Menikah Mudah

Menikah Mudah
Bertemu


__ADS_3

Aku ada novel baru judulnya Tiga, slowly update nya, di NT juga.


***


"Hmmh apa dokter Mira selalu seperti itu saat menangani pasien, pelayanan yang buruk. Kamu lihat kan, Mas. Wajahnya seperti sedang kesal, lagian aku tidak tahu kalau dia menggantikan Nadia," Dinda terus meracau karena merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan dokter Mira, sementara Alan yang sedang diajak bicara tentu tahu apa penyebabnya. Alan sama sekali tidak menyahut ucapan Dinda, ia masih fokus dengan hapenya, mengecek pekerjaan di kantor.


Saat mereka keluar dari ruangan dokter Mira, kurang dari sepuluh langkah setelah keluar langkah Dinda terhenti. Iya terkejut melihat dua perempuan yang cukup ia kenali, apalagi sosok gadis muda yang saat ini perutnya sudah membesar seperti akan melahirkan dalam waktu dekat.


Ya, mereka adalah Lisa dan Fira, keduanya sama terkejutnya ternyata laki-laki yang pikirnya akan pergi bekerja ternyata ada di rumah sakit ini bersama seorang wanita yang tidak asing, yang lebih membingungkan kenapa keduanya keluar dari ruangan dokter Mira.


Alan masih belum menyadari karena fokusnya masih pada hape.


"Mas," ucap Dinda menyenggol Alan.


"Apa sayang," reflek Alan menyahut ucapan Dinda dengan kata sayang. Mata Lisa membulat, jantungnya berdetak kencang, darahnya seperti naik keatas kepala, emosi sudah menguasai dirinya. Tapi Fira yang menyadari hal itu langsung menenangkan Mamanya dengan menggenggam tangan Lisa dan mengelusnya. Fira bukan wanita kuat, jelas saja dia merasa sakit, tapi Fira tidak ingin menunjukkannya toh sikap Alan sudah menyakitkan sejak awal, jadi anggap saja Fira tidak berada dalam satu hubungan dengan Alan.


Dinda mendatangi keduanya dan menyalami Lisa, meskipun ingin menolak tapi Fira memohon dengan bahasa tubuh yang tentu saja di pahami Lisa.


"Tante Lisa apa kabar?" tanya Dinda yang akhirnya menyadarkan Alan yang sedang sibuk sendiri.


Deggggg


Katerkejutan Alan kembali setelah sebelumnya terbebas dari dokter Mira, bahkan kali ini ibu mertua dan juga istrinya yang sedang hamil besar. Keringat dingin, ritme jantung dan kekhawatiran Alan kalau kebejatannya akan terkuak dan menjadi hiburan orang-orang yang berada di rumah sakit. Bagaimana kalau Lisa dan Fira marah-marah dan ada adegan tampar menampar, jambak menjambak tamatlah riwayatnya.


Namun itu semua hanya ada dalam pikiran Alan, nyatanya kedua wanita itu seolah tenang dan berusaha berbicara layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu.


"Ehhh, baik. Saya sepertinya tidak asing dengan wajah kamu?" ucap Mama Lisa.


"Saya Dinda Tante, teman Fero waktu sekolah dulu. Saya sering berkunjung ke rumah Tante.." Lisa berusaha mengingat dan akhirnya ia mengingatnya.

__ADS_1


"Ohhhh iya, saya ingat. Kamu sering datang ke rumah untuk mengerjakan tugas sekolah kalo nggak salah bersama Alan juga ya," ucap Lisa mulai menyenggol menantunya yang sedang diam dan kebingungan harus bersikap bagaimana.


"Ia benar Tante.,"


"Mas, sapa Tante Lisa," ucap Lisa menyuruh suaminya.


Alan benar-benar ingin jadi asap dan terbang bersama udara panas di dalam sana. Dia dalam situasi yang menegangkan.


Alan hanya menyalami Lisa, kemudian beralih ke Fira, namun Fira menolak bersentuhan dengan Alan, ia mengeluarkan ucapan yang mengejutkan "Maaf, Kak. Bukan muhrim," Deggg jantung Alan seolah tak berhenti berpacu, tiba-tiba ia merasakan rasa sakit, ucapan Fira seperti peluru yang tepat mengenai sasaran.


Lisa ikut berperan untuk melindungi harga diri anaknya.


"Maaf nak Alan, anak Tante memang terlalu menjaga pergaulannya bahkan sampai saat ini, dia selalu menjaga harga dirinya untuk tidak bersentuhan lagi laki-laki lain apalagi yang bukan muhrimnya," sindir Lisa membuat Alan semakin terinjak, ucapan Lisa jelas menyinggung dirinya yang tidak bisa menjaga martabatnya sebagai seorang suami.


Alan mundur perlahan dan kembali ke posisi semula.


"Iya, Kak. Aku memang sedang mengandung,"


"Sepertinya akan segera melahirkan. Aku tidak menyangka kalau kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu,"


"Iya kak Alhamdulillah," sahutnya berusaha tenang.


Dinda melihat sekeliling namun tidak dia lihat orang yang akan mendekat ke arah Fira dan Mamanya.


"Apa Tante dan Fira berdua saja, di mana suami Fira ?" tanya Dinda begitu ingin tahu, hal itu jelas saja menjadi senyuman sinis untuk Lisa.


Fira terlihat gugup mendengar pertanyaan Dinda namun sejurus kemudian Lisa mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Dinda.


"Iya kami cuma berdua. Dinda tidak memiliki suami, suami Fira pergi tanpa kabar atau mungkin sudah meninggal dunia," sahut Lisa sinis, tentu saja Alan merasa keberatan dengan ucapkan ibu mertuanya, bagaimana mungkin Lisa berbicara tentang kepergian atau kematian sementara dirinya masih hidup dan dalam keadaan sehat.

__ADS_1


Dinda merasa bersalah dengan pertanyaan yang ia tanyakan. "Maaf Tante, maaf Fira aku tidak tahu,"


"Tidak apa-apa, terkadang tidak harus raga dan nyawa yang hilang, tapi juga hati nurani," sahut Mama Lisa menyindir.


"Kalian sedang apa di sini? wah sepertinya ada kabar bahagia yang tidak kami ketahui. Kalian pasangan serasi, sudah berapa bulan na Dinda?" tanya Lisa tanpa basa-basi, ia tahu gesture keduanya bukan hanya teman atau rekan kerja, apalagi kata sayang sudah keluar dari mulut Alan.


Dinda gugup mendengar pertanyaan Lisa, ingin menyembunyikan namun pertanyaannya Lisa terlalu ketara dan tidak bisa lagi dihindari.


Alan tentu saja berharap kalau Dinda akan berbohong.


"Baru tiga Minggu Tante," ucapnya malu-malu.


"Wah selamat ya. Alan padahal Tante berteman baik dengan Mama dan Papa mu tapi mereka tidak mengundang Tante dan keluarga ke acara pernikahan kamu. Ah Tante akan marah pada Papa dan Mama mu, masa kabar bahagia tidak dibagikan," ucap Lisa yang sudah muak dengan tingkah laku menantunya.


Fira menyadari kalau situasi sudah tidak kondusif, ia memilih menarik lengan Mamanya dan menjauh dari keduanya.


"Ma, aku lelah berdiri terus. Sudah yu sebentar lagi namaku dipanggil, lagian Mama seperti wartawan saja, itu kehidupan pribadi mereka jangan ikut campur,"


Menyadari hal itu Lisa langsung menghentikan tindakannya mencecar pasangan bodoh itu.


"Yasudah yu, Mama terlalu antusias karena lama tidak bertemu mereka," ucap Mama Lisa berdusta.


"Ka, kami pamit lebih dulu. Maafkan Mama ya kalau kalian merasa tidak nyaman,"


"Tidak apa-apa, Fira. Semoga diberikan kelancaran dan keselamatan ya untuk melahirkan,"


"Aamiin, terima kasih Kak,"


Fira dan Lisa meninggalkan keduanya, Lisa merasa benar-benar bersalah apalagi saat ini Fira seperti sudah kebal dengan sikap Alan. Fira berekspresi seperti tidak melihat apa-apa, Lisa benar-benar hancur melihat Fira yang justru meras kuat seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2