
Sesampainya di kelas Fira sudah disambut kedua sahabatnya Dina dan Sella. Kebahagiaan Fira selama di sekolah adalah berkumpul dengan keduanya, selebihnya ia merasa terbebani apalagi dengan mata pelajaran yang seabrek dan membuat kepalanya ruwet.
"Hai Fir, lemes amat pagi-pagi, belum sarapan ya?" ucap Sela menyapa.
"Iya pagi-pagi loyo amat, nggak di kasih uang jajan ya sama hasben wkwkw," timpal Dina
"Guys sekolah di sini ternyata maha juga ya.." ucap Fira lesu
" Kenape pagi-pagi udah mikirin urusan keuangan, itu mah urusan orang tua, kita mah sekolah aja. Lagian apa yang dikuatirkan si, kan pemilik sekolah ini suami sendiri," ucap Sella yang ucapan terakhirnya dibisikkan.
"Kenapa Fir, ada masalah? " tanya Dina yang tidak suka berbasa-basi.
Fira pun mulai menceritakan perihal kedatangannya tadi ke bagian TU.
"Ya ampun Fir, kenapa harus repot-repot si, emang suami nggak ngasih tau ke bagian TU kalau kamu istrinya pemilik sekolah ini?," Sella sepertinya mulai gemas dengan tingkah Fira.
"Lagi ribet banget si Fir, tinggal sekolah dan menikmati segala fasilitas yang tersedia malah so so an mau bayar sekolah sendiri. Udah si Fir, nggak usah neko-neko, mungkin saat ini hasben kamu sedang dingin atau cuek siapa tau besok-besok dia berubah pikiran," ucap Sella frontal tanpa memikirkan perasaan Fira yang menjalani semuanya, yang lebih membuat Fira sedih, ternyata Dina sepakat dengan ucapan Sella.
Fira hanya tersenyum tipis sambil menyembunyikan kesedihannya, kali ini dia benar-benar sendiri dan tidak ada yang mendukungnya. Fira memang terlihat egois, namun ia menyadari hal itu, Fira terlanjur menjadi seorang perasa, sensitif dan mampu memendam perasaannya sendiri.
"Iya kalian benar, harusnya aku nggak bersikap aneh-aneh, aku makin ga tau diri aja ya hehe.?," Fira menyembunyikan kesedihannya dengan celotehan konyol yang membuat dirinya terlihat baik-baik saja.
"Bukan gitu Fir, kita cuma nggak mau kalau kamu terus menerus memikirkan hal yang belum terjadi. Anggap aja ini pelajaran buat kamu," timpal Dina
__ADS_1
"Sudah Fir, jangan mengkhawatirkan hal berlebihan lambat Laun juga suami kamu pasti akan jatuh cinta dan. Masalah sekolah kamu yang tidak memiliki peningkatan Ahhhh hal semacam itu singkirkan saja dari pikiran mu, toh kamu sudah kaya sejak lahir, siapa yang peduli kalau kamu bodoh haha," celoteh polos Sella membuat perasaan Fira semakin sakit, namun Fira hanya ikut tertawa bersama kedua temannya.
"Aku permisi ke toilet dulu ya, kebelet pipis ni," ucap Fira izin pada kedua temannya.
"Mau ditemenin nggak?" tanya Sella
"Tidak usah, aku bisa sendiri,"
"Baiklah. Hati-hati,"
Fira pun meninggalkan kedua temannya. Sesampainya di kamar mandi Fira benar-benar menumpahkan kesedihannya, dia menangis tanpa menimbulkan suara, sapu tangan yang ia bawa menjadi alat untuk membekap mulutnya.
Fira pun tidak ingin berada dalam situasi ini, terlahir dari keluarga kaya namun tidak bisa menjadi kebanggaan keluarganya, menikah karena perjodohan di mana suaminya tidak menghargai dan menginginkan keberadaannya, dan saat ini kedua temannya tidak bisa memahami perasaannya sedikitpun. Meski sadar apa yang Fira lakukan terkesan ke kanak-kanakan, namun ia juga punya perasaan, salahkah jika dia merasa terbebani?
Saat datang ke kelas ternyata Alan sudah berada di sana, sedang menjelaskan materi yang menjadi jadwalnya mengajar hari ini. Alan menatap tajam pada sosok Fira, seperti melihat musuh, dan tatapan itu seperti pedang yang tajam yang akan menusuk. Tatapan itu mungkin hal biasa bagi para siswa karena Alan memang terkenal killer, namun bagi Fira hal biasa itu sudah berubah menjadi hal menyedihkan.
"Dari mana saja kamu? saya sudah menerangkan lebih dari 10 menit dan kamu baru datang," ucap Alan.
"Maaf, Pak. Saya dari toilet,"
"Kamu sengaja menghindari pelajaran saya kan? kalau memang seperti itu, lebih kamu keluar dari kelas saya. Saya tidak butuh murid yang tidak mau belajar dan malah menyepelekan waktu!" ucap Alan sarkas, Fira hanya menunduk dengan mata yang sudah begitu merah.
Semua orang tidak ada yang berani menatap keduanya, jika sampai Alan melihat mereka memperhatikan apa yang sedang Alan lakukan maka habislah semuanya.
__ADS_1
"Tugas kamu itu belajar, saya tidak suka melihat siswa bekerja dan malah menyepelekan tugasnya untuk belajar. Ini peringatan untuk kalian semua,"
Setelah selesai memarahi Fira, Alan kembali ke mejanya sedangkan Fira masih menunduk dan sesekali menyeka air mata yang akan jatuh ke pipinya.
"Cepat tinggalkan kelas saya, saya tidak ingin melihat kamu," Sambung Alan, membuat Fira benar-benar sedih, terlalu berlebihan memang, hanya memarahi Fira bukan karena sebab terlambat saja, tapi Fira merasa kalau Alan benar-benar membencinya.
Fira mengambil tas nya dan meninggalkan kelas, hanya ada tatapan iba dari teman-teman sekelasnya. Mereka jelas tidak bisa membantu Fira, karena mereka masih ingin belajar di kelas .
***
Tekad Fira semakin kuat kalau dirinya ingin mengundurkan diri dari sekolah milik Alan. Namun sebelum itu ia ingin mengunggah formulir pengunduran diri dan mengisinya. Karena wali Fira masih atas nama kedua orang tuanya, maka Fira akan meminta tanda tangan keduanya dengan berbagai cara tanpa diketahui tujuannya.
Lalu bagaimana dengan Alan, yang pasti akan mengetahui perihal pengunduran diri Fira? Fira pastikan kalau Alan tidak akan pernah peduli, dia hanya perlu membuat kesepakatan dengan Alan, kesepakatan untuk tidak memberi tahu kedua orangtuanya.
**
Fira sudah berhasil mengunduh surat pengunduran diri, dan mengisinya langkah selanjutnya adalah meminta tanda tangan kedua orangtuanya. Saat ini Fira sedang mencari sekolah biasa yang sesuai dengan kemampuannya belajar dan membayar.
Pindah sekolah adalah langkah tepat yang akan dia tempuh, Fira terlalu menikmati kekayaan kedua orangtuanya, terlalu dimanjakan oleh fasilitas tanpa Fira berpikir kalau mereka ingin agar Fira membanggakan mereka, tapi Fira tidak bisa melakukannya, otaknya terlalu lemah.
Fira mencari informasi sekolah menengah atas yang menerima siswi pindahan. Akhirnya dia mendapatkan salah satu sekolah swasta yang tidak cukup populer di kalangan atas, namun sudah berdiri lama, dan mencetak banyak generasi hebat di bidangnya masing-masing.
"Aku hanya perlu menyelesaikan pendidikan ku, lulus tepat waktu dan aku ingin segera mengakhiri hubungan pernikahan ini, kami tidak mungkin selamanya dalam kepura-puraan. Semangat Fir," Fira berbicara dengan dirinya sendiri dan mulai merencanakan banyak hal .
__ADS_1
Fira tidak langsung pulang ke rumah ia malah datang ke kafe miliknya, dan mulai berbaur dengan yang lainnya untuk membantu pekerjaan di Kafe.