Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)

Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)
Menjaga Jarak


__ADS_3

Disepanjang perjalanan pulang, Jesika tersenyum-senyum membayangkan saat tadi Jo memeluk dirinya, hangatnya pelukan Jo masih terasa ditubuhnya, membuat jiwanya bergetar dan jantungnya terus berdetak tidak menentu, sepertinya dia benar-benar jatuh cinta pada Jo.


Begitu sampai di rumah, dia disambut dengan ramah oleh beberapa pelayan yang sedang membersihkan halaman rumah yang mewah itu.


"Pagi Nona Jesika!"


"Pagi juga Bik Tati, Bik Ani!" Jesika membalas sapaan mereka dengan sumringah. Dia memberikan beberapa coklat kepada pelayannya untuk menyemangati pagi mereka.


"Wah, terimkasih Nona!" Mereka membawa coklat pemberian Jesika.


Jesika hanya mengangguk, dia segera masuk ke dalam rumah yang megah itu, dia mencari keberadaan mamanya. "Mama!" Dia memeluk sang mama yang sedang duduk di ruang tengah.


Hidup Jesika memang lebih beruntung dibandingkan Karin, dia memiliki orang tua yang lengkap, bahkan sang mama begitu sangat memanjakannya, namun sayangnya Jesika memiliki rasa segan kepada papanya yang selalu bersikap tegas.


"Mama semalaman telepon kamu, kamu kemana aja?" tanya Bu Hera, dia memang tidak bisa memarahi anak semata wayangnya itu.


"Jo dan Bara terluka, jadi Jesika harus menjaga mereka." Jesika meminta maaf pada Bara di dalam hatinya karena harus menjual nama Bara juga.


"Bukannya Bara sudah punya istri, buat apa kamu menjaga suami orang, Jesika! " Bu Hera mengira Jesika belum move on dari Bara, dia tidak rela jika anaknya menjadi pelakor.


"Ya kan ada Jo juga disana, Ma." Jesika melepaskan pelukan. "Lagian Jesika bermalam di rumah sakit kita ini."


"Iya tetap aja kamu harus ngasih kabar, mama sangat khawatir."


"Iya, maaf Ma." Jesika jadi teringat dengan janjinya pada Jo untuk membuatkan bubur untuknya, dia menyesal mengapa harus bilang membuatkan harusnya bilang membelikannya bubur saja jadi kan praktis. Tapi dia tidak ingin membohongi Jo.


"Ma, bisa ajarkan Jesika memasak bubur?"


Bu Hera mengernyitkan keningnya, tumben Jesika meminta dia mengajarkan memasak, "Bubur? Untuk siapa? Jo apa Bara?"

__ADS_1


"Emm... " Jesika belum sempat menjawab karena melihat sang papa yang baru keluar dari kamarnya.


"Papa gak kerja?" tanya Jesika, di pikir papanya kerja, mereka memiliki lebih dari satu rumah sakit. Tapi tetap rumah sakit itu dia beri nama JK.


Pak Gani menatap dengan tajam pada Jesika seakan mau mengintrogasinya. Dia meminta Jesika masuk ke ruang kerjanya, "Cepat masuk ke dalam, papa mau bicara." suruh Pak Gani dengan datar sambil membukakan pintu ruang kerja.


Jesika menurut saja, dia masuk ke ruang kerja papanya.


"Ada apa, Pa?" tanya Jesika begitu mereka sudah duduk di sofa. Dia menatap sang papa yang duduk di depannya, hanya terhalang sebuah meja.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri, lebih baik kamu jaga batasan kamu dengan Jo apalagi Bara yang sudah beristri." Mungkin Pak Gani mengetahui Jesika menginap di rumah sakit demi menjaga mereka, entah benar mereka atau hanya Jo karena dia tau anaknya masih memiliki harga diri, tidak mungkin mau merusak rumah tangga orang.


"Ya ampun, Pa, mereka itu teman Jesika. Papa tau ini kan Jesika mengenal mereka dari kecil, jadi gak mungkinlah Jesika menjauhi mereka." Jesika tidak rela jika harus menjauhi Jo dan Bara.


"Sampai kapanpun persahabatan lelaki dan perempuan itu tidak akan aman Jesika, contohnya kamu menyukai Bara, bisa saja kan Jo menyukai kamu. Kamu akan menjadi istri Raka Aditya. Bahkan semalam Raka dan keluarganya datang kesini meminta untuk mempercepat pernikahan kalian."


Jesika tercengang mendengarnya, "Mempercepat pernikahan?"


Jesika tidak bisa berpikir jernih, dia sebenarnya belum siap untuk menikah dengan Raka, "Tapi aku belum siap, Pa."


"Kamu sudah berusia 25 tahun, Jesika. Mumpung papa masih hidup, papa ingin melihat kamu menikah, papa ingin menimbang cucu papa. Papa ingin melihat kamu hidup bahagia dengan suami kamu." Pak Gani tidak ingin mendengarkan protes dari Jesika.


"Tapi pa... "


Pak Gani menunjukkan kartu undangan yang sudah jadi, "Bahkan kartu undangan ini tinggal disebarkan saja, kamu boleh undang teman-temanmu. Papa sudah mengundang kerabat papa."


Jesika menghela nafas berat, sampai kapanpun dia tidak akan bisa memprotes keputusan papanya.


****************

__ADS_1


"Suster, Dokter Jesika mana? Apa dia belum datang kesini?" tanya Jo dengan ragu-ragu. Dia sudah menungu kedatangan Jesika dari pagi. Bahkan sekarang sudah siang hari. Dia tidak sabar ingin memakan bubur buatan Jesika, terlebih dia ingin bertemu dengan orangnya. Karena itu dia tidak menyentuh sedikitpun makanan di rumah sakit.


"Dokter Jesika hari ini cuti dulu, katanya sih hari ini akan ada pembagian kartu undangan pernikahan Dokter Jesika."


Tangan Jo gemeteran mendengarnya, matanya berkaca-kaca, tidak mungkin dia membiarkan air matanya terjatuh di depan orang lain, terlebih lagi dia seorang pria, namun hatinya terasa tercabik-cabik, begitu perih dan sangat menyakitkan, lebih sakit dibandingkan luka tusuk di tubuhnya.


Setelah suster pergi, Jo menghembuskan nafas dengan berat, rasanya begitu sesak padahal dia sudah tau Jesika akan menikah dengan orang lain, dan dia harus siap menerima kabar itu, tapi tetap saja hatinya terasa sangat sakit.


Dengan ragu-ragu Jo menghubungi Jesika, setidaknya dia ingin mengungkapkan perasaannya namun Jesika tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Sementara itu, Jesika, di kamarnya, dia melihat ada panggilan dari Jo, dia ingin mengangkat panggilan telepon itu tapi dia teringat dengan ucapan papanya yang harus jaga jarak dengan Jo. Tanpa terasa air mata Jesika menetes, mengapa dia tidak pernah beruntung soal asmara. Bahkan saat perasaannya saling terbalas pun sulit untuk bersatu.


[Aku menunggu bubur buatanmu, mengapa belum kesini juga? Aku lapar.]


Jo mengirim pesan itu, sekedar basa basi. Tapi tidak di read.


Jo mengirim pesan lagi pada Jesika.


[Bisakah kita bicara?]


[Aku ingin bertemu dengan kamu]


Jo beberapa kali mengirim pesan pada Jesika tapi tetap saja tidak ada respon dari Jesika.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...

__ADS_1


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...


__ADS_2