Fira hatiku lebih hancur karena aku berpikiran kalau dia sudah bahagia. Sampai akhirnya aku berhenti mengabari mereka, tapi saat aku mendengar Fira bercerai aku justru sangat bahagia, itu artinya aku memiliki kesempatan untuk memilikinya,"


"Kalian tidak bisa terus menerus menutupi kenyataan sebenarnya dan mengorbankan kebahagiaan anak kalian. Jika aku tidak bisa memiliki Fira makan kalian pun tidak akan bisa memiliki nya sebagai anak,"


Setelah mengucapkan itu, Fero langsung meninggalkan kedua orangtuanya. Safran dan Lisa benar-benar kehabisan kata-kata dan akhirnya yang ditakutkan terjadi juga .


...****************...


Aku baru menulis lagi. Semangat nya lagi kendur. Yang masih mau baca silakan tapi kalau ceritanya membosankan dan bertele-tele atau lama update nya kalian oleh nyari bacaan yang lebih baik dari tulisan aku. Terima kasih yang sudah membacađź’•đź’•

__ADS_1


__ADS_2