Menikah Mudah

Menikah Mudah
Merahasiakan


__ADS_3

Diperjalanan pulang Alan memikirkan banyak hal, dia merasa bersalah karena sudah mengantarkan seorang wanita yang bukan muhrimnya, sedangkan ia sendiri lupa menjemput istrinya sendiri. Namun perasaan itu tidak bisa dibohongi, Alan masih sangat menyukai Dinda, bahkan Fero yang tak lain Kaka iparnya pun mengetahui hal ini, karena mereka bersahabat sejak di bangku SD.


"Alan ko kamu diam saja, apa ada hal yang menggangu mu?" tanya Dinda penasaran, Karen sejak tadi Alan hanya fokus menyetir.


"Hah... aku tidak apa-apa, hanya saja masih tidak percaya bisa bertemu dengan kamu setelah sekian lama. Hal apa yang membuat kamu memutuskan untuk kembali ke Jakarta?"


"Ohhhh aku pikir kamu males satu mobil sama aku. Setelah kuliah dan mengambil spesialis bedah, aku mengabdi beberapa waktu di sebuah rumah sakit yang direkomendasikan oleh kampus, setelah cukup ilmu dan pengalaman aku memutuskan untuk kembali. Sebenarnya aku sering pulang ko, tapi aku tujuanku hanya rumah dan keluarga. Aku tidak punya waktu untuk berkumpul dengan teman-teman, atau sekedar saling menyapa saat pulang. Aku benar-benar memutuskan untuk menyelesaikan pendidikan ku dengan baik," Dinda menceritakan alasan mengapa selama ini dirinya terkesan menghilang.


"Wah, pantas saja, ambisi mu sejak dulu tak pernah surut, di sekolah aku, Fero dan kamu saja yang bersaing untuk menjadi yang terbaik, yang lain seolah tak perduli. Aku sulit membayangkan jika kita bertiga punya pasangan yang sama ambisiusnya, rasanya akan sama-sama egois, tidak ingin kalah dan mengalah karena selalu ingin jadi pemenang," ucap Alan diakhiri dengan senyuman tipis.


"Haha apa yang kamu katakan ada benarnya, bahkan perempuan seusia ku sudah memiliki lebih dari satu anak. Aku juga ingin hidup normal seperti itu, namun aku harus lebih dulu mewujudkan impian ku ini, setelah ini aku akan fokus pada kehidupan pribadi ku."


"Yakin kamu akan memikirkannya? aku merasa saat aku mencapai satu impian maka tekad ku lebih kuat untuk menggapai impian yang lainnya. Aku pun bingung cara menghentikannya,"


"Ya, memang seperti itu realitanya. Setidaknya aku bahagia telah mewujudkannya, aku harap kamu pun demikian."


"Entahlah," sahut Alan tersenyum tipis.


Setelah lebih dari setengah jam akhirnya Alan berhasil mengantarkan Dinda pulang ke rumahnya.


"Aku ingin mengajak mu mampir, tapi ini sudah malam. Kapan-kapan kita harus saling bertemu lagi, ajak Fero juga,"..


"Hhmh baiklah,"

__ADS_1


Setelah mengantar Dinda, Alan langsung pulang untuk memastikan kalau istrinya sudah kembali dari rumah mertuanya. Namun kenyataannya tidak demikian, waktu sudah menunjukkan pukuk 11 malam menjemput pun rasanya tidak mungkin.


Alan membersihkan diri dan mengganti pakaian yang sebelumnya ia gunakan. berbaring dengan nyaman di tempat tidur, Alan akan segera mengambil hape yang beberapa saat ia letakkan diatas nakas. Ingin mengunjungi Fira, namun ia baru menyadari kalau dirinya tak memiliki nomor ponsel Fira, awalannya dia akan meminta pada Bi Rani, namun ia urungkan karena asisten rumah tangganya pasti akan mengadukan perihal ini pada Mamanya.


Sejujurnya Alan sedikit menyesali keputusan orangtuanya yang menjodohkan dirinya dengan seseorang yang masih anak-anak, bahkan tidak sebanding dengan dirinya dalam hal akademik. Namun Alan sudah terlanjur menerima perjodohan ini, mau tidak mau, sukak tidak suka harus ia terima. Namun kedepannya ia tidak tahu akan seperti apa rumah tangga nya.


***


Keesokan harinya terjadi kegaduhan di rumah milik Fira, karena orangtuanya menyangka kalau Fira sudah pulang namun nyatanya Fira turun dari lantai atas kamarnya dengan seragam yang sudah rapih.


"Fira, kamu masih di sini?" tanya Mama tidak percaya.


"Heeummm, memangnya dari mana lagi, Ma"


Mama Fira terus bicara, tanpa memikirkan bahwa Fira merasa tertekan dengan hubungan pernikahannya, banyak hal yang tidak sesuai dengan kepribadiannya, kalau boleh Fira ingin menikah dengan orang yang seperti dirinya, orang yang tidak akan pernah melihat satu sisi yang berbeda dalam dirinya, atau laki-laki yang menghargai wanitanya.


"Ma, tidak bisakah aku tetap tinggal dengan Mama dan Papa di sini, setidaknya sampai aku menyelesaikan sekolah ku. Rasanya aku tidak siap berpisah dengan kalian," kilah Fira, sejujurnya dia sudah merasa tidak ada apa-apanya untuk menjadi istri dari seorang laki-laki jenius.


"Tidak bisa Fira! kamu harus belajar mandiri mulai sekarang. Mama hanya ingin kamu menjadi istri yang baik, setelah lulus nanti kamu bisa segera memberikan Mama cucu," ucap Mama, membuat Fira tersenyum miris.


"Cucu? orang tua lain mengharapkan anaknya jadi orang sukses, bisa meraih cita-cita dan impiannya. Sedangkan aku harus diam di rumah dan melahirkan anak. Apa aku sebodoh itu ya, Ma? sampai-sampai aku tidak berhak memiliki impian," ucap Fira membuat sang Mama merasa bersalah. Sedangkan Papanya lebih merasa bersalah lagi, karena putrinya harus menjadi korban dari persahabatannya.


"Bu...bukan begitu sayang, kata siapa kamu bodoh, di mata Mama kamu anak yang paling cerdas dan membanggakan. Mama bersyukur bisa memiliki kamu dan kak Fero, kalian anak-anak kebanggaan Mama." Mama Fira berusaha menghibur anaknya agar tidak merasa sedih.

__ADS_1


"Sudahlah, aku tau Mama menyayangi ku buktinya Mama tidak pernah malu memiliki anak bodoh seperti ku, Mama pasti kesulitan untuk membanggakan aku di depan teman-teman Mama, tapi Mama masih punya ka Fero, dia cukup membanggakan untuk diceritakan, secara kak Fero sangat-sangat sempurna sebagai seorang anak,"


"Bu..bukan seperti itu..." sanggah Mama nya merasa bersalah.


"Sudah Ma, tidak apa-apa. Oiya Pa, aku harap kalian berdua segera memenuhi janji kalian untuk menghadiahi aku sebuah Kafe. Aku masih punya impian untuk mengelola sebuah kafe dan membuat kreasi kue yang selama ini menjadi Fashion ku. Aku harap Papa dan Mama tidak melupakan hal itu. Fira memutuskan untuk duduk di meja makan sambil menagih janji kedua orang tuanya, hari ini dia tidak nafsu untuk sarapan.


"Maafkan Mama mu, sayang. Jika menyinggung perasaan mu, kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan masa depan kamu termasuk pasangan yang akan menjadi pendamping mu. Masalah janji kami, kamu tidak perlu khawatir, Papa sudah meminta asisten Papa untuk mencari lokasi yang strategis sesuai keinginan kamu. Dan beberapa waktu lalu Papa sudah mendapatkan kabar kalau kafe kamu ada di pusat kota, yang mana kafe kamu berada di tengah-tengah, sisi kiri universitas dan sisi lainnya rumah sakit. Apa kamu suka?"


Fira mengangguk. "Baiklah, jadi kapan aku bisa melihatnya?" tanya Fira


"Semuanya sedang proses renovasi, setelah jadi akan Papa kabari,"


"Baiklah. Tapi aku memiliki satu permintaan lagi buat kalian,"


"Apa itu sayang?"


"Rahasiakan kepada siapapun kalau kafe itu adalah milikku. Aku ingin mengurusnya dengan tenang, mereka tidak datang karena itu kafe milik ku, tapi mereka datang karena makanan yang tersedia di tempat ku menjualnya,"


"Baiklah, kami akan merahasiakannya. Sekarang kamu harus sarapan sebelum berangkat sekolah, dan kabari suamimu agar dia tidak cemas," ucap Mama menimpali.


Cemas apanya bahkan dia tidak mencoba mencari aku atau menjemput ku di sini.


***

__ADS_1


__ADS_2