Menikah Mudah

Menikah Mudah
Benar-benar menyesal


__ADS_3

Saat Azan subuh berkumandang Alan langsung terbangun, pagi ini rasanya haus sekali terpaksa ia harus turun ke lantai satu untuk mengambil air minum. Alan melangkahkan kakinya seperti tujuan awalnya yaitu untuk mengambil air minum, saat akan naik lagi ke lantai atas dia tidak sengaja melihat pintu kamar yang biasa ditempati Fira terbuka.


"Tumben pintunya terbuka," dengan penuh rasa penasaran Alan mendatangi kamar tamu tersebut, ternyata tidak ada siapa-siapa, tempat tidur pun masih berantakan. Alan langsung berteriak memanggil Bi Rani, biasanya dia sudah sibuk di dapur setelah shalat subuh. Bi Rani tidak menyahut akhirnya dia mengetahui pintu kamarnya, namun tak ada jawaban juga. Alan semakin panik, apalagi Fira tidak ada. Alan berusaha tenang dan ia berlari ke arah pos satpam, ada pak Ujang yang baru saja berwudhu dan akan menjalankan shalat di mushola rumah Alan yang terletak tak jauh dari pos satpam.


"Pak," panggil Alan mengejutkan.


" Eh, ya Allah," sahutnya a terkejut.


"Ada apa, Den?"


"Orang-orang pada ke mana, semuanya tidak ada. Fira, Bi Rani, mang Asep . Mereka semua kemana?," tanya Alan tergesa


"I...itu den, mereka sedang pergi ke rumah sakit"


"Ada apa, apa Fira sakit?" tanya Alan khawatir.


Mang Ujang menggeleng "Neng Fira melahirkan, Den,"


...Degggggggg...


Alan lemas mendengar kenyataan kalau anaknya telah lahir kedunia tanpa sepengetahuannya.


"Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya!, bukankah kelahirannya masih seminggu dari sekarang?" ucap Alan kesal.


"Neng Fira yang melarang, Den," sahut Mang ujang menunduk, Alan mengusap wajahnya kasar, sepertinya Fira tidak akan pernah memaafkan dirinya.


"Saya harus segera ke rumah sakit," ucap Alan yang akan langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Den Alan sudah shalat subuh?" tanya mang Ujang

__ADS_1


"Ya ampun, mang Ujang belum shalat kan?" mang Ujang menggeleng.


"Yasudah kita jama'ah,"


**


Setelah menjalankan shalat subuh, Alan langsung mengendarai mobilnya ke rumah sakit seperti yang sudah diberi tahu kalau Fira ke rumah sakit yang ia biasa kunjungi. Sesampainya di sana Alan langsung berlari ke meja informasi untuk mencari tahu di mana istrinya. Setelah mengetahuinya Alan langsung berlari untuk sampai ke ruangan Fira.


Dengan napas yang masih tersengal-sengal Alan langsung mendatangi ruangan observasi yang diberitahukan petugas rumah sakit, di sana sudah ada mertuanya dan juga bi Rani yang menunggu di luar karena Fira tidak boleh sembarang dijenguk. Perempuan yang baru akan berusia 18 tahun itu belum sadarkan diri, kondisinya masih dikatakan kritis karena pendarahan pasca melahirkan cukup banyak.


"Assalamualaikum,"


Ketiganya menyahut.


"Wa'alaikumussalam,"


Lisa bersikap acuh melihat wajah menantunya, teringat kemarin siang kalau laki-laki itu sudah mengkhianati anaknya. Lisa tidak memperdulikan saat Alan mencium tangannya, sedangkan Safran berusaha biasa saja.


"Dia mengalami pendarahan, dan belum sadarkan diri," sahut Safran apa adanya.


Mata Alan langsung berkaca-kaca, rasa bersalah lagi-lagi menghantuinya. Perlakuannya selama ini begitu menyakitkan untuk Fira, bahkan saat ini istri kecilnya sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Lalu bagaimana keadaan anakku, Pa?" tanya Alan yang tiba-tiba mengakui anak Fira, padahal ia tidak menginginkannya.


"Anak Fira maksud mu?" timpal Lisa yang tidak mengingatkan Alan kalau dia tidak menginginkan cucunya.


"Ma.." Safran berusaha menenangkan istrinya.


"Memang benar Pa, Alan tidak pernah menginginkan cucu kita lahir. Fira selama ini berjuang sendiri untuk mengandungnya, Alan memiliki ketakutan kalau anaknya akan bodoh seperti ibunya, tidak sesempurna dia. Mama menyesal telah setuju dengan rencana perjodohan ini, bahkan kita berjuang untuk memiliki anak perempuan, 10 tahun Pa, 10 tahun agar bisa dijodohkan dengan laki-laki seperti dia," tunjuk Lisa dengan emosi yang sudah tidak bisa di tahan.

__ADS_1


"Kita merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang, memberikan yang terbaik yang kita bisa. Tapi dia malah meng..." ucapan Lisa tertahan karena hampir saja dia mengatakan yang sebenarnya .


"Kenapa Ma?" ucap Safran penasaran


"Sudahlah, Mama sudah tidak berselera menguliti kebodohan menantu Papa. Aku lebih memilih persahabatan kita hancur dari pada anakku jadi korban seperti ini," Lisa sudah tidak bisa menahan tangisnya, Safran langsung menenangkan istrinya, ia tahu bagaimana perasaan istrinya yang terlanjur kecewa, begitupun dirinya.


Alan benar-benar merasa bersalah dan berlutut dihadapan kedua mertuanya.


"Pa, Ma. Maafkan aku, aku bersalah. Sungguh aku bersalah karena telah menyia-nyiakan Fira. Aku janji akan memperbaiki semuanya dan menebus semua kesalahanku," Alan menangis dan berucap dengan penuh ketulusan, namu. orang tua Fira tidak peduli.


"Bangunlah jangan merusak harga diri mu seperti ini, kami yang salah karena telah memaksakan perjodohan ini. Saya sebagai ayahnya akan mengambil kembali tanggung jawab darimu, saya sudah cukup memberikan kesempatan kepadamu waktu itu, dan semua terulang lagi... Saya juga tahu kalau kamu mengkhianatinya, kamu menikahi wanita lain saat Fira masih berstatus sebagai istri mu..." ucapan Safran membuat ketiganya terkejut terutama bi Rani, sementara istrinya yang berusaha menyembunyikan ternyata suaminya tahu.


"Pa, Papa tahu dari mana?" tanya Lisa terkejut.


"Papa tahu dari awal Ma, bahkan saat dia sering datang ke Kafe Fira dengan wanitanya saat itu, Alan pun sering datang ke rumah sakit ini untuk sekedar makan siang dengan wanitanya sedangkan anak kita memeriksa kandungan seorang diri. Papa tahu semuanya, bahkan 3 bulan lalu saat pernikahannya,"


"Papa juga tahu rencana Fira yang akan bercerai setelah melahirkan, jadi Papa hargai keputusan Fira. Papa berusaha tenang dan baik-baik saja dengan semua ini, sebab jika Papa bertindak harga diri Fira akan terluka. Anak kita berusaha mandiri, dia sudah dewasa dan menghadapi masalahnya sendiri, Papa tidak ingin melukainya dengan terlibat secara langsung, kita hanya perlu mendukungnya, selamanya dia akan menjadi permata kita," Lisa kembali menangis, dia benar-benar tidak menyangka kalau suaminya mengetahui hal ini.


Bi Rani yang mendengar hal itu pun tak henti-hentinya menangis, ternyata selama ini majikan kecilnya sangat menderita.


"Pa, maafkan aku, aku bersalah, tolong berikan aku kesempatan lagi. Aku berjanji akan menceraikan Dinda asalkan Papa memaafkan aku.


Safran tersenyum sinis "Ternyata Adlan benar-benar membesarkan seorang baju*Ngan, padahal mereka orang baik," ucap Safran menyindir.


"Jangan menjadi laki-laki bodoh untuk kesekian kalinya, cukup anak saya yang kamu sakiti jangan yang lainnya. Kamu juga harus tahu kalau istri mu yang lain sedang mengandung, dan anak itu lahir dari wanita yang kamu cintai, Fira biar menjadi urusan saya,"


Alan terus bersimpuh di kaki Safran, menangis dan menyesali semua perbuatannya, namun suaminya terlambat.


**

__ADS_1


Doakan aku update lagi hehe


__ADS_2