Menikah Mudah

Menikah Mudah
Pembicaraan


__ADS_3

"Apa kalian akan tetap diam?" tanya Alan pada semua siswa yang ada.


Murid yang ada di kelas itu tetap diam dan menunduk, sampai akhirnya Dina angkat bicara.


"Sudah lebih dari satu Minggu Fira tidak datang ke sekolah, Pak. Kami pun kesulitan menghubungi Fira, sepertinya dia mengganti nomor ponselnya,"


Alan mengernyitkan keningnya, lebih dari seminggu? bukankah setiap pagi ia mendapati kabar kalau Fira sudah berangkat ke sekolah kenapa saat ini malah gadis itu tidak ada di kelas.


"Apa kamu serius?" tanya Alan tidak percaya.


"Kalau bapak tidak percaya, tanya saja sama teman-teman yang lain kalau perlu bapak tanyakan ke kepala sekolah di sini," kemudian Alan menatap semua murid dan mereka mengangguk, tanda kalau apa yang dikatakan Dina benar adanya.


Alan langsung meninggalkan kelas dan menuju ke ruang kepala sekolah untuk meminta penjelasan. Dia tidak mengerti kenapa Fira pergi sekolah namun gadis itu tidak datang. Apa Fira membolos dan membohongi keluarganya?


Tanpa mengetuk pintu, Alan langsung masuk keruangan milik Yoga, dengan perasaan tergesa dan campur aduk. Yoga yang sedang membaca laporan pun terkejut ketika pintu terbuka tanpa ada yang mengetuknya.


Setelah melihat siapa yang datang, Yoga pun berdiri dan menyambut Alan.


"Pak Alan, bukannya hari ini ada kelas?" tanya yoga formal


"Om, sebaiknya kita bersikap seperti tidak di sekolah saja. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan, tolong jawab dengan jujur," ucap Alan serius. Yoga sudah paham apa yang akan ditanyakan oleh Alan.


"Duduk lah, om akan mendengarkan apa yang ingin kamu tanyakan," keduanya pun sudah duduk berhadapan.


"Apa yang ingin kamu tanyakan mengenai Fira yang tidak ada di kelasnya?" tanya Yoga seolah bisa membaca isi kepala Alan.


"Om sudah tahu? "


Yoga mengangguk "Mertua mu yang meminta izin langsung untuk pemindahan Fira..."


"Tapi kenapa?" tanya Alan memotong ucapan yoga.

__ADS_1


"Om tidak tahu alasan sebenarnya apa, namun mertuamu meminta om untuk sementara waktu untuk merahasiakan ini dari kamu dan juga keluarga mu, Safran yang akan langsung mengatakannya pada kamu dan ayah mu," ucap Yoga menjelaskan situasi.


Alan nampak kehabisan kata-kata, dia tidak menyangka kalau Fira akan meninggalkan sekolah ini.


"Kenapa diam, bukankah kamu harusnya malah senang karena Fira sudah pindah sekolah, yang saya dengar dari anak-anak saat mereka membicarakan kepindahan Fira, mereka bilang faktor Fira pindah karena kamu sering memaki dan mempermalukan Fira yang kurang pandai? bahkan kamu melakukannya berulang kali,"


Alan diam dan tidak menjawab pertanyaan Yoga, mungkin dia sedang berpikir atau menyesal. Entahlah.


"Om sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, seharusnya pernikahan kalian pun tidak terjadi karena prinsip hidup kalian yang berbeda. Hal itu hanya akan menjadi Boomerang jika hanya salah satu dari kalian saja yang berjuang. Sebaiknya kamu bicarakan semuanya dengan keluarga mu, sebelum semuanya terlambat," ucap yoga memberikan nasihat


"Aku permisi ke kelas om," ucap Alan meninggalkan ruangan yoga begitu saja.


Di sepanjang jalan menuju kelas Alan sedikit melamun, apakah benar kalau penyebab Fira pindah adalah dirinya. Alan terus melangkahkan kakinya hingga akhirnya ia sampai di sebuah kelas, kelas di mana sebelumnya dia selalu melihat istri kecilnya duduk dan menjadi bahan kekesalannya saat gadis itu terlambat atau tidak pernah bisa memahami penjelasan darinya.


Suasana belajar pun berjalan lancar, sampai akhirnya ia meninggalkan kelas setelah bel berbunyi. Alan masuk ke ruangannya dan tidak bersemangat untuk melanjutkan kelas selanjutnya, tak lama hapenya berbunyi pertanda ada yang menelpon Alan. Setelah ia mengambil hape dari saku celananya tertera nama Papa Safran, yang tak lain adalah ayah mertuanya, dengan ragu ia pun menerima panggilan telepon tersebut.


"Assalamualaikum, Alan," ucap salam Safran


"Lan, Papa nggak akan basa-basi, bisa tidak saat jam makan siang nanti kita ketemuan?"


"Ada apa Pa, tumben sekali?"


"Ada yang ingin Papa bicarakan, nanti lokasinya Papa kirim ya lewat We a, Papa harap kamu datang. Kalau gitu Papa tutup ya telponnya, masih ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan,"


"Baik Pa,"


Setelah telepon di tutup Alan kembali berpikir mengenai hal yang akan dibicarakan oleh Papa mertuanya, karena tidak biasanya Safran meminta bertemu di luar selain rumah dan kantor,"


**


Jam makan siang pun datang, Alan datang lebih awal ke restoran yang sudah di pesan oleh Safran. Alan benar-benar penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh mertuanya.

__ADS_1


"Kamu sudah datang?" tanya Safran


"Sudah, Pa. Aku sengaja datang lebih awal karena takut Papa menunggu,"


"Baiklah, apa kamu sudah memesan sesuatu?"


"Aku hanya memesan jus ini saja, Pa" ucap Alan sambil memperlihatkan gelas yang berisi jus yang sudah ia habiskan setengah gelas.


"hhmh baiklah, " Dan Safran pun memesan minuman dingin dan makan siang kepada salah satu pelayan yang tak jauh darinya . "Sebaiknya kita makan dulu setelah itu baru bicara,"


Lima belas menit kemudian makanan yang dipesan datang, Alan dan Safran pun menghentikan perbincangan mengenai pekerjaan dan beberapa proyek yang sedang dikerjakan oleh Alan.


Makan siang berlangsung hikmat, tidak ada pembicaraan apapun sampai keduanya membalikkan sendok pertanda makan sudah selesai. Setelah makan cukup dicerna akhirnya Safran membuka pembicaraan, dia sudah tidak sanggup menahannya lagi.


"Kamu pasti sudah tahu kalau hari ini Fira tidak ada di kelasnya" ucap Safran yang beberapa waktu lalu mendapatkan telpon dari Yoga.


Alan mengangguk "Alan, apa kamu bahagia menikah dengan anak Papa?," tanya Safran tiba-tiba, hal itu membuat Alan kebingungan. Dari kebingungan itu Safran sudah menyimpulkan satu hal, kalau Alan tidak bahagia.


Safran tersenyum "Seharusnya kamu menolak sejak awal, kalau kamu tidak bisa melakukannya kamu bisa meminta bantuan om saat itu," ucap Safran yang tidak ingin Lagi memaksakan Alan untuk menyebut dirinya Papa, Alan terkejut saat panggilan dulu sebelum menikah Safran ucapkan.


"Fira tidak ingin mempermalukan kamu terus menerus jadi dia meminta kami untuk memindahkan sekolahnya, awalnya kami menolak namun melihat kondisi Fira yang tertekan akhirnya om dan tante setuju untuk memindahkan sekolah Fira. Jangan menyalahkan dia, sepertinya perjodohan ini harus dibicarakan kembali, om tidak bisa melihat putri semata wayang om tidak bahagia," ucap Safran mengatakan uneg-unegnya.


"Maafkan aku Pa, aku yang bersalah dalam hal ini," ucap Alan menunduk.


Safran menggeleng "Ini bukan salah kalian kami saja yang terlalu egois, tanpa memikirkan kebahagiaan kalian. Apalagi kamu, mana ada laki-laki cerdas yang ingin bersanding dengan anak bodoh seperti om, tapi dia permata om , om sangat menyayangi nya,"


"Pa, jangan seperti ini," ucap Alan merasa bersalah.


"Mari kita bicarakan kembali semuanya, dan dengan senang hati om akan membawa Fira kembali ke rumah," ucap Safran berdiri dan berpamitan kepada Alan.


***

__ADS_1


__ADS_2