Menikah Mudah

Menikah Mudah
1 Tahun kemudian


__ADS_3

Dinda berusaha untuk baik-baik saja karena bagaimanapun dia adalah seorang dokter yang paham bahwa saat ini ia memiliki nyawa lain yang harus di jaga. Bukan tidak kecewa atau marah tapi semuanya sudah terjadi, kali ini ia memilih egois dan tetap bertahan dengan Alan, banyak hal yang harus ia pikirkan selain anaknya ada juga keluarganya.


Dinda merasa sudah berkorban karena bersedia menikah siri dengan Alan, apalagi yang dikatakan Mama Alan kalau Fira sudah berkorban dan mengalah untuk dirinya, maka semestinya dia menjaga pernikahan ini selamanya, semoga saja Allah merestui.


Dilain tempat Fira sudah merasa lega, saat ini ia hanya ingin menata hatinya dan hidup dengan baik bersama putrinya. Alana adalah nama yang ia ambil dari penggalan nama Alan namun ternyata memiliki makna yang baik. Bohong jika Alana tidak memiliki perasaan selama satu tahun ini, perasaan terus tumbuh dan berkembang hingga akhirnya dia harus mencabutnya hingga ke akar. Alan bukanlah jodohnya.


"Apa rencana mu selanjutnya sayang? Papa akan selalu mendukung kamu," tanya Safran saat ia menghampiri anaknya di kamar yang dulu Fira tempati.


"Untuk saat ini biarkan seperti ini dulu. Setelah semuanya membaik aku ingin hidup mandiri dengan Alana, Pa. Aku tidak menginginkan hal lainnya, selain hidup tenang," Safran mengerti perasaan putrinya, bagaimana pun semuanya tidak mudah, apalagi usia Fira masih 18 tahun.


***


1 tahun kemudian....


Waktu berlalu dengan cepat, Fira benar-benar sudah membuktikan bahwa dirinya bisa hidup dengan baik tanpa seseorang yang mendampingi dirinya. Beberapa kali Alan berusaha menemui Alana, namun saat itu Alana menolak bertemu dengan mantan suaminya karena, dia belum siap bertemu dengan Alan, atau mungkin tidak ingin menyakiti hati wanita lain yang saat ini menjadi istrinya.


Enam bulan yang lalu Fira memutuskan untuk pindah keluar kota, tepatnya ke kota Bandung tempat kelahiran Mama nya. Fira memutuskan untuk menghindar dari situasi sebelumnya, pada akhirnya dia akan risih dengan kedatangan Alan dan terus memaksa untuk bertemu dengan dirinya, dan juga Alana.


Adlan dan Rima tidak bisa berbuat banyak untuk membantu anaknya, bagaimana pun mereka sudah mengecewakan sahabatnya dan mereka akan menghargai setiap keputusan yang diambil oleh keluarga Safran.


***


"Neng, Alana sudah dimandikan belum?" tanya bi Lia adik dari Mama Lisa.


"Belum bi, aku masih sibuk memeriksa urusan Kafe, sebentar lagi ya Bi," sahut Fira yang masih fokus pada laptopnya.


"Ai kamu neng masih ngurusin kerjaan aja, itu ashar udah lewat, udah shalat belum?" omel Bi Lia karena keponakannya yang so sibuk.

__ADS_1


"Hehe maaf bi, aku lagi halangan. Bibi ada apa datang ke sini?" tanya Fira yang memang rumah Bi lia tidak jauh dari rumah yang Fira tempati, yang tak lain rumah milik Lisa tempat tinggal mereka saat mudik atau sekadar berkunjung.


"Naha kudu nanya ada apa, da bibi mah pengen liat neng Alana cantik. Liat itu sama kamu mukanya udah caremot sama selai roti," Bi Lia hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Alana yang anteng denga roti selai coklat yang diberikan Fira.


Fira pun menoleh " Ya ampun sayangnya Mommy, ko muka cantiknya jadi ternoda gini, uluh uluh maafin mommy ya. Yuk mandi yuk, nanti Nini Ali ngomel lagi hehe,"


"Lia Fira, Lia. Seenak jidat ngeganti nama orang," sahutnya dengan muka pura-pura kesal.


"Haha, tuh kan sudah mulai murka, yuk lari," Fira pun berlari seolah bibinya benar-benar menyeramkan.


Begitulah aktivitas Fira selama di Bandung, saat ini dia sudah mulai bisa mengurus keuangan kafe miliknya, hal itu tak luput dari campur tangan Ana yang membantu Fira. Sofi masih menjadi orang kepercayaan Fira untuk membantu mengurus kafe yang ada di Jakarta sedangkan saat ini dia membuka kafe baru yang dibantu oleh Ana. Ana sekalian meneruskan kuliahnya di universitas terbaik yang ada di kota Bandung, sedang Fira memilih mengurus anak dan kadang ikut membantu di Kafe.


Pukul 8 malam Ana memarkirkan motornya di depan rumah yang saat ini ia tempati bersama Fira. Aktivitas ana lebih padat dari Fira, hal itu karena Ana harus fokus pada kuliah dan juga tanggung jawabnya sebagai pengelola kafe.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumussalam, sudah pulang, An?" tanya Fira.


"Alhamdulillah ya kalau semuanya berjalan lancar, aku jadi tidak pusing membiayai kuliahmu haha," sahut Fira bercanda.


"Haha, terima kasih mommy Fira sudah bersedia mengadopsi aku menjadi anakmu haha,"


"Tentu saja, bahkan jodohmu sudah aku persiapkan,"


"Ya ampun ga perlu repot-repot jodoh mah urusan Allah, udah ah jadi ngaco gini,"


"Kak Fero Minggu besok balik dari Australia, sekolah dan pengabdiannya di sana sudah selesai. Setelah pulang dari sana dia mau aku kenalin sama kamu,"

__ADS_1


Ucapan Fira sontak saja membuat Ana salah tingkah, meskipun belum pernah melihat sosok Kaka Fira, tapi dirinya sudah merasakan getaran yang aneh.


"Jangan Fir, kamu udah pernah jadi korban jodoh jodohan dan gagal. Semua orang berhak menentukan pilihannya, apalagi kakak kamu orang berpendidikan dan memiliki karir yang cemerlang. Seperti mantan suami mu yang perfeksionis maka sepertinya tidak akan jauh berbeda,"


"Belum apa-apa udah insekyur, Papa dan Mama ngedidik kita dengan baik, nggak pandang bulu yang penting hatinya baik."


"Ya nggak aku juga Fir, aku juga mau cari pasangan yang se level dengan aku. Biar sama-sama pengertian,"


"Dih, bisa gitu,"


"Ngomong-ngomong kakak kamu sudah tahu perihal perceraian kamu?" tanya Ana penasaran. Sedangkan Fira hanya menggelengkan kepalanya.


"Dia tidak tahu, sebenarnya pas aku nikah sama Mas Alan aja dia sangat terkejut, awalnya memutuskan untuk pulang tiba-tiba nggak jadi dan sampe sekarang baru pulang alasannya sibuk dan belum selesai semua pekerjaannya,"


"Kenapa bisa begitu ya, padahal kamu adik satu-satunya,"


"Ya mau gimana lagi kalau kesibukan jadi alasannya. Tapi perceraian ku akan menjadi kejutan buat Kak Fero, soalnya semuanya berjalan begitu cepat. Mudah-mudahan dia nggak marah dan emosi pada sahabatnya,"


"Hubungan kalian pasti dekat banget ya sebagai adik dan kakaknya, rasanya aku ingin sekali memiliki kakak,"


"Nggak terlalu dekat si, soalnya usia kita beda jauh cuma ya aku nggak ingat perlakuan dia waktu kecil sama aku, tapi pas lulus SMA dia langsung terbang ke luar negeri buat lanjut pendidikannya. Sesekali pulang tapi aku jarang nemuin, mangkanya lupa lupa ingat kalau aku punya kakak,"


"Dih aneh sekali, yasudah ah aku lelah, besok kita akan bertempur di kafe. Bagaimana keadaan Alana hari ini?"


"Anakku makin menggemaskan, setiap hari ada saja tingkahnya. Yasudah istirahat sana, besok pagi-pagi kita langsung ke kafe,"


"Ok, selamat malam,"

__ADS_1


...****************...


Maaf ya baru nongol, aku usahakan update lagi hari ini.


__ADS_2