
Melihat orang yang sangat dicintai menghilang sekejap dalam pandangan, membuat hati Bara terasa sedang tercabik-cabik. Bara tak bisa menahan air matanya. Dia merasa takut kehilangan Karin.
Bara tesadar tidak bisa begini terus menerus, dia menghapus air matanya , dan bangkit, dia segera pergi ke tempat Karin di rawat, berharap Karin secepatnya terbangun.
Jo yang sedang menunggu Karin, dia tidak sengaja melihat mata Karin mengeluarkan air mata, Jo segera memanggil Dokter, dia tidak tau siapa yang menangani Karin, jadi meminta Jesika untuk mengecek keadaan Karin.
Bara terkejut saat melihat Jo dan Jesika ada disana.
"Bagaimana keadaan Karin?" tanya Bara pada Jesika, dia berharap Karin secepatnya bangun.
"Ada sedikit perkembangan, kemungkinan beberapa hari lagi istrimu akan siuman" jawab Jesika dengan datar.
Bara bisa bernafas lega mendengarnya. Kedua tangan Bara mengusap wajahnya dengan lembut, dia berharap Karin bisa secepatnya siuman.
Jesika menghela nafas, "Karena dia istrimu, mulai hari ini aku yang akan menjadi dokternya."
"Kau yakin?" Bara terkejut mendengarnya, sementara Jo memilih diam dengan duduk di sofa.
__ADS_1
Jesika malah mendeliki Bara, "Kenapa? Kau takut aku macam-macam padanya? Hhh... aku tidak punya keberanian untuk itu. Seleraku bukan suami orang. Mana ada dokter cantik sepertiku harus jadi pelakor, memalukan."
Jo hanya terkekeh mendengarnya. Rupanya Jesika menuruti saran dari Jo untuk melupakan Bara, sebenarnya belum, baru mau mencoba menerima kenyataan bahwa Bara kini telah berstatus suami orang.
"Ya aku percaya padamu." ucap Bara sambil duduk di kursi di samping Karin, dia memegang tangan Karin.
"Kau harus cepat bangun, aku merindukanmu, Karin." ucap Bara dengan mata berkaca-kaca, dia takut sekali kehilangan Karin.
Jo mengajak Jesika keluar dari sana membiarkan Bara untuk berduaan dengan istrinya.
Di Siang hari itu, Pak Tian tidak akan masuk kerja karena mendengar kabar baik dari Bara tentang Karin.
Namun dia merasakan sesak yang luar biasa, dia terbatuk-batuk lebih sering dari biasanya. Dia semalam menyuruh Asisten Doni untuk mengecek sebuah obat. Dia hanya mengirim foto merk obat itu.
Drrrtt... Drrrtt...
Pak Tian mendapatkan pesan dari Doni.
__ADS_1
[Itu obat untuk radang paru-paru, ini saya mengirim contoh pilnya]
Doni mengirim bentuk asli obatnya, memang warnanya sama biru muda tapi ukurannya lebih kecil dari obat yang selalu di minum oleh Pak Tian.
Pak Tian terkejut melihatnya, sampai dadanya semakin terasa sesak, mengapa ada yang menukarkan isi obat itu, untuk apa juga orang itu memberikan obat palsu padanya.
Pak Tian mencurigai istrinya karena dia yang selalu memberikan obat itu, dia segera pergi menemui istrinya yang sedang berdandan di kamar.
Pak Tian sangat marah sambil melemparkan obat yang selalu diberikan istrinya ke lantai sampai obat itu berserakan disana, "Obat apa yang selama ini mama berikan padaku?"
Bu Zora terkejut melihat suaminya begitu marah padanya. "Ya tentu saja itu obat khusus radang paru-paru, pa."
"Mama menukarkan obat itu, iya kan? Apa yang selama ini mama berikan pada papa itu racun?" Pak Tian terbatuk-batuk kembali.
"Apa jangan-jangan vitamin yang dulu mama berikan pada papa dulu sebelum papa menderita penyakit ini racun juga?" bentak Pak Tian. Sebelum paru-parunya rusak, dulu Bu Zora memang selalu memberikan vitamin untuk suaminya. Padahal vitamin itu yang membuat paru-parunya rusak dan di tambah obat yang sekarang yang sengaja untuk membuat Pak Tian mati perlahan.
Bu Zora malah mengelak, "Tidak pa, mana mungkin mama tega melakukannya."
__ADS_1