
Malam-malam berganti seperti biasanya, namun untuk kali ini sepertinya tidak. Fira mengalami gejala mengidam seperti mual muntah dan terkadang ia menginginkan makanan tertentu. Seperti malam ini sudah ke tiga kalinya Fira pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, Alan yang tertidur pulas bahkan ikut terbangun meskipun matanya masih tetap terpejam.
Tidak ada keinginan untuk Alan sekadar bertanya kenapa, pikirnya gadis itu sedang ceroboh karena menkonsumsi makanan yang salah. Menjelang subuh barulah mual muntahannya berkurang, dan setelah menjalankan ibadah subuh nya Fira pun baru terlelap.
Kejadian itu berulang setiap malamnya, hingga membuat Alan benar-benar terganggu. Kandungan Fira yang sudah menginjak usia 8 Minggu, semakin memperlihatkan perutnya yang sedikit demi sedikit muncul ke permukaan, namun keluarganya belum ada yang menyadari perubahan itu.
Malam ini Alan telah sampai pada kesabarannya, setiap hari dia harus ikut bergadang melihat Fira bulak balik ke kamar mandi. Alan merasa lelah karena butuh istirahat yang cukup tapi itu semua tidak ia nikmati karena secara tidak langsung Alan pun tidak tidur.
Setelah mengganti pakaiannya Alan berniat akan keluar kamar, tekadnya untuk malam ini dia ingin tidur nyenyak karena aktivitas di kantor dan juga sekolah cukup banyak.
"Mas, mau kemana ini sudah malam?" tanya Fira saat Alan akan memutar handle pintu.
"Malam ini aku akan tidur di kamar sebelah atau kamar tamu yang ada di lantai bawah.." sahut Alan yang belum selesai namun Fira sudah bertanya kembali.
"Kenapa?" tanya Fira penasaran.
Alan melihat ke arah Fira dengan tatapan tajamnya.
"Apa kamu tidak sadar kalau setiap malam kamu menggangu istirahat ku, aku ini lelah Fira sehabis bekerja dan butuh istirahat yang cukup. Tapi setiap malam kamu selalu keluar masuk kamar mandi, muntah dengan suara yang nyaring, apa hal itu tidak menurut mu tidak menggangu?" Ucapan Alan membuat Fira terkejut, pikirnya selama ini laki-laki itu tidur nyenyak dan tidak terganggu, nyatanya Alan terbangun tapi tidak melakukan apapun untuk dirinya.
Fira tersenyum namun dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan Fira Mas, aku tidak menyadari hal itu.." Alan pun berniat kembali membuka pintu namun Fira menghentikannya.
"Mas.."
__ADS_1
"Apalagi?"
"Kamu tidak perlu keluar dari kamar ini, sejak awal ini kamar mu. Biar aku saja yang pindah ke kamar sebelah, aku janji tidak akan menggangu tidur mu lagi. Sekali lagi maafkan aku,"
Alan terdiam sejenak, sampai akhirnya ia memberikan nasihat pedasnya.
"Kamu itu ceroboh Fira, jika sakit harusnya pergi ke dokter jangan malah menahannya dan menyiksa diri sendiri bahkan orang lain,"
"Maaf, Mas." Fira mengambil bonekanya dan selimut tipis yang sering ia gunakan saat tidur, menurutnya selimut itu sangat lembut dan nyaman. Fira membawa keduanya dan menggeser tubuh Alan untuk pergi dari kamar utama.
"Permisi, Mas. Selamat beristirahat,"
Saat sampai di kamar sebelah, Fira tak kuasa menahan air matanya dia menangis tanpa suara, dia terluka, dia sedih, dia ingin marah dan berteriak tapi tidak bisa. Alan tidak berubah semuanya masih tetap sama, hal yang terbaik adalah sebuah perpisahan. Fira janji setelah melahirkan nanti dia akan meminta pisah dari suaminya, hubungan ini tidak baik kalau di teruskan.
Setelah menangis Fira terlelap, malam ini sepertinya anak yang ada di perut Fira memahami perasaannya. Dia tenang sampai pagi menjelang.
Sebentar lagi Fira akan akan menghadapi ujian kenaikan kelas, mungkin waktunya tidak akan banyak untuk berinteraksi bersama teman-teman di sekolah bagai mana pun identitas Fira pasti terbongkar terutama masalah kehamilannya. Fira akan mengatakan semuanya pada kedua orangtuanya, bahkan pada Alan. Fira akan memutuskan untuk homeschooling sampai lulus sekolah, dia bisa datang ke sekolah mungkin sampai usia kandungan 4 atau 5 bulan hal itupun jika kehamilannya tidak diketahui oleh orang lain.
Fira selalu membawa buku nikah miliknya di dalam tas, takut sewaktu-waktu ia ketahuan namun sekali lagi ia tidak ingin orang lain menganggap kehadiran anaknya ada dengan cara yang tidak baik. Padahal tanpa mengatakan hal itupun orangtuanya sudah menitipkan pada ketua yayasan dan kepala sekolah maupun guru-guru yang terlibat kalau Fira adalah putrinya dan dia sudah menikah, hal itu Syafran lakukan untuk berjaga-jaga.
***
"Ana aku ingin mengatakan sesuatu kepada mu, tapi sepulang sekolah nanti. Kamu ikutlah dengan ku," ucap Fira pada Ana yang sudah ia percaya sebagai seorang sahabat yang selalu mendukungnya.
"Baiklah," sahut Ana tanpa bertanya banyak hal, itulah yang membuat Fira nyaman berteman dengan Ana.
__ADS_1
Fira dan Ana sering belajar bersama bahkan Ana menjadi guru les untuk Fira, sedikit banyak Fira mulai memahami dan bisa menerima apa yang disampaikan oleh Ana.
"Ana, apa kamu butuh pekerjaan?" tanya Fira tiba-tiba.
Tanpa menoleh dan tetap membaca novelnya Ana menyahut "Haha memangnya kenapa, kamu ingin memberikan pekerjaan untuk ku?" sahut Ana.
"Tentu saja kalau kamu membutuhkannya. Makanya setelah pulang sekolah ikut aku.,"
"Iya, Fir."
Sepulang sekolah Fira minta dijemput oleh supir dari rumahnya, dan tepat sepulang sekolah supirnya sudah berada di depan gerbang sekolah.
"Yu, An." ajak Fira menaiki mobil miliknya.
"Kamu mujur banget Fir, pesan taksi online dapetnya mobil mewah," Ana tidak tahu saja kalau mobil itu milik keluarganya.
Fira masuk dengan senyum mengembang, bagaimana kalau Ana terkejut setelah mengetahui kalau temannya adalah orang berada, atau akan bersikap biasa saja.
"Mau diantar ke mana neng, ke rumah bapak atau rumah den Alan?" tanya pak Yudi supir di rumah kami.
"Antar ke kafe saja, Pak. Hari ini sedang ada perlu di sana," sahut Fira
"Baik, neng."
"Fir, kok bapak supirnya kaya kenal banget sama kamu. Rumah bapak, rumah Den Alan? mereka siapa?" Ana mulai penasaran dengan situasi yang ada, Ana bertanya-tanya siapa sebenarnya Fira ini. Fira yang ditanya Pun hanya tersenyum.
__ADS_1
"Nanti aku kasih tau ya, simpan dulu rasa penasarannya,"