
Terima kasih yang sudah baca dari awal tanpa memilih bab dan melewati bab lainnya. Dengan begitu kalian mengapresiasi tulisan amatir ini. Jangan lupa like dan komen apapun selain kesarkasan hehe.
***
Alan ikut masuk kedalam kamar, rencananya untuk pergi ke kantor ia urungkan. Alan telah mengabari kedua orangtuanya, mungkin setelah sang ayah pulang bekerja Mama dan Papa nya akan datang ke rumah Alan untuk memastikan perihal kehamilan menantunya.
Di kamar itu Alan hanya duduk dan terus memandangi punggung kecil Fira, ia tak habis pikir perbuatan yang tidak ia duga akan menghasilkan janin di rahim Fira. Apakah Alan sudah siap menjadi seorang ayah? jawabnya Alan sendiri tidak tahu, nasib pernikahannya saja Alan tidak tahu.
Alan bukan laki-laki yang kejam level tinggi, dia hanya egois dan cenderung keras kepala. Begitu berprinsip dengan ucapan dan tindakannya, hingga ia lupa bahwa ada hati lembut yang rentan tergores, ada air mata yang tingkat kedalamannya begitu rendah, dan ada yang akan menyerah jika merasa perjuangannya sia-sia.
Pukul 4 sore sebelum keduanya pergi ke bandara mereka menyempatkan datang untuk memberikan selamat kepada anak dan menantunya. Adlan dan Rima jelas bahagia karena sebentar lagi mereka akan memiliki cucu, Adlan merasa percaya diri dengan hubungan keduanya, bagaimana tidak, sedikit persoalan rumah tangga, keduanya mampu menghadirkan cucu.
"Bapak, ibu sudah datang?," tanya Rani
"Sudah, Ran. "
"Ibu dan bapak sepertinya sedang bahagia,"
"Tentu saja, memangnya Alan tidak memberi tahu kalau sebentar lagi saya akan memiliki cucu," ucap Rima membuat Rani sedikit kaget.
"Wah, serius Bu, Alhamdulillah kalau seperti itu, jadi ibu tidak usah repot-repot mencari jalan keluar untuk menyatukan mereka," ucap Rani berbisik.
"Tapi Bu.... " belum selesai Rani memberikan informasi, tiba-tiba Alan turun dari kamarnya.
"Mama, Papa sudah tiba?" tanya Alan basa-basi.
"Tentu saja, karena kami sudah ada di sini. Selamat ya sayang, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah. Ingat pesan Mama dan Papa, kamu harus selalu membahagiakan keluarga mu, jangan pernah menyia-nyiakan sesuatu yang sudah ada dalam genggaman kita, kita harus berusaha untuk menjaganya," nasehat Mama yang hanya dianggukki oleh Alan.
"Selamat, Al. Papa bangga sama kamu," ucap Adlan singkat memberikan selamat dan Alan memberikan respon yang sama seperti pada Mamanya.
"Di mana Fira Al, apa kondisinya sudah membaik?" tanya Mama
"Sudah, Ma. Sekarang dia sedang beristirahat, mau ku panggil kan?"
"Tidak perlu, biarkan kami saja yang akan menghampirinya ke kamar," Adlan dan Rima pun naik ke lantai atas, setelah sampai dilantai atas Alan membuka pintu kamarnya, dan di sana Fira masih terlelap, ia melanjutkan tidurnya setelah shalat ashar.
__ADS_1
Rima memandang wajah menantunya dengan penuh kasih sayang, dia merasa kasihan karena gadis yang baru mau beranjak 18 tahun ini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Merasa ada yang sedang menatapnya, Fira pun membuka matanya, ia langsung terbangun namun dihalangi oleh keduanya.
"Tidak usah bangun sayang, kondisi badan mu sedang lemah, istirahat saja. Kami hanya ingin memberikan selamat atas kehamilan kamu, kami sangat bahagia karena sebentar lagi akan memiliki cucu.
Fira hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu mertuanya, ia pun sama bahagianya karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Selamat ya sayang, jaga kesehatan kamu karena saat ini kamu harus menjaganya agar tetap sehat sampai lahir kedunia,"
"Terima kasih, Ma, Pa. Fira akan berusaha menjaganya sebaik mungkin. sahutnya tersenyum.
"Alan jangan lupa untuk selalu memberikan perhatian dan kenyamanan untuk istri dan calon anak mu, Papa tidak ingin mendengar yang tidak-tidak, kalau ada apa-apa dengan cucu dan menantu Papa, kamu yang pertama yang akan Papa cari,"
Alan berusaha mengiyakan apa yang diperintahkan oleh orangtuanya, meskipun sejujurnya dia tidak tahu harus berbuat apa. Satu jam saling berbincang akhirnya mereka berpamitan karena harus melakukan perjalanan bisnis.
***
Setelah makan malam yang dibawa ke kamar oleh BI Rani, Fira langsung mengganti pakaiannya dan pindah ke kamar sebelah, Alan yang baru keluar dari kamar mandi pun langsung bertanya.
"Mau kemana?"
"Kenapa tidak di sini saja?"
Fira menggeleng "Aku tidak mau mengganggu tidur nyenyak mu, walaupun aku tidak yakin saat aku pindah di kamar sebelah tidak menggangu mu. Selamat malam Mas," Fira melanjutkan langkahnya hingga suara pintu ditutup dari luar itu terdengar.
Alan diam tanpa respon sambil melihat ke arah pintu yang baru saja di tutup oleh Fira.
Seperti biasa Fira akan baik-baik saja sebelum tengah malam, Fira akan menggunakan waktunya untuk tidur nyenyak sebelum nanti malam anaknya mengajak bermain atau semacamnya.
Pukul 1 dini hari Fira terbangun namun tidak seperti biasanya yang akan bulak balik ke kamar mandi, hari ini Fira merasa lapar dan menginginkan sesuatu.
"Kenapa aku lapar sekali, padahal sebelum tidur aku sudah makan. Apa kamu lapar sayang?" Fira seolah mengajak anaknya bicara dengan mengelus perut buncitnya.
Fira sangat menginginkan Mie ayam jamur yang ada di depan komplek perumahannya, ia tak yakin jam segini masih ada atau tidak namun ia ingin mencobanya.
Fira turun ke lantai bawah untuk meminta bantuan kepada mereka.
__ADS_1
"Pak Ujang, Pa Asep ada di pos?" tanya Fira pada salah satu penjaga rumah Alan.
"Pak Asep sedang ke kamar mandi neng, ada apa ya?"
"Kalian sedang begadang ya?"
"Tugas saya mah kebetulan lagi jaga malam neng, kami sedang nonton siaran langsung kebetulan sedang ada final bola,"
"Hoalahhh, aku ingin minta tolong, Pak."
"Minta tolong apa neng?" tanya pak Ujang penasaran.
"Aku ingin makan mie ayam jamur yang ada di depan komplek itu loh mang,"
"Oh mie ayam pak Rahmat" ucap Pak Ujang, dan Fira pun mengangguk. Tak lama pak asep keluar dari dalam kamar mandi.
"Sep, dicari neng Fira,"
"Wah ada apa ni kok aku kaget ya," sahut Pak Asep
"Bukan apa-apa Pak, aku hanya ingin makan mie ayam yang ada di depan komplek sana,"
"Yasudah biar saya saja yang membelikan mudah-mudahan masih ada, neng tunggu di rumah saj.
"Ahhhhh, aku ingi ikut saja bersama Pak Asep,"
"Cuaca malam tidak baik untuk ibu hami neng," larang pak Asep
Mata Fira sudah berkaca-kaca mendengar penolakan dari pak Asep, hal itu membuat supir dan satpam itu tidak tega.
"Yasudah ajak aja, Sep. Lagian dekat ini cuma ke depan komplek,"
Asep pun mengangguk "Baiklah, ayu neng,"
Dengan senang hati Fira mengekor dibelakang mang Asep yang saat itu akan mengambil mobil di garasi. Setelah beberapa menit mereka pun meninggalkan area rumah, di lantai dua ada seseorang yang sedang memperhatikan Fira, sejak awal Fira bangun dan berbincang dengan kedua pegawainya Alan pun sudah terbangun. Ia penasaran dengan kepergian Fira malam-malam seperti ini.
__ADS_1