Menikah Mudah

Menikah Mudah
Malam naas


__ADS_3

Semenjak pembicaraan hari ini Alan sedikit frustrasi, baru menghadapi Papa mertuanya saja sudah membuatnya pusing apalagi kedua orangtuanya. Sudah dipastikan kalau Adlan akan murka terhadap dirinya, begitulah nasibnya yang menjadi seorang anak tunggal.


Hari ini Alan berniat menghindar dari semua keadaan, ia ingin berpikir jernih tentang kelanjutan rumah tangganya apakah akan terus atau menyerah seperti yang diinginkan Papa mertuanya, tapi bagaimana dengan keluarganya, mereka pasti akan kecewa jika hal itu benar terjadi.


Alan menghentikan laju kendaraannya disebuah taman yang sepi, sudah beberapa waktu ia berkeliling dengan mobilnya tanpa tahu arah dan tujuan sebenarnya. Dan di sinilah ia berada, di sebuah taman yang jauh dari keramaian hanya terdengar suara jangkrik dan angin sepoi-sepoi yang memberikan keterangan untuk situasi Alan saat ini.


Ia hanya duduk sambil memandang segala arah tanpa, pikirannya benar-benar kalut dan buntu ingin rasanya dia berteriak dan memaki. Alan berpikiran kalau semuanya tidak adil untuk dirinya, kenapa dia harus menjadi laki-laki brengsek dan mengabaikan pernikahan tanpa berusaha untuk menjaganya, dia merasa bodoh.


Saat sedang merenungi semuanya tiba-tiba hujan lebat mengguyur bumi yang gersang. Alan tidak berniat untuk berlari apalagi berteduh, dia memilih menikmati tetesan air hujan yang mengenai tubuhnya, barangkali semua masalahnya akan luruh dan terbawa air hujan. Hampir satu jam Alan duduk di bangku taman itu, sampai tubuhnya sudah mulai menggigil. Akhirnya Alan memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam, pak satpam yang bertugas masih setia menunggu kedatangan majikannya, sedangkan yang lainnya sudah mengarungi mimpi indahnya.


Tubuh Alan sudah menggigil, sepertinya ia mulai terserang demam, namun kewarasannya masih terjaga. Dia menaiki anak tangga satu demi satu, sampai akhirnya ia tiba di depan kamar miliknya, namun Alan menghentikan laju tangannya yang akan membuka pintu miliknya, Alan lebih tertarik untuk membuka pintu yang tau jauh dari kamar miliknya.


Perlahan Alan membuka pintu kamar itu, dan seketika tatapan matanya berfokus pada sosok gadis kecil yang sudah sah menjadi istrinya secara hukum maupun agama. Gadis polos tanpa riasan dan hijab yang tak lagi melekat di kepalanya menambah kecantikan Fira, hal itu membuat Alan tertarik dan terus mendekat ke arah ranjang.


Wajah Fira sudah persis ada di depan matanya, gadis ini seharian membuat dirinya kelimpungan mencari alasan agar semuanya baik-baik saja. Namun semuanya buntu. Alan masih menatap wajah Fira, tanpa ia sadari kalau gadis sensitif itu merasa terganggu dan menyadari kalau ada seseorang di dekatnya.


Fira terus memberontak bahkan saat ini ia sudah meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Mas, hentikan kamu sudah menyakiti ku," ucap Fira setelah berhasil terlepas dari pagutan Alan.


"Apa kamu menolak apa yang aku lakukan? bahkan tubuhmu ini halal untuk aku nikmati, hari ini kamu sudah menciptakan masalah baru untuk ku, jadi mari kita selesaikan semuanya bersama, jangan menghindar dariku jika akhirnya kamu akan membuat ku kesulitan. Keputusan konyol yang kamu buat benar-benar membuat ku sulit berpikir, bagaimana aku harus menghadapi semuanya secara bersamaan Hah!," Alan seperti kesetanan dia merasa semua ini adalah kesalahan Fira yang gegabah mengambil tindakan.


Alan membuka satu persatu pakaian basah miliknya, sampai akhirnya tidak ada satu kain pun yang melekat ditubuhnya. Fira yang melihat hal itu begitu terkejut dan ketakutan.


"Apa yang sedang kamu lakukan Mas, pergi dari kamarku sekarang juga, kalau tidak aku akan berteriak biar semua orang datang dan menyaksikan kebejatan mu,"


Alan tertawa sinis " Lakukan saja jika kamu tidak punya malu, aku adalah suami mu apakah wajar jika seorang istri berteriak hanya untuk mempermalukan suaminya sendiri? bukankah kamu yang akan lebih malu nantinya karena tidak mau melayani suaminya," ucap Alan telak, membuat Fira tidak bisa berkutik.

__ADS_1


"Mas, aku mohon jangan lakukan ini pada ku, aku tidak tahu kesalahan ku apa, tapi aku mohon maafkan aku dan pergilah dari kamar ini, aku mohon Maa," ucap Fira masih terus memohon dan bahkan ia menangis tersedu, namun Alan tidak memperdulikannya.


Alan kini sudah berada di atas tubuh Fira, dia seperti iblis yang tidak punya belas kasihan, menangis dan memohon pun sia-sia Fira lakukan karena saat ini Alan sudah mengunci kedua tangan Fira yang sejak tadi ia gunakan untuk melawan Alan, bibir yang terus memohon pun sudah Alan bungkam dengan bibirnya. Fira benar-benar tidak berdaya, ini malam naas untuk dirinya.


__ADS_2