
Mendengar ucapan Safran, Alan langsung berdiri dan meminta bantuan Suster untuk menggunakan pakaian steril untuk masuk ke ruangan Fira.
Setelah memasuki ruangan Fira, Alan tertegun karena melihat sosok istri kecilnya yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur pasien. Beberapa alat terpasang ditubuhnya, ada juga alat bantu oksigen dan alat monitor yang terus berbunyi.
Alan mendekat dengan penuh penyesalan, terdengar sekilas ucapannya yang sering menyakiti Fira, pengkhianatan yang baru-baru ini iya lakukan. Kenapa penyesalan ini datang diwaktu yang tidak tepat, Alan bahkan berandai-andai tentang dirinya yang seharusnya tidak menikah dengan Dinda dan ia pasti akan bisa membujuk Fira untuk memulai semuanya dari awal.
Semuanya kini hanya angan, Fira pasti sudah terlanjur kecewa dengan dirinya. Alan benar-benar menyesal karena tidak memperlakukan Fira dengan baik, Fira berjuang sendiri sampai gadis kecil ini bisa melahirkan seorang putri ke dunia.
Alan mengambil posisi duduk dan memegang kedua tangan Fira yang terasa dingin, melihat tubuh kecil Fira terlihat kilasan saat ia masih mengandung dan berjuang sendiri. Teringat juga kilasan saat Fira mengidam dan menginginkan Mie ayam jamur untuk pertama kalinya, namun Alan malah marah karena Fira yang menurut Alan begitu merepotkan.
Alan menangis mengingat itu semua, kenapa ia sejahat itu pada Fira. Fira terlalu banyak mengalah untuk setiap kebodohan yang Alan lakukan, dari mulai pindah sekolah, mengandung, membiayai hidupnya sendiri dan sekarang dia berjuang antara hidup dan mati karena melahirkan. Lalu di mana otak Alan berada?
"Fira, bangun sayang, maafkan Mas yang jahat ini. Bangunlah ada putri kita yang ingin kamu peluk," ucap Alan tanpa memikirkan penolakan dirinya dulu tentang anak Fira.
"Maafkan kebodohan Mas selama ini, jika kamu bermurah hati memaafkan dan mengizinkan Dinda untuk tetap jadi istri Mas, Mas Anji akan berlaku adil terhadap kalian. Kalian saat ini sama berharganya bagi Mas, kalian juga memberikan malaikat yang akan menjadi pelengkap kehidupan kita. Mas mohon segera bangun, dan maafkan Mas,"
Alan bicara omong kosong yang seharusnya tidak ia ucapkan dihadapan Fira, bagaimana bisa laki-laki bo*doh itu meminta izin agar Dinda tetap jadi istrinya dihadapan wanita yang sedang kritis.
Entah Fira mendengar semua ucapan Alan atau hanya kebetulan semata. Tiba-tiba air matanya menetes diujung mata Fira, seolah hal menyakitkan baru saja ia terima, Alan tidak menyadari hal itu dan masih fokus menangis sambil menggenggam tangan Fira. Tak lama suster datang, ia memberitahu kalau waktu berkunjung dibatasi agar Fira bisa beristirahat total.
__ADS_1
"Mas pergi Fir, tolong cepat bangun dan kita mulai semuanya dari awal. Mas Alan akan memohon kepada Mama dan Papa kita agar mereka memaafkan kesalahan Mas, Mas mohon segera bangun Fir,"
Setelah mengucapkan itu Alan langsung pergi meninggalkan ruangan Fira. Tatapan tajam dari Mama mertuanya benar-benar membuat Alan tidak enak hati, bagaimana pun Mama Fira melihat secara langsung penghianatan Alan.
Setelah dari kamar Fira Alan langsung datang keruangan NICU, ruangan yang saat ini ditempati oleh putri Fira, bayi yang masih lemah itu ditaruh di dalam inkubator. dokter memperkirakan bahwa dalam beberapa hari bayi Fira akan dibawa keruang perawatan bayi pada umumnya.
Alan lagi-lagi ditemani oleh seorang suster yang sudah diperintahkan oleh Safran untuk menunjukkan ruangan cucunya, meskipun berat hati Safran tidak ingin menjadi orang yang egois, bagaimana pun Alan adalah ayahnya.
Sama seperti tadi masuk ke ruangan Fira, sekarang pun Alan menggunakan pakaian steril, mencegah virus dari luar masuk keruangan itu. Alan begitu terharu sekaligus bahagia melihat putrinya, wajahnya milik Alan meskipun tidak sepenuhnya, hanya mata dan hidung yang begitu mirip dengan Alan. Hari itu jantung Alan berdebar seperti menemukan cinta pertamanya dulu, dan kini rasa bersalahnya semakin besar karena tidak pernah peduli dengan bayinya.
"Anak Papa, maafkan Papa nak, maafkan Papa sayang. Maafkan Papa karena sudah mengabaikan mu, Papa janji setelah ini Papa akan menjadi Papa terbaik untuk kamu," Bayi kecil yang belum diberi nama itu masih tidur anteng dan tidak memperdulikan ucapan ayahnya, mungkin dia melihat semua perbuatan ayahnya saat ia masih di dalam kandungan ibunya.
"Papa pamit sayang, kalian harus segera sehat dan kita akan berkumpul kembali,"
Alan kembali menemui mertuanya dan dengan tidak tahu malunya Alan ingin memberikan nama untuk bayi Fira.
"Pa, Ma. Aku melihat kalau putriku belum memiliki nama, bolehkah aku yang akan memberikan nama untuk putri ku," ucap Alan ragu.
"Cih, kamu sama sekali tidak berhak memberikan nama untuk cucu saya, Fira yang berjuang sendiri untuk mengandung dan melahirkan, biarkan dia yang memberikan nama untuk anaknya. Harusnya sebelum bicara kamu berpikir dulu, apakah kamu berhak melakukannya, memangnya apa yang sudah kamu berikan untuk anak dan cucu saya, hanya menanam benih secara paksa dan mengabaikannya, apakah hal itu dianggap layak?" crocos Lisa yang terlanjur emosi mendengar permintaan Alan.
__ADS_1
Alan hanya menunduk mendengar pernyataan ibu mertuanya, semua yang dikatakan lisa adalah benar jadi Alan tidak perlu menyangkalnya.
"Sebaiknya kamu pulang saja, maaf saya tidak bisa mengabulkan keinginan kamu untuk memberikan nama pada cucu saya, biarkan hal itu ditentukan oleh Fira setelah dia sadar nanti. Jangan menghawatirkan anak dan cucu saya, ada baiknya kamu memperhatikan situasi mu saat ini,"
"Pa, biarkan aku tetap di sini sampai Fira sadar, setelah itu aku akan menerima semua keputusan yang Fira berikan," ucap Alan memohon.
"Bukankah Fira sudah membuat keputusan? kalau setelah melahirkan nanti dia akan bercerai darimu, maka itu sudah cukup. Kamu sudah mendapatkan keputusan itu, dan sekarang silakan pergi!" timpal Lisa yang lebih menggebu-gebu menanggapi ucapan Fira.
"Maaa... sabar dong, jangan pakai emosi," nasehat Safran pada istrinya.
"Papa ini terlalu baik, kalau Mama jadi Papa sudah aku hajar habis-habisan menantu si*Alan kaya dia..."
"Ma, cukup! Apa dengan emosi semua akan selesai? Papa tidak pernah mengajarkan keluarga Papa menjadi pendendam, semuanya sudah ketentuan Allah Ma, kita hanya harus menjalaninya. Bahagia dan kecewa adalah perasaan wajar sebagai makhluk hidup,"
Mendengar suaminya kembali menasehatinya Lisa hanya diam dan tak mau menyahut karena percuma suaminya bukan tipikal laki-laki yang akan mengumbar emosi hanya untuk memuaskan kekesalannya. Fira memiliki sifat yang dimiliki Safran sedangkan Fero lebih ke Mama nya. Kapan kakaknya itu pulang ke Indonesia dan melihat drama keluarga sang adik.
***
Aku kemarin nggak up, in syaa Allah hari ini dua, nyicil dulu satu 💕
__ADS_1