
Terima kasih yang sudah stay, kalau kalian mulai bosan silakan menepi hehe. Jangan lupa komentar dan like .💕
💗💗💗
Fira dan mang Asep sudah meninggalkan area rumah, tak lama kemudian Alan turun menghampiri pos satpam. Alan benar-benar penasaran dengan kepergian Fira malam-malam, sejujurnya ia sedikit khawatir dengan kondisinya namun sepertinya gengsi Alan lebih besar.
"Pak, mang Asep mau kemana malam-malam?" ucap Alan mengejutkan mang Ujang yang sedang menonton bola.
"Eh den Alan, itu neng Fira ingin makan mie ayam jamur Pak Rahmat yang di depan komplek den,"
Alan mengangguk, ia tetap berdiri di sana meskipun sudah mendapatkan jawaban dari kekepoannya.
Tak lama telpon mang Ujang berbunyi. Mang Asep ternyata menghubunginya entah ada apa. "Halo, mang Asep, ada apa?"
"Mang Ujang pak Rahmat sudah pulang dari lapak jualannya. Kira-kira mang Ujang tau nggak rumahnya di mana? neng Fira nggak mau makan mie ayam lain selain punya pak Rahmat,"
Pak Ujang nampak ikut menggaruk kepalanya, harusnya yang dibuat repot urusan mengidam seperti ini adalah suaminya, tapi ini orang lain. Lihatlah laki-laki itu hanya melipat kedua tangannya dan menyimak pembicaraan orang lain di telpon.
"Saya tanya satpam komplek dulu mang Asep, soalnya saya juga tidak tahu," sahut mang Ujang,
"Baiklah, saya matikan dulu telponnya ya, ditunggu kabarnya,"
"Baik, Mang,"
Mang Ujang langsung mencari nomor telepon satpam komplek untuk mencari informasi tentang tempat tinggal tukang mie ayam yang sudah lama berjualan di depan komplek itu, ia merasa yakin kalau satpam tersebut tahu lokasi rumah pak Rahmat.
"Kenapa mang ?" tanya Alan penasaran.
"Tukang mie ayamnya sudah pulang, Den. Tapi neng Fira tetap keukeuh ingin mie ayam itu,"
Alan merasa heran dengan keinginan Fira, kenapa harus ribet perkara mie ayam saja. Pikirnya mie ayam sama saja, mie yang diatasnya ditaruh potongan ayam kecil-kecil dan sayuran, lalu kenapa harus spesifik yang menjualnya, kadang dia nggak habis pikir.
"Bilang sama mang Asep suruh pulang sekarang juga, saya tunggu!" ada nada marah dalam ucapan Alan, Alan tidak tahu konsep mengidam itu seperti apa.
"Tapi den.."
"Saya tidak ingin dibantah, Mang."
"Ba..baik den," Mang ujang langsung menghubungi mang Asep dan memintanya segera kembali seperti perintah Alan, meskipun dia bisa membayangkan betapa kecewanya Fira.
Selang beberapa menit kemudian mang Asep sudah datang, keduanya sudah turun dari mobil, Fira terus menunduk saat melihat Alan berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu itu baru kembali dari rumah sakit, bukannya istirahat ini malah keluyuran tengah malam. Apalagi sekarang kamu menyusahkan mang Asep dan mang Ujang, kamu pikir mereka tidak lelah. Kalau kamu lapar kenapa harus mencari makanan yang sulit, apa bi Rani tidak cukup memasak untuk kamu? makan yang ada saja jangan aneh-aneh! " Alan benar-benar kesal dengan apa yang Fira lakukan malam ini, sedangkan mang Ujang dan Asep tidak tega melihat Fira yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Neng, masuk saja dulu, nanti mang Asep carikan rumah pak Rahmat, takut den Alan lebih marah lagi,"
"Tidak usah mang, benar kata Mas Alan keinginan Fira itu merepotkan. Maaf ya membuat kalian ikut repot," Fira langsung berjalan tanpa mendengar ucapan mang Asep selanjutnya.
"Mang, aku ga tega lihatnya. Den Alan kebangetan istri lagi ngidam bukannya dituruti malam diomeli. Coba kamu telpon satpam komplek dan minta alamat rumah pak Rahmat," mang Ujang sepakat dengan ucapan Asep, lalu kemudian mang Ujang menelpon satpam komplek.
Beberapa menit kemudian mang Ujang selesai menelpon.
"Gimana?"
"Rumahnya dekat mang, ada dibelakang komplek ini, ga jauh dari gang sebelah minimarket biru. Kamu tahukan gangnya ?"
"Iya aku tahu,"
"Rumahnya warna hijau, ada pespa tua di depannya,"
"Baiklah, aku pakai motor saja biar cepat," Mang ujang pun mengangguk.
Mang Asep benar-benar mendatangi rumah pak Rahmat. Sesampainya di sana ternyata pak Rahmat belum tidur karena sedang menonton bola seperti yang ia lakukan bersama mang Ujang. Di jendela ia juga melihat kalau mang Asep sedang mencetak Mie ayam yang akan ia jual esok hari.
Tok tok tok
Pak Rahmat kebingungan karena malam-malam ada yang mengetuk rumahnya, ditambah melihat mang Asep yang wajahnya tidak begitu familiar.
"Cari siapa Pak?" tanya pak Rahmat.
"Maaf pak mengganggu waktu istirahatnya, saya Asep supir dari komplek depan,"
"Oh iya, ada apa pak?"
Mang Asep menjelaskan perihal majikan kecilnya yang sedang mengidam, sebenarnya dagangan pak Rahmat sudah habis, tapi karena istrinya sudah membuat ayam jamur untuk mie ayam, dan pak Rahmat juga sedang mencetak Mie ayam, dengan senang hati pak Rahmat membuatnya.
"Hoalahhh kasihan sekali, saya sudah pulang dari jam setengah sebelas tadi. Masuk dulu pak, biar saya buatkan kebetulan persediaannya ada,"
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Pak," pak Rahmat mengangguk, Asep bergabung dengan putra pak Rahmat yang sedang menggunting pangsit goreng.
Kurang dari setengah jam pak Rahmat sudah selesai meracik mie ayam, ia membungkus mie ayam dengan kertas nasi yang dialasi daun pisang sebagai ciri khas, tak lupa kerupuk pangsit.
"Pak ini mie ayamnya sudah jadi, hanya saja air kaldu dan sambal cabenya tidak ada, hanya ada saus saja," ucap pak Rahmat menyerahkan mie ayam.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah, tidak apa-apa Pak, saya senang mie nya ada jadi majikan bisa memenuhi ngidamnya. Mang Ujang mengambil bungkusan mie ayam, sambil menyerahkan uang 50ribu,"
"Sebentar saya ambil kembaliannya,"
"Tidak usah pak, anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya karena sudah merepotkan bapak malam-malam. Sekali lagi terima kasih,"
"Eh ini kebanyakan lebihnya," ucap pak Rahmat menolak.
"Tidak apa-apa pak, saya langsung pamit saja. Assalamualaikum,"
Mang Ujang nampak bahagia dan ia ingin segera sampai rumah untuk memberikan mie ayam pesanan Fira. Di sepanjang jalan dia terus mengucap syukur, dan bisa memenuhi ngidam majikannya.
Di dapan gerbang mang Ujang sudah menunggu, bola yang sedang ia tonton sudah tidak dipedulikan lagi,.
"Gimana mang Asep ada?" tanya Ujang penasaran.
"Alhamdulillah mang, saya mau langsung bawa ke neng Fira,"
"Alhamdulillah, yaudah gih cepet. Bi Rani tadi kebangun minta tolong dia saja untuk menyajikan mie ayam nya,"
Mang Asep mengangguk. Bi Rani benar-benar terbangun dan ia sedang duduk di meja makan sambil menenggak air minum di gelas.
"Bi, tolong taruh ini kedalam mangkuk, panggilkan neng Fira, sepertinya dia sangat menginginkan Mie ayam ini,"
"Dapat mang?"
"Alhamdulillah, dapat Bi,"
Bi Rani langsung menyajikan mie ayam dan memanggil Fira di kamar sebelah, ia tahu karena sejak tadi suara Fira menangis terdengar.
Tok tok tok.
Fira membuka pintunya "Ada apa bi?"
Bi Rani merasa kasihan dengan Fira, sejurus kemudian dia tersenyum "Mie ayam depan komplek sudah tersaji neng,"
"Hah, bukannya sudah tutup?"
"Mang Asep berhasil menemukan rumahnya dan Alhamdulillah di rumah pak Rahmat ada stok neng. Yu makan nanti dede bayinya sedih kalau ngidamnya tidak terpenuhi,"
Fira merasa senang karena keinginannya terpenuhi meskipun bukan dilakukan oleh suaminya. Ia langsung turun bersama bi Rani dan menyantap Mei ayam jamur dengan lahap.
__ADS_1