
Bu Zora memeriksa kondisinya ke dokter.
"Kondisi ibu baik-baik saja, tidak ada masalah serius." kata seorang Dokter yang sudah meneriksa keadaan Bu Zora. Racun itu memang tidak bisa terdeteksi. Apalagi paru-paru Bu Zora belum rusak.
Rasa sesak yang dirasakan Bu Zora memang tidak sering terasa, dia jadi teringat dengan mendiang suaminya, tapi dia rasa tidak mungkin dia bernasib sama seperti suaminya, sementara dia tidak pernah meminum racun itu.
Bu Zora sama sekali tidak pernah kepikiran kalau Karin akan menukarkan minuman mereka kemarin karena dia merasa Karin tidak tau tentang kejahatan dia dan Elsa.
...****************...
"Tidak apa-apa aku tidak hadir di meeting itu?" tanya Bara saat Karin meminta Bara tidak datang ke acara penyambutan CEO baru. Bara mengobrol dengan Karin sambil menyetir mobil.
"Iya gak usah, aku memiliki rencana lain." Karin saat itu sedang sibuk dengan laptopnya , dia menujukan hasil rekaman CCTV yang terdapat di ruang kerja papanya saat Bu Zora memberikan obat pada Pak Tian, tapi Pak Tian malah tidak meminumnya dan menyelipkan pil tersebut di sela-sela kursi, ini bisa menjadi bukti kalau pil itu memang sengaja diberikan Bu Zora kepada papanya jika terbukti di pil itu mengandung racun.
Saat itu sedang lampu merah, jadi Bara memiliki waktu untuk memperhatikan rekaman CCTV tersebut.
"Berarti kita tinggal lihat hasil penelitian klinis Jesika. "
Jo memang semalam tidak berani membuka hasil penelitian itu yang masih tertutup rapat di dalam amplop tanpa perintah dari Bara.
Setelah sampai di depan kantor K Grup, Karin berpamitan pada suaminya, "Aku kerja dulu ya. " Dia dengan malu-malu mencium pipi Bara.
Bara membalas ciuman Karin dengan mencium keningnya Karin, "Kerja yang semangat ya. Kalau ada apa-apa telepon aku. Dan awas jangan genit sama karyawan pria!"
Karin hanya terkekeh mendengar ucapan Bara.
"Aku serius, bersikap lah menjadi CEO yang disegani, jangan terlalu ramah pada pria manapun." Bara takut saingannya semakin banyak, apalagi istrinya ini sangat cantik.
Hari ini adalah hari pertama Karin menjabat sebagai CEO di K Grup, dia memperkenalkan diri sambil berdiri di meeting room, dia sangat bersyukur karena disambut dengan hangat oleh para jajaran pemilik saham dan staf tertinggi di K Grup, Elsa juga hadir disana sebagai perwakilan dari salah satu hotel dibawah naungan K Grup. Tentu saja Elsa sangat panas melihatnya, dia sangat menginginkan dia yang ada diposisi Karin, hidup Karin memang selalu beruntung, membuatnya sangat iri.
Elsa rasa perkataan Bu Zora ada benarnya juga, dia memang harus melenyapkan Bara agar rencananya lebih cepat teratasi. Elsa mengirim pesan pada Bima.
__ADS_1
[Aku ingin kamu bunuh Bara hari ini]
Elsa mengirim pesan itu dengan mata berkaca-kaca karena sebenarnya dia tidak tega. Tapi Dia memang harus bertindak cepat.
Semua orang bertepuk tangan saat Karin sudah selesai mengenalkan diri dan menyampaikan apa saja konsep dia nanti untuk membuat K Grup lebih maju lagi dari sekarang.
Setelah selesai meeting, Karin pergi ke ruangannya diantar oleh Doni, dia duduk di kursi yang biasa di duduki sang papa, bayangan papanya selalu saja ada dipelupuk matanya.
"Apa nona menyukai ruangannya? Ruangan ini bisa ditata lagi sesuai keinginan dan selera nona."
"Tidak perlu, aku menyukainya. Kak Doni boleh pergi, lagian sekarang aku dengar kak Doni bukan asisten lagi tapi wakil direktur."
"Waktu itu karena darurat, sekarang aku tetap akan menjadi asisten Nona. Aku senang nona baik-baik saja." ucap Doni dengan sungguh-sungguh, Doni pun pergi dari ruangan itu.
Papa, Karin janji Karin akan membuat perhitungan kepada mereka. Maaf Karin tidak bisa melindungi papa. kata hati Karin sambil membayangkan sang papa yang duduk di kursi itu.
Karin menghapus air matanya, dia tidak boleh terlihat lemah oleh siapapun.
Ceklek!
"Karin," Sapa Elsa sambil terus berjalan menghampiri Karin.
Karin menyambutnya dengan ramah dan senang hati, "Kak Elsa."
Elsa memeluk Karin, "Kakak kangen sekali sama kamu, mungkin kamu sudah dengar sendiri bagaimana perlakuan Bara pada kami." Elsa pun melepaskan pelukannya, mereka duduk di sofa.
"Hmm iya padahal aku sudah membela Bara saat mama menceritakan soal Bara kemarin. Tapi semalam dia sangat menyebalkan sekali, dia telah menyakitiku." Karin menceritakannya dengan nada kesal, dia sudah tau dari Bara kalau Elsa mencoba untuk menggodanya dan menunjukkan foto dirinya dan Revan seolah ingin dia dan Bara bertengkar, apalagi yang mereka harapkan? Tentunya mereka ingin Karin dan Bara bercerai karena Bara memiliki tanggung jawab penuh terhadap Karin dan semua yang Karin miliki sebagai suaminya dan sesuai dengan surat wasiat dari papanya.
Padahal aslinya Karin ingin sekali menjambak rambut Elsa kalau bisa menamparnya sampai puas tapi dia harus menahannya, hanya bisa melakukannya di imajinasinya saja. Dia tidak terima suaminya di goda oleh wanita murahan ini. Karin terpaksa bersandiwara seperti itu karena dia takut Elsa akan membahayakan Bara.
Elsa tersenyum puas mendengar curhatan dari Karin, sosok Karin memang seperti ini selalu terbuka padanya. Dan ini artinya dia memiliki peluang untuk mendapatkan Bara.
__ADS_1
"Mengapa tega sekali Bara menyakitimu?" Elsa pura-pura peduli padanya. Padahal hatinya sangat senang.
"Dia salah paham, dia pikir aku selingkuh sama Revan. Sampai dia meluapkan seluruh emosinya padaku semalam."
Elsa pura-pura sedih mendengarnya "Memangnya kamu tidak punya perasaan pada Revan, kakak tau banget lho kamu itu cinta sekali sama Revan, kenapa tidak meminta cerai saja pada Bara dan kamu bisa hidup bahagia dengan Revan." Elsa masih mengira Karin masih mencintai Revan.
Karin sangat kesal mendengarnya, tapi dia pura-pura bersikap biasa saja.
Elsa merasa Karin baik-baik saja setelah meminum racun itu kemarin. "Tapi Karin kamu baik-baik saja kan?"
Karin mengerutkan dahi mendengar pertanyaan dari Elsa, dia jadi teringat dengan minuman yang pernah dia tukarkan, apa mungkin dugaan dia benar kalau minuman itu di campur racun, tapi Karin tidak tau reaksinya seperti apa. Karin terpaksa meniru apa yang pernah dirasakan papanya, Karin terbatuk, "Ohokkk... ohokkk. "
"Entah mengapa hari ini dadaku terasa sesak kak tapi gak lama, sesaknya hilang dengan sendirinya, terus beberapa jam kamudian sesak lagi." Karin memegang dadanya.
Elsa ingin sekali berjingkrak-jingkrak karena rencananya telah berhasil. Bahkan dia tertawa terbahak-bahak setelah berada di dalam mobil, dia mentertawakan Karin yang hidupnya tidak beruntung.
"Akhirnya rencanaku berhasil,"
...****************...
Saat itu Bima berada di basement Neo Grup, dia ingin membuat rem mobil Bara blong karena dia sangat ahli dalam membuka kunci mobil tanpa merusaknya.
Ceklek!
Bima dengan santai masuk ke mobil Bara, di akan segera melakukan aksinya untuk membuat Bara celaka. Namun dia mendengar ponselnya berdering, ternyata Elsa menelponnya, "Ada apa?" tanya Bima.
"Rencana untuk membunuh Bara kita pending dulu," Itu karena Elsa merasa ada harapan Bara dan Karin akan bercerai pada akhirnya, jadi tidak perlu harus menyingkirkan Bara.
"Tapi sekarang aku berada di mobilnya."
"Iya, pending dulu aja. Aku memiliki rencana lain. Kamu suruh anak buahmu yang ada di lapas itu untuk meracuni David, racun yang bisa membunuh dengan cepat tapi harus tidak terdeksi, aku rasa David akan membuat aku terancam selama dia masih hidup " Setelah berkata begitu , Elsa menutup teleponnya.
__ADS_1
Bima terpaksa keluar dari mobil Bara, dia tidak mengerti dengan pemikiran kliennya yang labil itu. Yang penting bayaran dari Elsa sangat fantastis.