
Flashback
Sembilan belas tahun yang lalu Lisa dan Safran sedang berada di sebuah rumah sakit besar yang ada di kota Bandung. Lisa dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan, usia janin yang belum cukup umur untuk dilahirkan membuat Lisa dan Safran kehilangan bayinya.
Safran begitu sedih karena bayi yang selama 10 tahun ia dambakan harus kembali kepada sang pencipta, belum lagi Lisa yang harus diangkat rahimnya karena alasan medis, jika tidak kemungkinan hamil akan terulang dan bahaya justru akan mengancam ibu dan bayinya. Safran tidak ingin mengambil resiko, memiliki Fero sudah cukup bagi pernikahan mereka.
Dihari yang sama seorang ibu yang usianya sekitar 50 tahun sedang menangis bersama bayi dalam gendongannya, bayi yang belum lama di serahkan kepada sang nene oleh perawat. Suster menyerahkan bayi itu untuk diazankan oleh pihak keluarga sebagai biasanya, namun ternyata tidak siapapun selain nenek yang malang itu. Nenek yang baru saja mendapatkan kabar kalau anaknya tidak bisa diselamatkan karena mengalami pendarahan hebat, ya sang ibu melahirkan setelah mengalami benturan bersyukur anaknya masih bisa diselamatkan.
"Di mana ayah bayi ini Bu, bayi ini harus segera diazani setelah itu kami akan membawanya ke ruang perawatan bayi," ucap suster pada sang nenek, nenek itu hanya menggeleng.
"Lalu siapa yang akan mengazani bayi ini?" tanya suster lagi.
Di kejauhan laki-laki yang sedang bersedih dan terpukul itu, melihat keadaan yang sepertinya lebih menyedihkan dari dirinya. Entah dorongan dari mana Safran mendekat ke arah nenek berusia 50 tahun itu dan menawarkan diri untuk mengazani bayi malang berjenis kelamin perempuan itu.
"Permisi, bolehkah saya yang mengazani bayinya?" Safran mendekat dan menawarkan diri. Sang nene yang sedang menunduk dan memeluk cucunya melihat ke arah Safran dan mengangguk bahagia, setidaknya ada yang akan mengazani cucunya.
Dengan merdu Safran mengazani Bayi itu, tangis haru pun tak luput dari wajah Safran, harusnya dia mengazani putrinya yang baru lahir kedunia tapi malah putri orang lain. Selesai diazani, bayi itu dibawa ke ruang perawatan, tempat di mana para bayi yang baru lahir berada.
Nenek itu terus menangis setelah cucunya dibawa pergi, sementara Safran tak tega meninggalkannya.
"Ibu kenapa menangis, harusnya bahagia karena memiliki seorang cucu?" tanya Safran.
Nenek itu semakin menangis "Anak dan cucu saya begitu malang,"
Safran merasa heran dengan ucapan seorang ibu itu " Kenapa?"
"Anak saya satu-satunya meninggal setelah melahirkan, sedangkan cucu saya harus menjadi piatu diusia dini..."
__ADS_1
"Lalu di mana ayahnya?" Ibu itu kembali menggeleng "Anak saya dinikahi secara siri karena keluarganya tidak menyetujui pernikahan mereka, dan sudah lama dia tidak kembali, sejak saat itu anak saya berkerja keras untuk menghidupi saya dan anak yang dikandungnya," mendengar cerita itu Safran merasa iba, bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa Setega itu meninggalkan istri yang sedang mengandung, apa semua laki-laki harus terus bergantung pada keluarganya tanpa bisa mengambil keputusan sendiri?
Saat tengah berbicara, Safran didatangi oleh Lia adik dari Lisa.
"Bang pemakaman sudah diurus, kita bisa memakamkan bayi kalian hari ini juga," Safran hanya mengangguk, nenek yang sejak tadi diam pun melihat ke arah Safran.
"Kenapa dengan bayimu, Nak?" tanya ibu itu.
Safran tersenyum penuh kesedihan "Putri saya harus kembali ke surga Bu, kami tidak bisa memilikinya, karena Allah berkehendak lain,"
"Innalilahi, Maaf tak seharusnya kamu mendengarkan kisa sedih saya sementara kamu sendiri sedang berduka,"
"Tidak apa-apa Bu, kita sama-sama sedang berduka cita. Apa ibu sudah mengurus pemakaman putri ibu?" lagi-lagi ibu itu kembali menggeleng.
"Saya belum sempat mengurusnya, karena kami pendatang dibandung jadi tidak ada sanak saudara yang membantu. Setelah ini saya akan pulang dan meminta bantuan kepada warga tempat tinggal saya,"
Tanpa pikir panjang nenek itu mengangguk setuju, bagaimana pun tawaran Safran adalah sebuah bentuk pertolongan yang Allah berikan kepada dirinya. Mereka bukan keluarga berada yang bisa membesarkan seorang anak dengan mudah, apalagi sang nenek sudah tua, tak tega rasanya meninggalkan cucunya seorang diri saat dia harus pergi bertani.
Hari itu Safran mengurus semuanya, seperti kesepakatan awal kalau putrinya akan bersebelahan dengan makam dari anak si nenek. Dua batu nisan bertuliskan nama masing-masing telah berada diatas gundukan tanah merah , tangis dan kesedihan melepas keduanya.
Syafira Putri Anugerah binti Safran Fais Anugerah
Itulah nama yang diberikan Safran kepada putrinya, putri yang tidak bisa ia besarkan seperti harapannya.
"Tolong jaga putri saya di sana," gumam Safran seolah bicara dengan seseorang padahal hanya makam wanita yang tak lain adalah ibu dari anak angkatnya Amanda Ayu Utari binti Hadiwijaya.
Semua orang sudah kembali ke rumah dan sebagian pergi ke rumah sakit, meskipun berat mereka harus tetap melanjutkan hidup. Satu Minggu telah berlalu, Lisa sudah mengetahui perihal putrinya yang tidak bisa diselamatkan, terpukul sudah pasti tapi Safran membawa penawar lain meskipun tidak akan pernah menggantikan putrinya. Lisa mendengar kisah malang bayi berusia satu minggu itu, ia setuju untuk merawat dan membesarkannya. Allah mengambilnya, dan langsung mengganti juga, hidup adalah misteri.
__ADS_1
Bayi cantik itu sudah berada di ruangan Lisa, mereka menyambut bahagia bayi malang itu.
"Apa dia sudah memiliki nama?" tanya Lisa
"Belum Ma, kita tanya ibu ayu saja. Bagaimana Bu, apa ibu mau memberikan nama untuk cucu ibu?"
Ibu ayu menggeleng dan menyerahkan buku diary milik Amanda putrinya, di sana ada selembar tulisan tentang nama yang sudah di susun oleh putri nya.
"Bolehkah menggunakan nama yang di buat putri saya, dan sisanya kalian bisa menambahkannya,"
"Tentu saja," Safran membaca nama itu.
"*Amanda Gam*i? apa Gami nama marga ayahnya?" ibu ayu menggeleng. "Itu nama singkatan ayahnya " Gala Milandra . Awalnya dia ingin memberikan nama besar keluarga suaminya tapi anak saya menyadari kalau dia bukan bagian dari keluarga itu, jadi anak saya membuat gabungan nama itu," Semua orang yang ada di ruangan itu ikut merasakan kesedihan almarhumah. "Baiklah nama itu akan menjadi nama untuk bayi cantik ini, bolehkah saya menambahkan satu nama di depannya,"
"Tentu saja nak,"
"Saya ingin memberi nama Syafira, sama seperti nama Putri saya,"
"Syafira Amanda Gami?" ucap Lisa, dan Safran mengangguk.
"Nama yang cantik,"
Semua kesedihan menguap begitu saja tergantikan dengan kebahagiaan. Safran berjanji akan membesarkan dan memberikan kehidupan yang layak untuk Fira. Dunia hanya boleh tahu kalau Fira adalah putrinya, jika pun nanti Fira harus tau maka biarkan dia yang akan memberi tahu.
Tapi sayang Fero yang sudah berusia 11 tahun itu mengetahui kalau adiknya sudah meninggal.
Flashback off
__ADS_1