
Hari ini Fira nampaknya sedikit sensitif, namun ia berusaha untuk menjadi dirinya sendiri yang tidak ingin menyakiti siapapun termasuk kedua sahabatnya di sekolah. Fira sudah berada di sekolah setelah perdebatan kecil terjadi di rumahnya, Fira datang paling awal di kelasnya sedangkan Dina dan Sella belum menampakkan batang hidungnya, Fira hanya menelungkup kan kepalanya diatas meja dengan tangan sebagai bantalan.
Satu persatu murid berdatangan tak terkecuali dua sahabatnya, mereka langsung menghampiri Fira yang tidak menyadari kedatangan keduanya.
"Tuh anak rajin amat, pagi-pagi udah lanjut tidur di kelas. Apa dia bertengkar ya sama hasben nya?" nampaknya Sella lebih kepo, sedangkan Dina juga menyadari bahwa ada hal yang terjadi.
"Berisik Lo. Pagi-pagi udah kepo, mending kita tanya langsung," ucap Dina saat keduanya masih berada di depan pintu masuk.
"Ihhhh namanya juga Neti." Dengan sebal Sella pun mengikuti langkah Dina
"Selamat pagi Nyonya Wijaya," sapa Sella dengan suara cempreng namun volume dipelankan.
"bugghhhh " Dengan cukup keras tangan Dina mendarat di bahu Sella.
"Awwwwww , Sakit PE a," Sella mengaduh karena pukulan Dina yang cukup keras.
"Lagian si, punya mulut rem nya blong banget,"
"Ya maaf, namanya juga reflek,"
Fira yang terganggu dengan kedua sahabatnya terpaksa bangun dan mengakhiri kesunyian nya karena kedatangan mereka cukup bising.
"Masih pagi ini, kenapa kalian sudah gaduh?" tanya Fira
"Hehe,sorrrrrryyyyyyyyy," sahut keduanya
__ADS_1
"Fira muka kamu kusut banget pagi-pagi, apa kamu sedang ada masalah?" tanya Sella kepo.
"Enggak ko, aku baik-baik aja," kilah Fira berdusta.
"Kalau Lo punya masalah cerita aja, Fir. Jangan dipendam sendiri, usia kaya kita tuh jangan stres - stres. Nikmatin hidup dengan versi usia kita, kumpul sama temen, makan-makan, shopping ke mol, nonton dan datang ke sekolah seperti saat ini. Beban hidup dan sejenisnya simpen dulu di lemari, nanti pas lulus sekolah baru keluarin lagi," ucap Dina bijak.
"Njirrrrrrr si Dina omongannya dalem banget kaya rawa-rawa berlumpur," sahut Sella polos.
"Iya, nanti Lo yang w tenggelamin ke lumpurnya. Puas Lo!"
"Ih sadis banget!"
Fira tersenyum mendengar perdebatan keduanya, benar apa yang dikatakan Dina kalau dirinya harus menikmati hidup sebagai seorang anak sekolah untuk saat ini. Dia tidak ingin terbebani dengan urusan rumah tangga, suami yang cuek, dan otaknya yang tidak pintar.
"Gimana Fir, saran w?"
"Nah, gitu dong. Kita harus bahagia dengan versi kita,"
Saat mereka sedang asik berbincang dan para murid sudah menduduki bangku masing-masing. Guru yang sedikit tidak diharapkan di kelas itu pun muncul, ya siapa lagi kalau bukan Alan . Tatapan Alan lebih dulu mengarah ketempat di mana Fira duduk, cukup lama melihat ke arah Fira, namun gadis itu tidak membalas tatapan Alan, hanya sekedar menatap lalu mengalihkan matanya pada tas yang akan terdapat buku pelajaran hari ini.
Pelajaran pun di mulai, Alan menerangkan materi dengan jelas dan mudah dimengerti, namun tidak dengan kepala Fira, apa yang menurutnya sulit maka akan tetap sulit. Debit kredit hanya sebatas keluar dan masuk saja, bukan tentang harus mencari kemana kurangnya nol yang harusnya bertengger dibelakang angka lainnya. Hidupnya saja sudah rumit, lalu dia harus ditambah rumit dengan hilangnya Nol, ahhhh menyebalkan pikirnya .
"Fira, apa kamu paham dengan apa yang saya sampaikan?" tanya Alan saat melihat Fira melamun dengan tulisan-tulisan dibukukannya. Dan dengan reflek Fira menggelengkan kepalanya.
Alan yang berdiri di depan menarik napasnya dalam-dalam, kenapa hal mudah menurutnya, malah sulit di mata gadis itu. Semua murid ikut menggeleng dan tersenyum dengan kepolosan gadis sederhana nan kaya itu, tidak ada yang berani mencibirnya karena Fira terlanjur menebar aura positif, jika ada yang tidak suka padanya, maka mereka akan bicara dibelakang Fira.
__ADS_1
"Fira, apa kamu tidak berusaha untuk memahami apa yang saya sampaikan? kamu tidak sepenuhnya bodoh jika benar-benar bersungguh-sungguh dalam belajar," lagi-lagi Alan berkata kurang mengenakkan bodoh tidak ada kah kata-kata yang lebih halus seperti kurang pintar. Ahhhh bodo amat Fira tidak ingin melakukan apa yang tidak dia sukai lagi, dia akan melakukan apa yang disepakati jiwa dan raganya saja.
Fira menggeleng "Saya sudah berusaha, Pak. bahkan orangtuaku memanggil guru privat ke rumah, dan hasilnya masih tetap sama. Semua orang tidak harus menguasai banyak hal, mungkin saya punya potensi di bidang lain. Kalau bapak merasa saya mengganggu proses belajar mengajar di kelas ini saya bersedia keluar sekarang juga," Fira benar-benar mengatakan apa yang ingin ia katakan, sedangkan teman-temannya merasa kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulut Fira, gadis polos yang biasanya tenang mulai berekspresi.
Alan pun bereaksi "Silakan keluar dari kelas saya!"
Dengan tanpa banyak kata lagi Fira pun meninggalkan kelas, dan tak menghiraukan tatapan Alan yang sedikit kesal karena sikap Fira.
***
Setelah di suruh ke luar oleh Alan ternyata Fira memutuskan untuk pulang ke rumahnya bersama Alan, mood nya untuk belajar sudah hilang, lebih baik dia pulang dan menenangkan diri, sebelum menghadapi kemarahan Alan.
Tepat pukul 2 siang, Alan sudah kembali dari mengajar, hari ini dia tidak punya agenda di kantor, semuanya sudah diurus oleh asisten pribadinya. Tujuannya saat ini adalah pulang dan bertanya langsung pada istri kecilnya.
Pintu terbuka lebar, di ruang keluarga itu Alan melihat Fira sedang santai menonton film kartun kesukaannya. Tanpa ba-bi-bu Alan langsung mengambil remote dan mematikan tontonan yang sedang Fira lihat, awalnya ia sedang tertawa langsung hilang karena melihat keberadaan Alan.
"Apa ini yang kamu lakukan setelah bolos dari sekolah? kenapa kamu ke kanak-kanakan sekali, apa kamu tidak ingin berusaha untuk belajar? orang-orang tidak akan percaya kalau saya punya istri sebodoh kamu! mimpi apa saya bisa menikahi kamu," Alan terus berkata sarkas tanpa memikirkan ada hati yang terluka dengan ucapannya, Fira berusaha tegar, meskipun ucapan yang dilontarkan Alan membuat tubuhnya lemas.
Fira menundukkan kepalanya sambil sesekali mengusap lelehan air matanya.
"Maaf, Mas. Kalau Fira bisa menolak keinginan Papa dan Mama untuk menjodohkan kita, akan aku lakukan. Bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah ingin menikah di usiaku saat ini apalagi, Mas Alan yang menjadi suamiku. Aku memiliki banyak kekurangan, dan aku sadar akan hal itu, tak pantas rasanya bersanding dengan Mas. Tapi bisakah kita bertahan beberapa waktu saja, setidaknya sampai aku lulus sekolah, setelah itu aku akan bicara pada Papa dan Mama bahwa aku ingin berpisah..."
"Kalau aku bicara saat ini mereka akan menganggap keputusan ku labil, setidaknya setelah lulus SMA aku bisa mengemukakan alasanku. Mas, tidak harus bertanggung jawab untuk diri Fira bahkan makan sekalipun. Mas hanya perlu mengijinkan Fira tinggal di sini tanpa memperdulikan aku ada. Kita akan berpura-pura baik-baik saja, sampai saatnya tiba..."
"Dan Mas Alan juga bisa menjalin hubungan dengan wanita yang mas sukai dan sesuai kriteria Mas selama ini. Maaf sudah hadir sebagai istri yang tidak Mas inginkan," ucap Fira panjang lebar, membuat Alan mati kutu dan tidak banyak menyahut ucapan Fira.
__ADS_1
"Mas, mulai malam ini kita tidur terpisah saja. Untuk urusan para pekerja Mama biar aku yang memberikan pengertian, mereka pasti masih bisa diajak kerjasama. Kalau begitu aku pamit untuk memindahkan barang-barang milikku."
Alan masih diam mematung, Dia memikirkan ucapan-ucapan Fira. Apakah dia harus senang atau bagaimana, entahlah dia pun masih tidak bisa berkutik.