
Beberapa menit kemudian Fira dan Ana sudah sampai di kafe milik Fira, bangunan yang memiliki 2 lantai, lantai utama sebagai pusat aktivitas kafe, sedangkan lantai dua terdapat ruangan Fira dan ruang ganti atau ruang istirahat yang disediakan untuk karyawan.
"Fir, ngapain masuk kesini? kayanya ini bukan tempat yang cocok buat orang kaya kita," Ana merasa insekyur datang ke tempat orang-orang ber-uang nongkrong.
"Masuk dulu nanti aku jelaskan," Fira pun menarik tangan Ana, sesampainya di dalam kafe beberapa karyawan yang baru menyapa Fira yang mereka ketahui adalah atasannya.
Ana semakin keheranan, Fira disambut begitu terhormatnya seperti orang yang memiliki jabatan penting saja. "Fira, sebenarnya ada apa ini?" tanya Ana semakin penasaran.
"Duduk dulu yu, aku pesenin makanan dulu. Kamu mau makan apa?"
"Fir, makanan di sini pasti mahal, aku nggak punya uang buat bayar," Ana semakin tidak mengerti dengan Fira, bagaimana mungkin orang miskin seperti dirinya diajak makan di kafe berkelas ini, sedangkan yang ia tahu Fira pun orang biasa saja.
Fira hanya tersenyum "Nanti aku yang bayar, kamu tenang saja," sahutnya menenangkan Ana, namun sepertinya akan sedikit kesulitan.
"Fir, aku mau pulang saja, tempat ini tidak cocok untuk ku," Ana bangun dari duduknya, namun Fira mencegahnya.
"Kafe ini milikku," ucap Fira terus terang, hal itu membuat Ana kaget dan mengurungkan niatnya untuk berdiri dan pergi.
"Apa maksud kamu, Fir. Kamu bukan..."
"Simpanan om om maksud kamu, " sahut Fira memotong ucapan Ana, karena tahu apa yang ada dipikiran Ana.
"Lalu?" tanya Ana penasaran.
"Makan dulu ya, aku sedang ingin makan sup iga dengan perasan jeruk limau dan sambel," Fira sepertinya sedang mengidam, karena ia sudah mulai menginginkan makanan tertentu.
Keduanya pun sudah memesan makanan yang diinginkan, dan menyantapnya dengan penuh kenikmatan, berbeda dengan Ana yang di kepalanya masih banyak pertanyaan.
Setengah jam kemudian mereka pun menyelesaikan makanannya, Ana mulai menuntut jawaban dari rasa penasaran yang sejak tadi bersarang di kepalanya.
"Fir, sekarang kamu bisa menjelaskan semuanya," Ana benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama, rasa penasarannya terlalu besar.
"Baiklah.." Fira mulai menceritakan tentang statusnya sebagai anak seorang pengusaha, pemilik kafe L'rasa, pindahan dari sekolah ternama dan mengenai statusnya yang sudah menikah dan puncaknya Fira menceritakan tentang kondisinya yang saat ini sedang mengandung.
__ADS_1
Ana terdiam tanpa kata mendengar penjelasan demi penjelasan yang diberikan oleh sahabat barunya itu, yang lebih mengejutkan kalau Fira sedang mengandung.
"Fir, kamu tidak ha.."
"Tidak, usia pernikahan kami sudah hampir 6 bulan, dan usia kandungan ku baru 8 minggu,"
(Kita anggap aja usia pernikahan Fira sudah 6 bulan Yo, maklum on the spot)
Ana menarik nafas nya lega, kekhawatirannya ternyata salah.
"Maaf, bukan maksudku menuduh mu.."
"Aku tahu, An. Mana ada remaja masih sekolah tapi sudah menikah dan mengandung," Fira mengerti maksud Ana.
"Maksudku mengajakmu ke sini selain untuk menceritakan semuanya, aku juga ingin menawarkan pekerjaan kepada mu. Aku tahu kamu sedang membutuhkan biaya banyak, karena adik pertama mu akan masuk SMA dan adik bungsu mu akan masuk SMP,"
"Kamu tahu dari mana?"
"Aku tidak sengaja membaca catatan di buku tulis mu mengenai rincian biaya masuk sekolah adik-adik mu sedangkan kamu sendiri berusaha untuk menyelesaikan sekolah mu dan mencari beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi,"
"Mbak Sofi siapa?"
Belum sempat menjawab manager di kafenya sedang wara Wiri melihat keadaan Kafe. "Itu dia," tunjuk Fira dengan arah matanya.
"Mbak Sofi," panggil Fira. Wanita berusia 30an itu pun tersenyum dan menghampiri Fira.
"Kamu di sini?" tanya Sofi, padahal sudah jelas-jelas Fira ada di sana.
Fira mengangguk " Ini mbak teman aku yang akan membantu pekerjaan Mbak, untuk uji coba kasih aja pembukuan Minggu ini, nanti Mbak bisa nilai sendiri,"
"Oh ini, hai aku Sofi," Sofi pun menyapa Ana dan memperkenalkan diri.
"Halo mbak Sofi, aku Ana,"
__ADS_1
"Sepertinya anak kutu buku haha, tolong bantu saya ya, pekerjaan di kafe ini sudah mulai banyak, dan bos cilik kita sulit mempercayai orang lain haha," ucap sofi seolah pekerjaannya penuh tekanan dan butuh bantuan seseorang.
Ana hanya tersenyum dan bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri belum sepakat dengan tawaran Fira, masih terlalu kaget dengan kenyataan yang dia tahu hari ini.
Sesi perkenalan selesai Sofi sudah memberikan tugas yang harus di kerjakan oleh Ana, Fira pun memberikan laptop sebagai inventaris kafe untuk membantu pekerjaan Ana. Awalnya ana masih ragu untuk menerima terutama karena kemampuannya, tapi Fira meyakinkan Ana.
***
Pukul 5 sore Fira sudah kembali dari kafe setelah mengantarkan Ana pulang ke rumahnya, ia pun membantu ana untuk menjelaskan kepada orangtuanya tentang pekerjaan Fira dan fasilitas yang Fira berikan, Ana tidak ingin orangtuanya salah paham. Mereka pun akhirnya mengerti dan sangat berterima kasih kepada Fira.
"Sudah pulang neng?" Bi Rani yang tiba-tiba nongol dari dalam rumah.
"Eh bibi ngagetin aja, ia aku baru aja sampe."
"Mau bibi buatkan minum apa neng?"
"Tidak usah Bi, aku tidak haus. Ni, air mineral saja masih sisa setengah botol," Fira mengangkat botol minumnya, dan BI Rani pun mengangguk.
"Saya naik ke atas dulu bi, badan Fira sudah lengket sekali,"
"Silakan, neng"
Waktu makan malam pun sudah tiba, makanan sudah di sajikan di meja makan. Alan sudah lebih dulu duduk di sana, kemudian tak lama Fira turun setelah Bi Rani memanggilnya ke atas, Bi Rani sedikit terkejut karena kamar tidur Fira kembali terpisah. Sebelumnya ia di suruh memata-matai keduanya oleh Rima, mengenai hubungan keduanya yang kembali membaik dan sudah tidur satu kamar lagi, namun sekarang kembali terpisah.
"Bi, aku mau makan puding saja," Fira mengisi air panas dan mencampurnya dengan air dingin ke dalam Tumbler yang di dalamnya ternyata sudah berisi susu hamil.
"Loh kok, bibi sudah buat makanan kesukaan Neng Fira. Apa neng Fira masih sakit?" tanya Bi Rani masih bingung dengan kondisi majikan mudanya.
Fira menggeleng " Aku masih kenyang Bi, tadi teman sekolah ku mentraktirku makan, kebetulan hari ini dia ulang tahun," sahut Fira berbohong, namun hal itu tak luput dari pengamatan Alan, akhir-akhir ini Fira memang terlihat berbeda.
Malam-malam yang dilalui Fira sama seperti biasanya, ia akan mual muntah di tengah malam, jam di mana waktu terbaik untuk menikmati tidur setelah beraktivitas seharian, namun Fira harus bangun pukul 2 pagi hingga subuh menjelang. Hal itu jelas saja membuatnya mengantuk dan kurang istirahat.
Bagaimana dengan Alan?
__ADS_1
Laki-laki itu ikut bangun saat Fira terbangun untuk memuntahkan isi perutnya. Alan hanya bersandar diantara tumpukan bantal yang ia susun, sambil mendengarkan Fira yang mundar mandir kamar mandi dan muntah-muntah. Alan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan ia bingung harus melakukan apa.
***