Menikah Mudah

Menikah Mudah
Insekyur


__ADS_3

Bagaimana, Den. Apa makanan buatan neng Fira pas di lidah Aden?" tanya bi Rani penasaran.


Alan menikmati setiap kunyahan yang sebelumnya sempat ragu untuk ia santap, namun saat ini nasi goreng itu hampir tandas. Tanpa bertanya lagi Bi Rani sudah paham kalau makanan buatan Fira memang enak, karena Alan tipikal orang yang tidak bisa pura-pura menikmati apa yang sebenarnya tidak enak. Lalu bagaimana dengan hubungan pernikahan?


Selesai menyantap sarapannya Alan meninggalkan rumah dan segera berangkat ke kantor, karena hari ini ada rapat pemegang saham.


***


1 bulan kemudian..


Hubungan pernikahan yang masih sama dan belum ada peningkatan, Alan menjalankan perannya hanya sebatas status saja. Sedangkan Fira melakukan perannya sebagai seorang istri meskipun tidak maksimal. Fira masih berusaha membuat sarapan setiap pagi, dan juga menemaninya.

__ADS_1


Hari ini Fira memutuskan untuk terjun langsung mengelola kafe yang menjadi hadiah pernikahan dari kedua orang tuanya, awalnya dia mempercayakan kepada orang kepercayaan dari mamanya, dan saat ini dia ingin mengelola secara langsung. Fira tidak ingin terjun langsung untuk memeriksa keuangan dan angka-angka yang ia hasilkan setiap bulannya, Fira benar-benar mempercayakan orang lain yang sudah ia percaya, dan sejauh ini semuanya berjalan lancar.


Keadaan kafe cukup ramai, Fira sudah mewanti-wanti para pekerjanya untuk bersikap biasa saja, dia harus tetap menyembunyikan identitasnya sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Mbak, Fira. Ada pesanan ice green tea satu dan ice cappucino satu." ucap salah satu pegawai Fira.


"Baiklah, apa ada lagi?"


"Yasudah, nanti kalau sudah selesai aku panggil,"


"Baik, Mbak,"

__ADS_1


Dengan telaten Fira membuatkan pesanan demi pesanan yang datang ke mejanya, minuman yang Fira buat memang yang terbaik, siapapun akan merasakan perbedaannya, entah mantra apa yang Fira gunakan sehingga bisa menarik pembeli lebih banyak.


Setelah Ujian semester ganjil selesai dilakukan, awalnya Fira mengunjungi kafe hanya hari libur saja, dan hari ini dia akan datang setiap hari dengan jam yang sudah ditentukan. Sepulang sekolah Fira akan datang ke Kafe dan akan pulang sebelum azan magrib berkumandang, bisa pulang lebih awal, atau akhir, tergantung kafe membutuhkan dirinya.


Minuman yang dibuat Fira sudah selesai di racik, ia mencari pegawai sebelumnya namun sepertinya mereka semua sedang sibuk, dan mau tidak mau Fira mengantarnya sesuai pesanan dan meja yang tertulis di kertas orderan. Fira berjalan dengan santai, sampai akhirnya meja yang menjadi tempat tujuan Fira sudah terlihat, bukan hanya meja saja tapi siapa yang duduk di sana pun sudah terlihat.


Wanita dewasa dan cantik, sangat jauh berbeda dengan dirinya. Wanita itu seperti bukan orang biasa atau bisa dibilang wanita karir, terlihat dari cara berdandan dan brand pakaian yang digunakan.


Awalnya Fira akan dengan senang hati membawa pesanan pelanggannya, namun tiba-tiba ia merasa tidak sanggup untuk menemui keduanya, mereka pasti akan merasa canggung. Akhirnya Fira memutar haluan, dan nasib baik masih berpihak padanya. Salah satu karyawan yang baru saja merapikan meja, diutus Fira untuk membawa minuman yang dipesan bangku nomor 7.


Nyali Fira semakin ciut saja, meskipun hubungan ini hanya sebatas perjodohan dan tidak saling menyukai, Fira ingin hubungannya tetap sehat tanpa orang ketiga. Itu hanya keinginan semata, faktanya dia sendiri yang memberikan izin pada Alan untuk bersama wakil pilihannya, yang sama seperti Alan, pintar, pekerja keras dan sukses. Ya, semua itu tidak ada pada Fira, dirinya masih berupaya melakukan yg terbaik, meskipun tidak mudah.

__ADS_1


***


__ADS_2