
Satu bulan kemudian...
Fira benar-benar serius pada keputusannya untuk bercerai, hari ini adalah sidang keputusan perceraian keduanya. Fira datang didampingi pengacara dan kedua orangtuanya, sedangkan dari pihak Alan hanya ada pengacara saja yang mewakili proses perceraian keduanya.
Alan bukan tidak berusaha meyakinkan Fira selama satu bulan ini, tapi semuanya tidak merubah keputusan Fira untuk bercerai dari Alan. Alan menerima sangsi tegas dari kedua orangtuanya, selain jabatannya diturunkan hanya sebagai guru di sekolah, ia juga sudah tidak diizinkan untuk datang ke perusahaan dan terlibat dengan semua proyek atau pekerjaan di kantor. Atas permintaan istrinya Rima, awalnya Adlan benar-benar akan membuat Alan sengsara namun hati seorang ibu tidak akan Setega itu.
"Selamat ya Mbak, semua keinginan mbak termasuk hak asuh anak sudah sepenuhnya milik mbak Fira. Saya berharap setelah ini semuanya berjalan dengan baik," ucap pengacara Fira saat menyalami.
"Aku yang terima kasih karena Bu Sarah sudah membantu saya sampai kasus ini benar-benar selesai,"
"Sudah tugas saya, Mbak." sahutnya tersenyum.
"Sayang maafkan kami karena keegoisan kami, kamu berada di situasi saat ini. Maafkan kami," ucap Safran memeluk putrinya, kemudian diikuti oleh Lisa.
"Ini bukan salah Papa dan Mama, ini takdir ku. Aku hanya perlu menjalani semuanya, terima kasih atas dukungan kalian, Fira akan berusaha bangkit demi Alana dan kembali menata semuanya,"
Kedua orangtuanya mengangguk, mereka begitu bahagia dengan kedewasaan Fira. Seandainya adalah kata yang tidak boleh kita ucapkan atas apa yang terjadi karena jika kita melakukannya, maka kita menolak takdir kita yang terjadi saat ini ataupun di depan nanti.
__ADS_1
Manusia punya kendali untuk melakukan hal baik dan hal buruk, untuk itu pikirkan semua hal sebelum kita menyesal. Semua orang punya kemungkinan untuk berbuat salah, tapi upayakan seminimal mungkin, karena seseorang yang berpikir lebih dulu akan tau arti dari sebuah bahaya.
**
Sepulang dari pengadilan Fira membersihkan tubuhnya dan langsung menemui Alana, gadis mungil yang saat ini berusia 2 bulan. Alan semakin menyayangi putrinya, wajah putrinya saat ini lebih dominan mirip Fira, anak bayi itu sudah mulai mengerti saat diajak bicara, dia akan menatap siapapun yang mengajaknya bicara, kemudian Alana akan tersenyum.
Meskipun belum mengerti apa yang terjadi, bayi mungil itu tetap diam menerima pelukan dari Mommy nya. Fira menangis di pelukan bayi itu, Fira berkali-kali meminta maaf pada Alana karena tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Alana.
Suster yang menjaga Alana keluar dari ruangan yang dibuat khusus untuk Alana, dia ingin memberikan waktu kepada ibu dan anak itu untuk saling menguatkan dengan caranya.
"Sayang maafkan mommy yang tidak bisa memberikan keluarga utuh kepada kamu, Nak. Maafkan Mommy karena tidak bisa memberikan kesempatan untuk ayahmu, maafkan Mommy yang ingin terlepas dari ayahmu. Kamu mau kan hidup berdua dengan mommy? kita akan memulai semuanya berdua, mommy akan jadi ibu sekaligus ayah buat kamu, mommy akan memberikan yang terbaik buat kamu," ucap Fira terus memeluk putrinya, ia menangis tak hentinya karena merasa bersalah kepada putrinya.
sprei yang belum sempat Bi Rani ganti, dan kaleng susu ibu hamil yang belum bi Rani rapikan. Oh satu lagi, ada beberapa foto USG milik Fira yang tertinggal di laci nakas kamarnya.
Melihat beberapa barang itu membuat perasaan Alan semakin sakit, dia tidak pernah ada saat Fira membutuhkan, gadis mungil itu harus mengandung anaknya seorang diri. Rumah hadiah pernikahan dari kedua orangtuanya tidak diambil alih oleh adlan sekali lagi atas permintaan Rima, karena kelak rumah itu akan diberikan kepada Alana, jadi Alan masih menempati rumah itu atas nama putrinya.
Hari ini Rima berkunjung untuk menemui Alan, ia khawatir terhadap putra semata wayangnya, kesalahan Alan memang sudah keterlaluan tapi semuanya sudah terjadi.
__ADS_1
"Bangunlah, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? lepaskan Fira dengan penuh kerelaan, karena ini semua adalah kesalahan mu yang tidak bisa menjaga semuanya. Kamu harus tetap melanjutkan hidup mu, bukankah kamu masih memiliki istri yang sedang mengandung? lalu kamu mengabaikan dia dan akan membuat kesalahan selanjutnya? sadarlah Alan, jangan seperti ini..."
"Ajak Mama menemui istri mu, segera resmikan pernikahan kalian. Bagaimana pun anak yang ada dalam kandungan ibunya butuh kepastian, ingin rasanya Mama bersikap jahat kepada istri siri mu tapi dia juga adalah korban mu. Meskipun hubungan persahabatan kami harus berantakan tapi percayalah yang lebih menyakitkan adalah merestui hubungan mu dengan wanita yang menjadi alasan terkuat untuk Fira bercerai darimu,"
"Bangunlah, Mama di sini untuk mu. Papa mu sampai kapanpun akan terus diam, apa kamu ingin Mama melakukan hal yang sama seperti Papa mu dan mengabaikan semuanya? kalau itu mau mu, baiklah Mama akan pergi." Saat rima akan keluar dari kamar tamu itu, Alan langsung berdiri dan bersujud di kaki Mamanya, Alan menangis dan memohon ampun, dia terlalu malu untuk bicara dan menatap wajah ibu yang sudah dia kecewakan.
"Ma, Alan butuh Mama. Maafkan semua kebodohan Alan, Alan merasa malu untuk menatap wajah Mama, dosa Alan begitu banyak Alan menyesal Ma," Laki-laki berusia 28 tahun sosok Razka Allandra Wijaya yang tangguh dan berwajah dingin itu menjadi laki-laki yang mudah menangis, Rima pun merasa kasihan dan memeluk tubuh putranya.
"Penyesalan adalah hukuman yang tidak bisa kamu lewatkan, sebaiknya hadapi dan jadilah laki-laki yang lebih baik. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang Ayah yang memiliki dua anak. Sekarang kamu bersihkan diri, dan kita temui istri siri mu. Kamu pasti sudah mengabaikannya selama sebulan ini, apa kamu masih menyembunyikan semuanya dari istri mu itu?" Alan mengangguk dan masih belum melepaskan pelukan Mamanya.
Rima menarik napasnya dalam, pikirnya dirinya sudah mendidik Alan dengan baik, tapi kenapa anaknya malah menjadi sosok yang penuh kejutan seperti ini.
**
Setelah membujuk dan meminta Alan untuk menemui istri sirinya, akhirnya Alan setuju dan segera menghubungi Dinda. Kebetulan Dinda hari ini selesai praktek di rumah sakit sampai pukul 2 siang saja, setelah Alan menghubungi Dinda langsung pulang ke rumahnya dengan perasaan bahagia.
Dinda pulang menggunakan taksi, sesampainya di halaman rumah Dinda sudah melihat mobil terparkir, ia tahu kalau mobil itu adalah milik Alan, Dinda langsung masuk dan saat masuk dia tak hanya melihat suaminya tapi juga seseorang wanita paruh baya yang masih terlihat anggun dan cantik.
__ADS_1
***