
Hari-hari terus berganti bahkan bulan yang terus terlewat. Kehamilan Fira saat ini sudah memasuki bulan ke 9, dokter memprediksi kalau Fira akan melahirkan sekitar 2 Minggu lagi. Segala persiapan sudah selesai kini hanya tinggal menyambut kedatangan buah hatinya.
Alan, bagaimana dengan dia? dia masih kaku dan dingin seperti biasanya, tapi selama 4 bulan setelah mengetahui jenis kelamin anak yang dikandung Fira, Alan melunak dan diam-diam ikut memperhatikan kondisi kehamilan Fira. Bahkan laki-laki itu akan mengambil alih tugas pak Asep saat Fira menginginkan sesuatu.
Alan juga sering mengikuti Fira saat akan memeriksakan kondisi kehamilannya, setelah Fira keluar dari ruangan dokter Mira, maka Alan akan menerobos masuk untuk mengetahui kondisi anak yang dikandungnya. Tapi semua itu bahkan sia-sia, yang Fira inginkan sesuai yang nyata bukan dilakukan secara diam-diam, toh Fira tidak akan tahu.
Hingga Fira mengetahui semuanya setelah para pekerja di desak Fira untuk bercerita, karena banyak kejanggalan yang ia terima contohnya bi Rani selalu menghalangi Fira untuk membuat susu hamil, makanan pinggiran yang selalu Fira inginkan berubah menjadi makanan bintang 5, vitamin vitamin mahal yang selalu ia konsumsi setiap hari dan Alan menerapkan makan sehat sesuai saran yang diberikan ahli gizi.
Semua itu jelas bukan yang Fira inginkan, selama ini dia menghasilkan uang sendiri, menghidupi dia dan anaknya dengan uang yang Fira hasilkan dari Kafe. Karena sadar kalau dia dan anaknya bukan prioritas utama Alan, dia hanya ingin melakukan semuanya sendiri tanpa penyesalan.
"Berhenti melakukan semuanya, Mas. Jangan membebani dirimu dengan tanggung jawab yang tidak ingin kamu lakukan, selama satu tahun pernikahan kita, bahkan aku lupa berapa lama kita menikah, yang aku ingat hanya dia yang ada dalam kandungan ku saja. Aku benar-benar sudah tidak mengharapkan apapun lagi Mas, aku hanya ingin melahirkan dia dengan tenang ..."
"Kamu tidak perlu diam-diam mengikuti ku ke rumah sakit, diam-diam membelikan makanan untuk ku, atau membuat susu untuk ku. Aku tahu semuanya karena susu yang kamu buatkan terlalu hambar, makanan yang kamu belikan terlalu hambar, sama seperti pernikahan kita yang hambar..."
"Kamu melakukan ini atas dasar permintaan Papa dan Mama mu bukan? aku tahu karena diam-diam Bi Rani selalu melaporkan situasi kita, hubungan kita yang tidak baik-baik saja, bahkan aku kesulitan untuk membungkam mulut bi Rani agar tidak bercerita pada Mama mu. Namun begitu aku membiarkannya, apa kamu tahu? kalau aku sama sekali tidak menginginkan hal itu."
"Aku hanya ingin bertanya apa di hatimu ada kami? apa pernah sekali saja kamu berniat mengelus perutku dan berbicara dengannya seperti yang dilakukan suami lain, apa pernah kamu menginginkan mendengar detak jantungnya secara langsung, dan apa pernah kamu berusaha menerima pernikahan kita?"
"Jika tidak jangan bersikap seperti seorang suami dan ayah, aku tidak memerlukannya. Aku hanya ingin mengembalikan kartu kartu ATM ini kepada mu, aku tidak pernah menggunakannya untuk keperluan pribadi ku dan anakku, aku hanya menggunakannya untuk keperluan rumah dan makan para pegawai di rumah ini selebihnya aku menggunakan uangku..."
__ADS_1
"Setelah aku melahirkan, mari kita selesaikan semuanya, aku akan pergi dengan anakku dan kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang. Jangan pikirkan kami, tapi aku pun tidak akan menghalangi kamu untuk menemuinya, itu jika kamu ingin,"
"Aku sudah lelah menanggung semuanya, berpura-pura baik-baik saja ternyata tidak semenyenangkan itu, semuanya hanya membuat dadaku sesak saja. "
Fira benar-benar mengeluarkan semua uneg-unegnya, dia tidak ingin menahan semuanya lagi. Jika Alan tidak menginginkannya mengapa dia mempertahankan dirinya cukup lama, alasan akan berubah hanya omong kosong. Laki-laki itu tidak pernah bersikap jahat secara berlebihan atau melakukan tindakan yang membahayakan seperti memukul atau menghardik dengan sangat kejam.
Alan hanya bertahan dengan sikap diamnya, berucap sesekali meskipun terdengar menyakitkan. Itu jauh lebih menyiksa bagi Fira.
"Aku sudah merapikan barang-barang milikku, aku bahkan sudah membawanya separuh. Aku sudah menyewa apartemen selama satu tahun, jadi setelah melahirkan aku tidak akan kembali ke rumah ini. rencananya hari ini aku ingin segera menempati apartemen milikku, urusan dengan orang tua kita, aku akan bicara baik-baik dengan mereka, aku sudah bicara dengan orangtuaku..."
"Oh iya, aku juga sudah mengisi formulir perceraian kita, aku tahu perceraian ini sangat dibenci oleh Allah, tapi bertahan pun tidak akan baik jika situasinya tetap sama. Aku memilih mundur saja,"
Alan tertunduk kepalanya seolah berat, dia benar-benar tidak pernah bisa berkutik saat Fira berbicara apalagi menyebutkan kekurangannya selama ini, Alan akan mati kutu dan memilih diam seperti biasa. Jika seperti itu bukankah Alan tidak berguna sebagai seorang suami?
*****
Alan mendapatkan telepon dari seseorang, dan saat itu ia langsung pergi meninggalkan rumah tanpa bicara satu katapun. Ia mendatangi salah satu rumah yang tidak besar dan tidak juga kecil, Alan masuk tanpa mengetuk pintu rumah itu, ia seperti masuk ke dalam rumahnya.
"Mas, kamu sudah datang?" tanya perempuan yang sedang terbaring ditempat tidur miliknya.
__ADS_1
"Iya, tadi Bi minah menelpon kalau kamu jatuh pingsan. Apa kamu sakit?" tanya Alan khawatir.
Perempuan itu tersenyum "Mas, aku hamil," ucap perempuan itu dengan senyum kebahagiaan sedangkan Alan begitu terkejut.
"Ka...kamu hamil?" perempuan itu bernama Dinda. Ya dia adalah Dinda yang sudah di nikahi secara siri, kebersamaan keduanya membuat Dinda semakin jatuh cinta, dan Alan yang memang menyukai Dinda dari dulu memilih menawarkan pernikahan siri pada Dinda dengan alasan menunggu restu orangtuanya. Kepala Alan semakin pusing, pernikahannya sebentar lagi akan berakhir dengan Fira. Harusnya dia bahagia tapi semuanya semakin rumit.
Tiga bulan yang lalu keduanya menikah, dan kini Dinda sedang mengandung buah hatinya. Namun Alan berusaha untuk tersenyum menutupi beban besar dipundaknya.
"Apa kamu senang Mas?"
"Tentu saja, dia buah hati kita aku sangat bahagia menyambut kedatangannya,"
"Lalu kapan kita akan meresmikan pernikahan kita, Mas? orangtuaku selalu bertanya"
"Tunggu lah sebentar lagi,"
"Tapi kapan, Mas?" Dinda terus mendesak, sampai akhirnya Alan mengatakan bulan besok.
"Bulan besok"
__ADS_1
"Janji ya, Mas," Alan hanya mengangguk, perasaannya benar-benar kalut. Dia sudah menjadi laki-laki ba*jingan yang tidak akan pernah termaafkan.