Menikah Mudah

Menikah Mudah
Seperti dulu


__ADS_3

Dilantai atas Fira sedang sibuk memasukkan buku-buku kedalam sebuah kardus, setelah sebelumnya memasukkan baju-baju miliknya ke dalam koper milik Fira. Saat tengah asih dengan aktivitasnya tiba-tiba Alan masuk kedalam kamar, laki-laki itu mematung ia pikir Fira hanya akan main-main saja.


"Fira, apa kamu serius dengan tindakan mu saat ini, bagaimana kalau orang-orang di rumah ini melaporkannya kepada Mama. Aku tidak ingin kena omel Mama, lagi pula kenapa harus pisah kamar segala, kamu masih bisa tinggal di kamar ini bersama saya," ucap Alan yang tidak bermaksud meminta maaf atas ucapan sebelumnya.


Fira hanya tersenyum, beginilah hubungan yang terjadi karena perjodohan, jadi mau tidak mau Fira harus menerima.


"Tidak usah, Mas. Aku tahu kamu tidak nyaman tinggal satu ruangan bersamaku, apalagi seperti yang kamu katakan akan menjadi mimpi yang lebih buruk lagi jika aku masih tidur di kamar ini. Mas, mulai saat ini bersikaplah seperti dulu saat kita sering bertemu di rumah dengan Kak Fero, tidak saling menyapa atau memperdulikan satu sama lain. Namun biarkan hubungan ini tetap bertahan sampai waktunya tiba kita harus berpisah," ucap Fira langsung meninggalkan kamar dengan membawa Kadus ditangan kira dan koper di tangan kanan.


Alan masih terdiam, kenapa setiap ucapan yang keluar dari mulut Fira membuatnya tidak berkutik.


Setelah Fira meninggalkan kamar yang beberapa hari diisi oleh keduanya, kini Alan harus kembali tidur sendiri seperti sebelum dirinya menikah. Alan seperti kehabisan kata-kata, bahkan saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa.


***


Sesudah makan malam Fira mengajak bicara beberapa orang di rumah itu, dia menjelaskan banyak hal tentang hubungannya, bukan menceritakan yang sebenarnya terjadi, hanya saja dia harus menjaga situasi agar semuanya terlihat baik-baik saja.


"Bi, tidak mudah menjalani hubungan perjodohan, apalagi aku masih sekolah. Aku tahu kesetiaan bibi terhadap keluarga suamiku, aku pun tahu mereka menyimpan banyak harapan pada hubungan kami. Tapi bisakah kami melakukannya secara perlahan, biarkan kami saling mengenal lebih dekat, meskipun aku sudah mengenalnya namun untuk hubungan pernikahan ini kami masih awam. Jadi bisakah bibi menjelaskan semuanya tanpa membuat mereka khawatir? mulai malam ini kami akan tidur terpisah, setelah lulus sekolah kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kedepannya," Ucap Fira yang saat ini sedang duduk di meja makan dan berbicara dengan asisten rumah tangga yang diutus oleh ibu mertuanya untuk menjadi mata-mata.


Seperti yang sudah Fira duga kalau bibi tidak akan semudah itu dibujuk, namun Fira yakin kalau bi Rani tidak akan melaporkan banyak hal selain yang aku minta belum lama.


"Mohon dipertimbangkan, aku ingin masuk dulu ke kamar, aku harus mengerjakan PR, aku tidak ingin membuat orang lain semakin malu karena memiliki istri bodoh seperti ku. Aku terlalu merepotkan banyak orang, termasuk bibi," Bi Rani tetap menunduk dan tidak merespon ucapan Fira, dia sedang dilema, bagaimana juga dia hanya seorang pekerja.

__ADS_1


Fira kembali ke kamarnya mengerjakan PR Alan yang sebelumnya dikirim oleh Dina. Alan mengancam siapapun yang tidak mengerjakan PR darinya akan mendapatkan nilai Nol, dan mau tidak mau Fira harus belajar. Membuka halaman demi halaman buku yang sedikitpun tidak ia pahami, membuka internet atau yutub untuk sekedar melihat materi yang sama sedang di bahas. Tatap saja otak Fira menolak untuk paham, dan akhirnya ia memilih untuk tidur, ia pikir pelajaran Alan akan datang 2 hari kemudian.


Di kamar yang lain Alan sedang menatap langit-langit, sambil sesekali menatap ke sebelah kanan tempat yang sebelumnya Fira tempati. Gadis itu kini memutuskan untuk meninggalkan Alan, bagaimana juga Alan paham kalau ini bukan keinginannya.


***


Pagi-pagi sekali Fira sudah bangun karena bantuan Alarm dan juga azan subuh yang berkumandang. Setelah selesai dengan ibadahnya dia langsung turun ke dapur untuk membuat nasi goreng, Fira membuat cukup banyak nasi goreng untuk orang-orang yang tinggal di rumah bersamanya. Tidak banyak yang tahu kalau Fira sangat pandai dalam hal mengolah makanan, bahkan setiap keluarganya ulang tahun dia sendiri yang akan membuatkan kue nya.


Fira hanya menunjukkan keahliannya pada keluarga saja, sisanya mereka hanya tahu kalau Fira adalah orang bodoh yang tidak bisa apa-apa. Fira membuat bekal untuk dirinya sendiri, dan membawa sarapannya ke kamar dengan susu hangat coklat favoritnya.


"Neng yang masak sarapan ini?," tanya bi Rani.


"Aku mempraktekkan apa yang aku lihat di internet, mudah-mudahan rasanya enak dan bisa diterima oleh yang memakannya," sahut Fira berbohong mengenai resep yang ia lihat di internet.


"Aku ingin menikmatinya sendiri, kalau Mas Alan tanya bilang saja bibi yang membuat sarapan ini"


"Apa neng Fira dan den Alan sedang bertengkar ya?"


"Tidak, Bi. Aku hari ini benar-benar ingin menikmati sarapanku saja, jangan berpikiran yang tidak-tidak, semuanya akan baik-baik saja, Bi,"


"Baiklah, Bibi percaya,"

__ADS_1


Fira pun melanjutkan langkahnya menuju kamar yang saat ini ia tempati, dan beberapa saat kemudian Alan keluar dari kamarnya dengan menggunakan setelan jas lengkap, sepertinya hari ini dia akan pergi ke kantor bukan ke sekolah.


"Bi, Fira belum turun?" tanya Alan


"Sudah, Den. Tapi naik lagi ke kamarnya..." Belum selesai bicara Alan sudah memotong ucapannya.


"Hmmh yasudah biarkan saja. Hari ini masak apa Bi?"


"Itu den, nasi goreng seafood," Alan mengernyitkan keningnya.


"Tumben biasanya nasi goreng ayam suwir atau telor ceplok,"


"I..itu den," sahut Bi Rani gugup harus jujur atau berbohong saja, tapi kalau bohong bagaimana kalau nanti dia di suruh membuat makanan yang sama. Dan akhirnya dia memilih jujur.


"Sarapan kali ini yang buat neng Fira, Den. Dia bangun lebih awal, sepertinya makanannya enak,"


Alan sedikit terkejut sekaligus ragu dengan masakan yang dibuat Fira, dalam pikirannya Fira adalah anak manja yang tidak bisa melakukan apapun.


"Bibi belum mencobanya? apa makanan ini akan baik-baik saja ketika masuk ke dalam mulut saya? Saya tidak usah sarapan saja Bi," Alan menggeser piring di depannya, karena ragu akan makanan yang dibuat oleh Fira.


"Apa tidak sebaiknya Den Alan coba saja dulu, saya tidak sempat mencicipi karena harus mengerjakan pekerjaan lain. Belajar menghargai apa yang sudah dilakukan neng Fira Den, bagaimana juga hubungan kalian saat ini adalah suami istri, perlu menyesuaikan banyak hal.

__ADS_1


Akhirnya Alan pun mendengarkan ucapan Bi Rani, satu sendok pertama masuk kedalam mulutnya dengan penuh keraguan, kunyahan pertama, kedua dan selanjutnya membuat mimik wajahnya berubah, Bi Rani yang melihatnya begitu menunggu jawaban dari tuan mudanya, apakah makanannya enak atau tidak


__ADS_2