
Fira tak ingin membuat orangtuanya tambah khawatir, dia pun perlahan membuka matanya dan sang Mama langsung memeluk anaknya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" peluk mamanya erat
"Mama..." rengek Fira membalas pelukan Mamanya. tak lama kemudian Safran bergabung untuk berpelukan dengan anak dan istrinya, sementara Alan hanya diam dan melihat ketiganya.
"Bagaimana kondisi kamu, sayang?" tanya Safran khawatir.
"Aku baik-baik saja, Pa."
"Syukurlah, setelah dokter memperbolehkan kamu pulang, kita pulang ke rumah ya, Papa tidak ingin kalian kenapa-kenapa,"
Mendengar ucapan sang Ayah Fira tidak langsung menjawab melainkan menatap wajah suaminya yang minim ekspresi hari ini, dia hanya diam seolah pikirannya masih melayang.
"Apa kamu sudah tahu kalau kamu sedang hamil?" tanya Mama
Fira mengangguk "Lalu kenapa kamu tidak memberitahu kami?" Mama masih tak habis pikir dengan Fira yang menyembunyikan kehamilannya.
"Aku pun baru tahu beberapa minggu lalu, rencananya aku ingin memberikan kejutan untuk kalian, tapi tidak jadi karena sudah lebih dulu ketahuan," ucap Fira berbohong, hal itu amat sangat disadari oleh Alan. Fira sudah mual muntah lebih dari beberapa minggu, apalagi saat Fira bertanya mengenai Anak pada Alan. Apa yang sebenarnya ingin Fira lakukan.
"Benarkah?" tanya keduanya terkejut.
"Masa iya aku berbohong, ko kalian ada di sini emangnya nggak ke kantor?" tanya Fira mengalihkan pembicaraan.
"Kamu lebih penting dari pekerjaan, Papa masih penasaran sebenarnya dengan rumah tangga kalian, jika sudah tahap akan memiliki buah hati pasti kalian sudah melakukannya. Tapi kenapa hubungan kalian seperti bermasalah, jangan buat kami khawatir. Kami hanya ingin kebahagiaan kalian saja, jika dengan berpisah adalah bahagia kalian maka lakukanlah, jangan menjalani hubungan yang terpaksa,"
"Alan sejak tadi kamu hanya diam saja, Papa tahu kamu sangat terkejut karena sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah, apa tidak ada niat mu untuk memberikan selamat atau ucapan selamat datang pada calon buah hatimu?" tanya Safran yang merasa heran dengan menantunya yang tanpa ekspresi.
__ADS_1
Alan berjalan ke arah Fira, dan memberikan kecupan di kening Fira. Fira tahu kalau suaminya melakukan hal itu terpaksa karena kedua orangtuanya ada di sana, Fira tentu saja tersenyum, senyum yang dibuat-buat hingga ayah dan ibunya tidak menyadarinya. Alan pun mengelus perut Fira untuk yang pertama kalinya, perut yang sudah mulai membuncit, entah kebetulan atau memang janin Fira sedang aktif dia pun bergerak seolah menyambut baik elusan sang Ayah.
Fira tersenyum getir "Bahkan kamu sangat bahagia sayang, saat ayah mu mengelus mu. Namun jangan terlalu banyak berharap, Nak, biar mommy yang akan memberikan semuanya untuk kamu. Bertahanlah sampai kamu lahir, mommy janji setelah itu kita akan bahagia berdua. Mommy berharap kebahagiaan selalu menyertai kita," ucap Fira bermonolog.
"Dia bergerak, Mas. sepertinya anak kita senang di sapa oleh ayahnya," ucap Fira seolah tidak ada apa-apa dengan hubungan mereka.
Alan hanya mengangguk dan tersenyum.
"Maaf, Mas. Kamu harus pura-pura bahagia. Sabarlah beberapa bulan lagi, aku akan membuat kamu terbebas dari semua ini." lagi-lagi Fira terus berbicara dalam hati, ia merasa yakin kalau Alan melakukannya karena terpaksa.
Safran dan Lisa yang melihat hal itu pun tersenyum, meskipun awalnya mereka curiga. Doa mereka tetap sama yaitu kebahagiaan keduanya.
**
Setelah berkonsultasi dengan dokter, Fira sudah boleh dibawa pulang, tapi dokter menyarankan Fira untuk di rawat. Namun Fira menolak dan lebih memilih untuk pulang ke rumah yang ia tempati dengan Alan, bahkan tawaran orangtuanya pun Fira tolak.
"Baiklah, mulai saat ini kamu sekolah di rumah saja, biar Papa yang akan mengurus ke sekolah kamu."
"Benar sayang, apa yang Papa kamu katakan. Lagi pula kandungan kamu kian hari kian membesar, kamu akan mudah lelah setelah kejadian ini pasti teman-teman kamu berpikir yang tidak-tidak. Pikir kami kalian akan menunda memiliki anak sampai Fira lulus sekolah, ternyata kalian sudah tidak sabaran," ucap Lisa menggoda anak dan menantunya, sedang pasangan suami istri itu hanya tersenyum tipis.
"Benar kata Fira MA, Pa. Kalian sebaiknya pulang saja, bukannya hari ini Papa harus keluar kota? kemarin Papa Adlan bercerita kalau kalian berhasil memenangkan proyek bersama,"
"Iya, kami mendapatkannya. Rencananya besok kami akan pergi ke luar kota bersama untuk melakukan kesepakatan. Tapi mana tega meninggalkan Fira yang sedang sakit seperti ini," ucap Safran.
"Papa dan Mama pergi saja tidak perlu menghawatirkan aku, lagi pula aku bukan sakit parah, Mama pasti tahu kalau orang hamil pasti seperti ini, kata dokter mengidam atau mual muntah akan hilang seiring bertambahnya usia kandungan aku. Jadi Papa dan Mama tidak perlu khawatir,"
"Hmmmh, baiklah. Tapi kapan rencananya kalian akan memberitahu Adlan dan Rima" tanya Safran.
__ADS_1
"Setelah sampai rumah, Pa. Aku akan menghubungi Papa dan Mama."
"Baiklah kalau seperti itu, kalian harus kompak untuk menjaga cucu kami,"
"Tentu saja, Pa, Ma." sahut keduanya.
***
Fira dan Alan benar-benar pulang berdua setelah Zuhur, sedangkan Ana sudah kembali ke sekolah bersama Safran dan Lisa sekaligus mengurus kepindahan Fira untuk sekolah di rumah.
Diperjalanan pulang keduanya masih tetap diam, namun Fira membuka suaranya untuk meyakinkan Alan agar tidak khawatir meskipun dengan semuanya, Fira berjanji tidak akan menyulitkan Alan.
"Kamu pasti terkejut, Mas. Awalnya aku akan terus merahasiakan keberadaannya sampai dia lahir nanti, tapi hal itu tidak mungkin. Sejak awal aku sudah berusaha akan mengatakan mengenai keberadaannya di perutku, tapi mendengar respon dan kamu menolak memiliki anak saat itu membuat aku mengurungkan niatku. Aku janji tidak akan menyulitkan kamu dan kamu juga tidak perlu terbebani dengan janin dikandungan ku...
"Bagaimana manapun nanti dia, akan cerdas atau bodoh seperti ku, aku akan menerimanya dengan penuh cinta. Kamu hanya perlu bersabar sampai dia lahir ke dunia, setelah itu aku akan membebaskan mu dari ikatan pernikahan ini, kamu tahu bukan kalau wanita hamil dilarang bercerai jadi tunggu sampai dia lahir dan aku akan merawatnya dengan segenap jiwa dan raga ku," Fira sudah berkaca-kaca, ucapan yang keluar dari mulutnya begitu menyesakan dada. Alan hanya diam, dia bingung harus bereaksi seperti apa.
Sesampainya di rumah Fira langsung turun dari mobil yang Alan kendarai, dia langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamar yang akhir-akhir ini ia tempati.
"Kamu mau kemana?" tanya Alan menghentikan langkah Fira yang akan membuka handle pintu.
"Aku mau ke kamar dan beristirahat," sahutnya singkat.
"Sebaiknya tidur di kamar ini saja, takutnya orang tua kita datang bersamaan. Bingung harus menjelaskan apalagi,"
"Baiklah, tapi setelah malam aku akan pindah, aku takut mengganggu tidur mu. Setiap tengah malam dia masih sering mengajakku bermain, alhasil aku harus bulak balik ke kamar mandi, itu sudah pasti mengganggu mu," ucap Fira menohok, membuat Alan benar-benar mati kutu. Fira langsung masuk ke kamar keduanya dan membaringkan tubuhnya.
***
__ADS_1