Menikah Mudah

Menikah Mudah
Perempuan


__ADS_3

Semenjak kejadian tengah malam itu, Fira berusaha menyembunyikan rasa ngidamnya dari Alan. Namun hal itu tidak berlaku untuk mang Ujang, mang Asep dan BI Rani yang akan siaga memenuhi keinginan Fira, sungguh menyedihkan disaat suami lain mati-matian memenuhi keinginan istrinya tapi justru Fira menyembunyikannya karena takut Alan akan marah.


Fira berpikiran ketika Alan memarahi dirinya berarti Alan sedang marah dihadapan anaknya, Fira tidak ingin membuat anaknya sedih bahkan sebelum kelahirannya kedunia. Tak apa kalau kalau tidak menyukai dirinya tapi sebisa mungkin Fira akan menjelaskan kepada anaknya nanti kalau ayahnya sangat menyayangi dia.


Hari ini adalah jadwal memeriksakan kandungan Fira ke rumah sakit, hari ini juga ia akan mengetahui jenis kelamin anak yang ada dalam kandungannya. Dengan siapa Fira pergi ke rumah sakit? tentu saja sendiri, karena Alan tidak pernah berinisiatif untuk bertanya perihal kunjungan rutinnya ke rumah sakit.


Setelah selesai belajar di rumah, Fira langsung meminta mang Asep untuk mengantarnya ke rumah sakit. Dengan senang hati mang Asep mengantar Fira, awalnya Bi rani memaksa untuk ikut, namun Fira menolak karena bi Rani harus mengerjakan pekerjaan rumah.


Sesampainya di rumah sakit ia langsung ikut mengantri dan menunggu namanya dipanggil. Saat menunggu, ada 5 pasangan yang sedang mengantri, mereka sempat melirik ke arah Fira yang saat itu sedang fokus dengan hapenya. Mereka juga sempat berbisik mengenai kehamilan Fira, dan tidak adanya seseorang yang mendampingi Fira.


Dua puluh menit kemudian nama Fira dipanggil, dan dengan santainya dia masuk ke ruangan dokter Mira yang akan memeriksa kehamilannya hari ini.


"Bagaimana kabar ibu dan Dede bayinya hari ini?" tanya dokter Mira ramah menyambut Fira.


"Alhamdulillah dok, kabar kami hari ini baik," sahutnya tersenyum.


"Masih berdua aja, ayah Dedek tidak ikut lagi?" Fira tersenyum kecut mendengar pertanyaan dokter Mira.


"Kami berdua saja, dok. Ayah Dedek masih sibuk dengan aktivitasnya," sahutnya santai tanpa ingin memikirkan suatu yang sedang ia hadapi saat ini.


"Baiklah, sudah siap untuk melihat jenis kelamin Dedek bayinya? " tanya dokter Mira antusias.


"Sudah, dok. Saya sangat menantikan hari ini,"


"Baiklah, kita periksa berat badan dan tensi lebih dulu ya?" dokter dengan dibantu suster yang bertugas hari itu melakukan serangkaian pemeriksaan, setelah selesai Fira pun diarahkan untuk berbaring di tempat tidur yang ada di ruangan dokter Mira.


USG gel sudah dioleskan di perut Fira, dokter pun mulai menggeser Doppler dipermukaan perut Fira.


"Maa syaa Allah, jenis kelaminnya sudah kelihatan ni Bun, sepertinya kamu akan memiliki saingan..." ucap dokter ambigu, namun Fira memahami kalau anaknya berjenis kela*min perempuan.

__ADS_1


"Apa dia perempuan?" tanya Fira memberanikan diri.


dokter mengangguk "Iya 90% perempuan,"


"Alhamdulillah," ucap Fira berkaca-kaca.


"Sekarang kita dengarkan detak jantungnya ya," dokter pun memperdengarkan detak jantung calon bayi Fira, saat itu Fira benar-benar menjatuhkan air matanya.


"Maafkan mommy sayang, karena sampai saat ini kita hanya berdua saja, mungkin akan seterusnya. Mommy ragu ayahmu akan menerima kita berdua, mommy bukan istri yang ayahmu inginkan. Kuat ya sampai kamu lahir nanti, setelah ini mommy janji kalau kita akan hidup berdua, sebentar lagi," Lelehan air mata Fira sudah membasahi pipinya, mengingat perjuangannya seorang diri tanpa dukungan dari suaminya.


Setelah selesai memeriksakan kandungannya Fira merasa sangat lapar, karena ia belum makan siang. Fira memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit, setelah selesai menebus vitamin miliknya.


Fira memesan beberapa makanan yang menggugah seleranya, setelah itu dia mencari tempat duduk untuk menyantap makan siangnya. Setelah matanya berkeliling mencari tempat duduk yang kosong, Fira mendapatkannya, tempat duduk kosong itu tak jauh dari tempat para dokter menyantap makan siangnya. Saat akan duduk Fira melihat seseorang yang tak asing baginya, ya dia melihat Alan sedang duduk berdua dengan wanita yang ia kenali juga.


Laki-laki itu sedang tertawa bahagia, hal yang tidak pernah ia lakukan bersama. Fira merasa sakit bohong jika dia baik-baik saja, namun Fira menyadari statusnya sebagai seorang istri yang tidak diinginkan. Fira masih fokus melihat ke arah Alan, hingga tak lama Alan pun melihat Fira.


Fira hanya tersenyum tipis dan duduk untuk makan siang, ia tidak berniat untuk lari atau pergi ke kamar mandi untuk menangis, lebih baik ia pura-pura tidak mengenal Alan atau pura-pura tidak melihatnya.


Fira makan dengan tenang, meskipun menahan nyeri di dadanya. Makanan seolah tertahan di tenggorokannya namun Fira berusaha menelannya dengan baik. Alan masih menatap ke arah Fira, hal itu membuat Dinda merasa diabaikan karena Alan tidak merespon saat dirinya mengajak bicara.


"Hey, ko bengong si. Aku kan sedang mengajak kamu bicara," Dinda merasa diacuhkan, namun sesaat kemudian dia mengikuti arah mata Alan saat memandang objek yang membuat dirinya diabaikan. Dinda menoleh kebelakang tempat Fira duduk tak jauh darinya, seketika gadis itu heran dan dalam pikirannya ia bertanya-tanya sedang apa Fira di rumah sakit.


"Bukankah itu adiknya Fero?" tanya Dinda


Alan hanya mengangguk pelan. "Sedang apa dia di sini, apa keluarganya sedang sakit?" Dinda berdiri dan menghampiri Fira.


"Kamu Fira kan adiknya Fero?" tanya di da mengejutkan Fira yang baru menyelesaikan makan siangnya.


Fira tersenyum menanggapi pertanyaan Dinda "Iya, Ka," sahutnya singkat.

__ADS_1


"Sedang apa kamu di sini, apa keluarga mu ada yang sakit?" Fira menggeleng.


"Tidak, kak. aku sedang menjenguk kerabat dekat. Aku pamit duluan kan," Fira pun berdiri setelah merapikan piring kosongnya.


"Oiya silakan," Dinda tidak menyadari perut buncit Fira, karena memang Fira menggunakan switer berukuran besar. Fira meninggalkan kantin rumah sakit tanpa melihat ke arah suaminya berada, baginya saat ini yang terpenting adalah kehamilannya.


**


Kekhawatiran Fira bertambah saat ia mengetahui jenis kelamin anaknya adalah perempuan, Fira khawatir kalau Alan akan membenci putrinya sama seperti kepada dirinya. Alan bahkan meragukan Fira, bagaimana mungkin dirinya bisa mengurus seorang anak, mengurus dirinya sendiri saja sulit. Namun Fira meyakinkan dirinya sendiri kalau dia pasti bisa.


Setelah selesai makan malam Fira langsung masuk ke kamar tanpa bicara dengan Alan, sesampainya di kamar Fira duduk disisi tempat tidur, sambil memposisikan diri untuk tidak. Tak lama pintu kamar itu di ketuk dan Fira mempersilakan masuk, ternyata Alan yang ada di sana.


Fira melihat ke arah suaminya dan bertanya-tanya mengenai kedatangan Alan ke kamarnya. "Ada apa, Mas?"


"Apa kamu tadi memeriksakan kandungan mu?" tanya Alan membuat Fira mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Alan.


Fira mengangguk "Iya,"


"Kenapa kamu tidak memberitahu kan aku?"


Pertanyaan bodoh macam apa ini.


"Tidak perlu repot-repot Mas. Mas tau tidak kalau dia berjenis kelamin perempuan, kondisinya sangat sehat, detak jantungnya seperti irama yang menggetarkan jiwa. Dia sepertinya mirip denganku, aku hanya bisa memberitahukan hal itu, aku tidak bisa menjamin akan melahirkan anak secerdas dirimu atau sehebat dirimu..."


"Tapi aku akan merawatnya sebaik mungkin, Bersabarlah beberapa bulan lagi. Aku janji kalau kita tidak akan merepotkan Mas," ucapan Fira benar-benar membuat Alan mati kutu, dia seperti kehabisan kata-kata untuk menyahuti ucapan Fira.


"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, silakan tutup pintunya, hari ini aku sangat lelah dan ingin beristirahat,".


Alan yang sedang terdiam pun mulai sadar dan menutup pintu kamar Fira dengan pikiran yang bercampur.

__ADS_1


__ADS_2