Menikah Mudah

Menikah Mudah
Alana Dalisha Adha tanpa Wijaya


__ADS_3

"Alana??" tanya ulang Papa


Fira mengangguk "Alana Dalisha Adha,"


"Nama yang cantik, artinya apa sayang?" tanya Mama penasaran.


"Dia anak Fira, anugerah yang berharga, anak yang menyenangkan dan penuh kebahagiaan, anak cerdas seperti keinginan ayahnya. Meskipun melewati banyak kesedihan dia akan selalu bahagia itu harapan dan doa Fira," ucap Fira menatap wajah putrinya yang kembali tertidur setelah drama menangis.


"Arti nama yang cantik, apa kamu tidak berniat memberikan nama belakang ayahnya?"


Fira menggeleng "Sudah seperti ini saja sudah cukup."


"Baiklah sayang, sebaiknya kamu Istirahat kembali, biarkan Alana tidur dengan Mama,"


"Aku masih ingin bersamanya, ternyata dia yang selama sembilan bulan ini menemani Fira melewati hari sulit, sekarang dia nyata ada di samping Fira,"


"Baiklah, Mama dan Papa akan menemani kamu di sini,"


"Tidak, sebaiknya kalian istirahat saja, selama seminggu ini kalian pasti lelah menjaga Fira,"


"Tidak apa-apa sayang, yang terpenting kamu sehat kembali,"


"Yasudah Mama dan Papa akan tidur di sofa luas itu, kalau ada dibutuhkan segera bangunkan kami," Fira mengangguk.


"Mbak kamu juga tidur ya," ucap Lisa pada baby sitter cucunya.


Menjelang subuh pagi Fira masih terbangun, dan menatap wajah anaknya yang sejak tengah malam tadi tidur nyenyak di samping ibunya.


***


Hari ini Fira menjalani serangkaian tes untuk memastikan kondisi Fira, dan dokter Mira sudah datang sejak tadi pagi untuk menjadi dokter pendamping Fira, dokter Sean pun masih berada di sana setelah piket malamnya selesai. Dia juga ingin melihat kondisi Fira, karena selama satu minggu ini dia membantu dokter Mira menangani Fira.


"Syukurlah semuanya sudah normal kembali namun tetap dalam pemantauan dokter, dan usahakan Fira selalu meminum obat dan hindari stres atau aktivitas fisik yang akan menimbulkan permasalahan kondisi Fira," ucap dokter Mira semua orang yang berkumpul di ruangan Fira merasa lega, setelah membaca hasil tes yang dilakukan tadi pagi.


"dokter Sean masih di sini? sudah hampir jam makan siang loh?" ucap dokter Mira pada rekan sejawatnya

__ADS_1


"Iya, saya sudah cukup istirahat di ruang piket, kalau pulang lumayan memakan waktu. Kebetulan saya ada operasi siang ini," sahut dokter anak tersebut.


"Apa butuh bantuan saya?"


"Tidak, dok. Hanya operasi kecil saja,"


"Baiklah,"


"Kalau begitu kami pamit lebih dulu, Fira kamu harus banyak istirahat jangan lupa obat dan makannya ya,"


"Baik, dok. Terima kasih,"


Saat keduanya akan meninggalkan ruangan Fira, Sean sempat bertanya mengenai nama bayi Fira.


"Apakah gadis cantik ini sudah memiliki nama? tolong perkenalkan namamu cantik," ucap Sean mengajak bicara bayi yang masih tertidur di box bayi.


"Namaku Alana om dokter," sahut Fira meniru suara anak kecil.


"Maa syaa Allah, nama yang cantik. Assalamualaikum baby Alana, akhirnya ya bisa manggil nama kamu juga.


dokter Mira hanya tersenyum melihat interaksi teman dan pasiennya, bagaimana bisa mereka terlihat akrab seperti saat ini, padahal saat itu Fira sedang koma.


Keduanya benar-benar pergi, tak lama kemudian datang keluarga dari suaminya termasuk Alan. Mereka datang rutin untuk melihat keadaan Fira terlebih sang cucu, mereka belum tahu kalau Fira sudah sadar dari komanya.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumussalam," sahut mereka serentak.


Alan tertegun melihat Fira yang sudah sadar fira sedang bersandar pada ranjang rumah sakit sambil menggendong putrinya. Wajah sederhana dan cantik itu kini selalu berada di dalam pikirannya meskipun bukan satu-satunya.


"Fira, kamu sudah sadar, sayang." ucap Rima langsung memeluk menantu kesayangannya.


"Alhamdulillah, Fir. Akhirnya kamu sadar juga, kamu tahu betapa hancurnya hati suami mu melihat kamu yang belum sadarkan diri," ucap Adlan yang hanya ditawai dalam hati oleh Fira dan keluarganya.


"Alhamdulillah, Ma, Pa. Berkat doa kalian Fira bisa kembali sadar. Terima kasih," sahut Fira singkat. Alan masih diam mematung dengan mata berkaca-kaca, bibirnya terasa kelu semua perasaan menyatu padu.

__ADS_1


"Alan, apa kamu akan terus diam di situ dan tidak akan menyapa istri mu!" ucap Adlan menyadarkan Alan dari lamunannya.


"I..iya, Pa." Alan pun mendekat.


"Alhamdulillah kamu sudah bangun, aku takut fir, takut kalau kamu tidak bangun lagi," ucap Alan memeluk Fira, namun respon Fira begitu dingin dan biasa saja,"


"Terima kasih," sahutnya singkat.


"Fira, sini Alana biar Mama yang gendong," timpal Mama Lisa mencairkan ketidak nyamanan Fira karena dipeluk Alan.


"Alana? apakah itu nama anak kita?" tanya Alan yang dianggukki Fira.


"Nama yang cantik," sahut Adlan dan Rima.


"Apakah ada nama lainnya?" tanya Mama Rima,"


"Alana Dalisha Adha" sahut Fira menyebutkan nama lengkap anaknya. Ketiganya tertegun karena nama belakang keluarganya tidak disematkan.


"Kenapa tidak ada nama belakang keluarga kami?" tanya Adlan penasaran.


"Adlan Kita akan membicarakannya setelah Fira pulang dari rumah sakit," ucap Safran mengerti situasi yang akan terjadi dengan pertanyaan besannya.


"Jangan meminta penjelasan saat ini juga, hormati keputusan kami, dan kami juga ingin memastikan kondisi Fira membaik," sambung Safran, meskipun tidak mengerti dengan apa yang terjadi Adlan memilih setuju dan tidak bertanya lagi, sementara Alan tahu penyebabnya dan merasa sedih, bahwa dirinya tidak berhak meskipun hanya memberikan nama.


Kondisi ruangan itu begitu canggung tidak ada canda tawa seperti sebelumnya, obrolan serius atau hanya omong kosong pun tidak ada. Fira memilih fokus dengan putrinya, Safran memantau laptop karena sedang mengadakan rapat di kamar sebelah, sementara Lisa sedang sibuk merapikan pakaian kotornya. Lalu bagaimana dengan keluarga Alan, mereka mulai merasakan keanehan, Adlan curiga telah terjadi sesuatu karena tidak biasanya mereka diabaikan seperti saat ini.


***


Dua Minggu di rumah sakit akhirnya Fira diizinkan pulang. Tanpa sepengetahuan keluarga Alan, Fira di ajak pulang ke rumah milik Safran. Semua barang-barang milik Fira sudah di bawa lebih dulu ke apartemen yang Fira sewa, sisanya di bawa ke rumah orangtuanya.


Selama seminggu ini Alan masih rajin bolak-balik ke rumah sakit, bahkan Dinda tidak curiga saat Alan sering menemui keluarga Fira, karena setahunya keluarga mereka bersahabat. Dinda juga pernah mendatangi ruangan Fira saat kedua orangtuanya sedang pulang ke rumah, hanya ada baby sitter Alana dan perawat yang ditugaskan membantu Fira.


Fira hanya tersenyum dalam hati ketika madunya datang ke ruangan Fira untuk memberikan selamat. Fira melihat perut Dinda yang sudah mulai membuncit menambah rasa sesak di dadanya, namun Fira berusaha baik-baik saja.


Sedangkan rima berusaha mendesak Bi rani untuk menceritakan semua yang terjadi, namun bi Rani memilih pura-pura tidak tahu, apalagi bi Rani sudah diberi arahan oleh Safran untuk tetap diam, karena ini masalah keluarga dan harus diselesaikan oleh keluarga pula.

__ADS_1


***


__ADS_2