
Fira sudah mendengar semua kebenaran yang belum ia ketahui, awalnya dia merasa sedih namun pada akhirnya ia mulai menyadari bahwa dirinya sejak awal memang tidak diinginkan. Bahkan ayahnya sendiri tega menelantarkan ibu dan juga dirinya yang masih dalam kandungan, selain itu Fira pun harus menerima nasib yang sama, bahwa dia dan anaknya tidak diinginkan suaminya. Jadi dia baru paham kenapa nasibnya bisa seperti ini.
Fira sudah kembali ke Jakarta dan berusaha menata semuanya termasuk hatinya. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan, meskipun pelukan Lisa dan Safran masih bisa ia rasakan, tapi mereka hanya orang lain yang berdoa merawat dirinya yang malang. Nenek Fira yang sudah berusia senja pun ia bawa ke Jakarta untuk tinggal bersamanya, dia tidak ingin lagi merepotkan keluarga angkatnya, sudah saatnya dia benar-benar lepas dari keluarga anugerah.
Ngomong-ngomong nama keluarga itu, Fira baru sadar kalau dirinya tidak memiliki nama yang sama dengan Safran dan Fero. Fira terlalu polos untuk mengetahui lebih awal semuanya.
"Fira, Papa mohon meskipun kamu sudah tahu kebenarannya, kamu akan selamanya jadi anak Papa dan Mama. Kami harap kamu tidak akan pernah berubah, dan tetap menjadi putri kami," ucap Safran saat melihat Fira tengah mengemasi sisa barang miliknya untuk di bawa pindah.
"Aku tahu kalian orang yang baik, tapi aku mohon biarkan aku mandiri dengan kehidupan baruku, aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian. Aku tidak akan pernah lupa kalau kalian adalah malaikat penolong ku, tapi sedekat apapun kita, tetap diantara kita tidak ada ikatan darah. Rasanya tidak pantas untuk tetap satu atau apalagi saling memeluk seperti yang biasa kita lakukan. Papa bukan muhrim ku, semakin aku di sini, semakin aku tak bisa lepas dari kalian, jadi biarkan aku pergi dan memulai hidup ku tanpa campur tangan keluarga Papa Safran,"
Mendengar pernyataan Fira, rasanya hati mereka berdua cukup hancur. Bagaimana mungkin bayi mungil yang dulu mereka rawat ingin memisahkan diri, sungguh ini tidak mudah bagi mereka.
"Aku tahu selama ini kalian menganggap aku putri kalian yang sudah tiada, kali ini biarkan aku hidup menjadi Amanda, nama yang ibuku berikan bukan Syafira nama yang tertulis diatas batu nisan,"
ucapan Fira benar-benar menohok, apa yang diucapkan Fira memang tidak sepenuhnya salah, meskipun Fira ada, hati Safran dan Lisa masih terukir nama Putri mereka, karena untuk mendapatkannya bukan sesuatu yang mudah, tapi dia pergi lebih awal.
Fira sudah berhasil mengemasi sisa barang-barang miliknya. Dia sudah mengontrak rumah minimalis yang ada dipertengahan kota Jakarta, Safran sempat menawarkan sebuah perumahan megah namun Fira menolak.
__ADS_1
"Ma, Pa. Amanda pamit. Maaf jika selama ini aku merepotkan kalian dan banyak membebani kalian, aku sangat berterima kasih untuk kebersamaan kita selama 19 tahun ini. Aku akan tetap menjadi bagian dari kalian, meskipun tidak sepenuhnya,. sekali lagi terima kasih untuk semuanya," ucap Fira memeluk Mama nya yang sedang menangis, Alana yang sedang asik bersama Fero di luar tidak menyaksikan hal ini.
Setelah melepaskan pelukan dari Mama angkatnya, Fira beralih ke arah Safran. " Pa, terima kasih sudah menggantikan sosok Ayah yang tidak pernah aku rasakan sebelum bertemu kalian, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan keluarga sebaik kalian, aku tidak tahu harus membalas dengan apa. Semoga Allah memberikan keberkahan untuk keluarga kalian,"
"Kali ini aku ingin melanggar sebuah aturan hanya untuk memeluk Papa, terima kasih Pa," ucap Fira memeluk erat Papa angkatnya, ia dan Safran menangis bersamaan.
Safran tidak bisa berkata-kata dadanya terlalu sesak karena harus melepaskan Fira bukan lagi sebagai anaknya, tapi sebagai orang lain.
"Oiya, untuk usaha kafe yang pernah Papa berikan, biarkan aku tetap mengelolanya dan keuntungannya akan aku berikan beserta laporannya. Aku sudah memiliki 2 cabang, jadi Papa tidak perlu khawatir, maaf aku sempat meminta kafe itu pada kalian, sungguh aku tidak tahu kalau ternyata aku bukan putri kalian, jadi aku akan mengembalikan semuanya. Dan biarkan aku tetap bekerja pada kalian,"
Fira menggeleng " Jangan pa, sudah terlalu banyak yang kalian berikan untuk ku. Lagi pula aku tetap mengelola kafe itu, tapi aku akan mengembalikan kepemilikannya pada kalian,"
Saat Fira dan Safran sudah selesai bicara, Fero menggendong Alana ke dalam kamar Fira.
"Mom...my," ucap Alana.
"Eh anak mommy, sini nak, sudah bermain bersama pamannya?" tanya Fira sambil mengelap sisa air matanya.
__ADS_1
Alana menggeleng" Dad..Dy, mommy. No paman," ucap balita yang sudah bisa bicara itu, Fira melatih Alana dengan bahasa yang baku dan benar,"
"Daddy? kamu tahu apa itu Daddy?" tanya Fira pada Alana, dengan polosnya Alana menggeleng. Fira menarik nafasnya.
"Ka, jangan mengajari Fira memanggil kata-kata yang asing buat dia, selama ini aku membiasakan dia untuk tidak bergantung pada sosok ayah. Aku tidak ingin dia terluka, bagaimana pun dia bukan satu-satunya, jadi aku ingin mendidik dia me jadi anak yang mandiri,"
Fero tertegun dengan ucapan adik yang ia cintai itu " Kalau begitu biarkan aku menjadi ayah sambung untuk Alana, aku berjanji akan menjadi ayah terbaik untuk dia. Aku akan mengganti semua luka yang harusnya tidak ia terima dengan kebahagiaan berlimpah," ucap Fero terus terang, Fira terkejut mendengar ucapan Fero.
"Apa maksud Kaka bicara seperti itu?"
"Aku menyukai mu sejak lama, aku memendam perasaanku sendiri. Ku hancur saat kamu menikah dengan sahabat ku, aku juga sedih karena kamu tidak bahagia dengan kehidupan mu, tapi aku bersyukur karena kamu sudah lepas dari pernikahan toksik itu," ucap Fero
Fira benar-benar terkejut mendengar ucapan kakak angkatan "Bahkan saat aku masih dianggap sebagai anak kandung, pikiran bodoh itu sudah ada?"
"Tidak Fir, aku mengetahui kalau kamu bukan adikku adalah sejak awal. Aku tahu kalau kita tidak ada ikatan darah sejak awal, aku menyayangi kamu bukan lagi sebagai kakak kepada adiknya tapi perasaan sayang yang berbeda. Namun keadaan membuat aku menyimpan sendiri, perbedaan usia dan juga tentangan dari Mama dan Papa, pikiran orang-orang yang pastinya akan menggunjing karena aku menyukai adikku sendiri. Tapi kali ini aku tidak perduli, aku ingin memperjuangkan kamu Fir," ucap Fero mengeluarkan uneg-unegnya.
Fira tersenyum getir " Takdir macam apa ini, aku sama sekali tidak mengerti,"
__ADS_1