Menikah Mudah

Menikah Mudah
Baji*Ngan


__ADS_3

Sejujurnya ga berani nulis cerita yang ada unsur poligami. Tapi mau keluar dari zona nyaman, tipis-tipis aja lah nggak sadis banget.


Komen apa aja ya yg penting ga sarkas, like juga terima kasih..


***


Alan tidak memiliki hidup tenang semenjak menikah dengan Dinda, beban pekerjaan dan rumah tangganya bersama Fira, Alan mulai merasakan perasaan bersalah yang teramat besar. Awalnya Alan akan mengakhiri hubungannya dengan Dinda dan mencoba memperbaiki pernikahannya dengan Fira, tapi ucapan Fira yang mengajak dirinya bercerai setelah melahirkan dan juga kabar kalau Dinda sedang mengandung buah hatinya. Alan benar-benar sedang menempuh jalan buntu.


Hari Minggu ini rencananya Dinda mengajak Alan untuk memeriksakan kandungannya, sebenarnya Dinda bisa saja memeriksakan sendiri saat bertugas di rumah sakit, namun ia ingin melakukannya bersama Alan.


"Mas, kita periksa di rumah sakit tempat ku bekerja saja," ucap Dinda saat keduanya sedang menuju rumah sakit.


Alan terkejut, bagaimana kalau yang menangani dokter Mira? dia tentu tahu kalau Alan adalah suami dari pasiennya. Alan menolak dan lebih memilih rumah sakit lain.


"Lebih baik kita periksa di rumah sakit lain saja, terlalu banyak orang yang mengenal kita di sana, kamu tahu kalau aku sering mengunjungi mu. Bagaimana kalau mereka bertanya mengenai kita yang mendatangi dokter kandungan, sedangkan pernikahan kita masih dirahasiakan,"


"Tapi aku sudah membuat janji dengan dokter Nadia," ucap Dinda


Mendengar nama dokter yang berbeda membuat Alan merasa tenang, setidaknya bukan dokter Mira.


"dokter Nadia?"


"Iya, dia sahabat ku waktu kuliah dulu, aku juga sudah memberi tahu dia kalau aku sama kamu sudah menikah. Toh orang-orang di rumah sakit ini taunya kalau kamu kekasihku,"


Alan menarik napasnya dalam-dalam, semuanya benar-benar rumit. Mau tidak mau Alan menyetujui untuk pergi ke rumah sakit tempat Dinda bekerja.


***


Dilain tempat


Mama Lisa sudah membantu Fira mempersiapkan keperluannya untuk pergi ke rumah sakit, hari ini Fira akan melakukan pemeriksaan lengkap sebelum menjalani operasi sesar. Jika Fira memungkinkan untuk melahirkan normal maka akan dilakukan, namun sepertinya ada sedikit masalah apalagi usia Fira yang baru memasuki 18 tahun, tubuh mungilnya dan juga tekanan darah yang tinggi membuat Fira diberikan opsi untuk melakukan operasi saja untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan.


Seharusnya pemeriksaan dilakukan beberapa hari sebelum operasi, namun dokter Mira menyarankan untuk melakukan pengecekan rutin, untuk mengetahui kondisi janin Fira. Fira dikabari oleh dokter Mira kalau hari ini dirinya ada praktik menggantikan temannya yang harus menangani operasi darurat.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Mama Lisa


"Sudah, Ma."


"Yuk, berangkat takut keburu macet," Fira hanya mengangguk.


Kali ini Mama Lisa menggunakan supir pribadi miliknya, bukan supir dari rumah Alan. Mama Lisa memiliki maksud, dia ingin bicara pada putrinya, apakah benar kalau anaknya itu akan bercerai setelah melahirkan.


"Fira, apa kamu sudah yakin setelah melahirkan nanti, kamu akan berpisah dengan Alan?" tanya Mama Lisa hati-hati. Fira mengangguk yakin.


"Aku sudah yakin, Ma. Mas Alan tidak akan pernah bahagia jika terus bersamaku, Ma. Biarkan dia menjalani hidup yang dia inginkan, lagi pula kehamilan ku adalah sebuah ketidaksengajaan. Mas Alan setengah sadar saat melakukannya, dan bayi ini hanya milik ku.."


"Mama dan Papa sudah berjanji kalau kalian akan memenuhi keinginan ku. Aku ingin perceraian ini dilakukan setenang mungkin, aku tidak minta apapun selain hak asuh anakku jatuh ke tanganku sepenuhnya. Dan satu lagi jangan pernah mengalahkan Mas Alan dalam hal ini, justru harusnya kalian sebagai orang tua yang harus introspeksi...


"Pura-pura tidak tahu untuk semua hal yang kalian tahu, lihat maupun dengar, sekali lagi aku hanya ingin hidup tenang setelah perceraian nanti," ucap Fira panjang lebar membuat Mama Lisa benar-benar tidak bisa berbuat banyak, yang menurut dia kalau Alan laki-laki baik, tapi kalau anaknya tidak menginginkan pernikahan ini dia bisa apa. Bahkan sahabat sekaligus besannya masih menganggap kalau pernikahan anak menantunya baik-baik saja.


**


Dinda dan Alan sudah masuk kedalam ruangan poli kandungan. dokter Mira tidak memeriksa siapa pasien yang akan masuk setelah ini, dokter Mira sedang mencuci tangan setelah selesai memeriksa pasien, posisinya yang membelakangi pintu masuk jelas tidak terlihat kalau itu bukan sahabat Dinda.


Sedangkan Alan mati kutu, situasi macam apa ini lari pun sudah tidak bisa.


"Loh, kok dokter Mira?" setelah Dinda berhasil mendudukkan dirinya di bangku.


"dokter Dinda, sedang apa di sini? bukannya dokter Dinda masuk sore?" tanya dokter Mira berusaha tenang.


"Pertanyaan saya belum di jawab, dokter sudah memberikan dua pertanyaan untuk saya hehe," ucap Dinda tersenyum.


"Ehh iya, saya diminta dokter Nadia menggantikan dia hari ini, soalnya ada operasi darurat, pasien yang ia tangani mengalami pendarahan,"


"Ya Allah, semoga ibu dan bayinya selamat," doa Dinda untuk pasien Nadia.


"Aamiin,"

__ADS_1


Alan hanya diam, keringat dingin sudah membasahi keningnya. Sementara dokter Mira memberikan kode pada Nadia tentang laki-laki disampingnya.


"Ohhh ini perkenalkan dok, dia suamiku.."


Jederrrrrrrrrrrrrr


Tentu saja dokter Mira terkejut, setahunya laki-laki ini adalah suami dari Fira, pasien yang selama sembilan bulan ini ia tangani.


"Hah, suami? bukankah dokter belum menikah, kok saya tidak tahu," ucap dokter Mira terkejut.


"Kami baru melakukan akad saja dok, nanti resepsinya menyusul,"


"Lalu ada apa dokter datang ke poli kandungan, apa..?" dokter Mira berpikiran kalau Dinda memang sedang hamil.


"Bener yang dokter pikirkan, saya sedang mengandung," sahutnya tersenyum bahagia.


dokter Mira lemas mendengarnya, seingatnya dulu saat Fira pertama kali datang ke sini dia hanya sendiri, dan sekarang laki-laki itu malah datang diawal pemeriksaan bersama Dinda.


"Laki-laki baji*Ngan," ucap dokter Mira dalam hatinya, dia benar-benar tidak menyukai Alan, karena sebagai seorang perempuan ia pun merasa dikhianati, apalagi Fira.


Tanpa banyak bertanya dokter Mira melakukan pemeriksaan pada Dinda.


"Selamat ya, dia sudah berusia 3 minggu, jaga kesehatan jangan sampai stres. Sebenarnya tanpa memberi tahu dokter pasti tahu apa yang harus dilakukan,"


"Iya dok, terima kasih," Hari ini pelayanan terburuk yang dokter Mira berikan, dia tidak menyapa ramah pasiennya hal itu begitu ketara dan dirasakan oleh Dinda terutama Alan. Setelah keduanya keluar dokter Mira membanting pulpennya.


"Dasar baji*Ngan," Umpatnya


"Apa dokter berpikiran sama seperti saya," tanya suster yang beberapa kali pernah mendampingi dokter Mira saat Alan bertanya mengenai kondisi kandungan Fira.


dokter Mira mengangguk" Sepertinya dokter Dinda juga tidak tahu," Suster pun mengangguk.


***

__ADS_1


SiAlan ..


__ADS_2