
Karin menemui Jesika di sebuah Cafe karena kebetulan hari ini Jesika sedang libur, Karin memberikan pil yang berwarna biru muda itu keadaan Jesika. "Apa dokter bisa mengecek pil apa ini?"
Jesika mengela nafas karena dia sudah mengatakannya beberapa kali pada Karin untuk memangil namanya saja, "Hhh... panggil aku Jesika, Je-si-ka."
Karin terkekeh, "Hehe... iya maaf, Jesika. Aku boleh kan minta bantuan kamu untuk mengecek pil itu?"
"Tentu saja, boleh. Tapi memangnya kenapa kamu ingin mengecek pil ini?" Jesika memperhatikan pil itu.
"Aku rasa ada yang menukar obat papaku dengan racun," lirih Karin, dengan menyembuhkan nafas berat.
"Racun?" Jesika memelototkan matanya. Dia segera menyimpan pil itu ke dalam tas, "Baiklah nanti aku akan periksa obat ini, apa ada orang sejahat itu di dunia ini?"
"Tentu saja ada."
Jesika berpikir sejenak, "Hmm pantas saja Bara memintaku untuk menyetujui bodyguard suruhannya berjaga di gerbang rumah sakit. Dia takut ada yang berbuat jahat padamu. Baru kali ini aku melihat Bara seperti itu, biasanya dia datar-datar saja, tapi sekarang dia sudah seperti orang hidup, bahkan bisa menerima kamu di rumahnya. Sebelumnya Bara tidak mengizinkan siapapun datang ke rumahnya kecuali Jo, bahkan aku aja di larang kecuali kemarin saat kamu pingsan." Jesika mengatakannya dengan panjang lebar.
Karin tertegun mendengarnya.
"Ini pertama kalinya Bara sangat mempedulikan orang lain selain dirinya sendiri, dia pasti sangat mencintai kamu, Karin."
Karin tidak menyangka Jesika akan berkata begitu, dia berpura-pura tidak tau kalau Jesika pernah mencintai Bara. Bahkan jika dia menjadi Jesika, dia tidak bisa menjamin akan bisa berlapang dada seperti itu, "Kamu pantas mendapatkan pasangan yang sangat mencintaimu."
Jesika malah kekeh, "Mengapa kamu tiba-tiba mengatakan itu?"
"Karena kamu cantik, kamu baik, kamu pantas hidup bahagia dengan pasangan yang mencintai kamu apa adanya."
Jesika merasa tersanjung dengan pujian dari Karin, "Tapi sayangnya aku tidak diizinkan untuk itu. Aku harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Papaku sangat keras sekali."
"Jangan mau menikah dengan orang yang tidak kamu cintai. Apa sekarang kamu menyukai seseorang? Biar aku bantu mendekatkannya padamu!" Karin ingin menebus kesalahannya karena merasa merebut Bara dari wanita sebaik dia padahal dia sedang berjuang mendapatkan hati Bara saat itu.
__ADS_1
Jesika sebenarnya tidak mengerti akhir-akhir ini menjadi memikirkan Jo setelah Jo terus menghindarinya, dia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya tapi dia merasa yakin tidak mungkin memiliki perasaan pada Jo.
"Tidak ada." jawab Jesika saat ditanya apa ada orang yang dia sukai saat ini, dia menyeruput jus jeruk di atas meja.
"Oh aku pikir kamu naksir Jo." Karin mengatakan itu karena dia tau selain dekat dengan Bara, Jesika juga dekat dengan Jo.
"Ohhokk... Ohhokk... " Jesika langsung tersendak mendengar perkataan Karin.
...****************...
"Jadi David mengaku atas kemauan sendiri mencelakai istri tuan?" tanya Jo sambil fokus menyetir mobilnya.
"Iya, aku rasa pasti ada sesuatu yang membuat dia memilih tutup mulut," Bara mengatakannya sambil berpikir.
"Tapi kalau karna uang kayaknya gak mungkin, tuan. Dia pasti akan memilih membocorkan rahasia jika ditawarkan uang lebih besar." Jo mencoba menebak.
Jo berpikir sejenak, "Orang terdekat David adalah adiknya, dia hanya memiliki satu adik, bahkan saat dalam pelarian adiknya selalu dibawa, biar nanti saya cari tau, tuan."
"Oke... "
Pembicaraan Bara terhenti saat ponselnya berdering, ternyata dari nomor yang tidak di kenal. Bara mengangkat panggilan telepon itu, "Hallo."
"Hallo, Bara. Ini aku Elsa." Terdengar suara wanita licik itu disebrang sana.
Bara menghela nafas berat, dia malas sekali untuk berbicara dengannya.
"Aku menelponmu karena di Hotel K-3 ada masalah, kamu yang masih menjadi Direktur seharusnya cepat menanganinya."
Bagaimanapun Bara masih menjadi Direktur K Grup, jadi dia masih memiliki tanggung jawab terhadap K Grup termasuk hotel-hotel yang berada di bawah naungannya. Bara memutuskan untuk menemui Elsa sebagai penanggungjawab disana, Bara menyuruh Jo untuk pulang duluan apalagi sekarang sudah sore.
__ADS_1
Bara memasuki gedung hotel yang mewah itu, para resepsionis menyambung kedatangannya dengan ramah, Bara berjalan dengan santai masuk ke ruangan manager, ternyata Elsa sudah menunggunya disana. Dia duduk dengan santai di sofa dengan memakai pakaian kantor begitu seksi, bahkan roknya pun di atas lutut.
"Ada masalah apa dengan hotel K-3?" tanya Bara setelah duduk di kursi yang berbeda dengan Elsa.
Elsa memberikan senyuman dengan wajah liciknya, "Sebenarnya aku hanya ingin bertemu denganmu saja, aku yakin kamu akan datang kalau aku membahas masalah pekerjaan."
Bara sangat kesal dan marah mendengarnya, "Kamu mempermainkanku? Aku bela-belain datang kesini di hari liburku hanya karena menerima laporan kamu itu."
"Karena hanya itu yang bisa membuat kamu datang kesini, Bara." Elsa sama sekali merasa tidak bersalah , dia malah tersenyum samar.
"Jangan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan!" Bara segera bangkit untuk pergi dari sana.
Namun Elsa segera menghalanginya dengan berdiri di depan daun pintu, "Bisakah kamu bersikap baik padaku?" Sebenarnya Elsa belum siap menyuruh Bima untuk melenyapkan Bara, mungkin karena dia sudah menaruh hati pada Bara saat pandangan pertama sampai dia bisa melupakan perasaannya pada Revan, pesona Bara telah menghipnotisnya walaupun dia sudah beberapa kali dibuat kesal karena sikapnya, dia berharap Bara tidak ikut campur lagi urusan dia dan Karin, bahkan mereka bisa bercerai, dengan begitu Bara tidak ada urusan dengan Karin lagi dan saham yang dimiliki Karin.
Bara sangat jengkel dengan sikap Elsa "Sikapku memang begini, jadi kamu jangan mengatur ... "
"Kamu bisa bersikap baik pada Karin!" Elsa mengatakannya dengan nada tinggi.
"Karena Karin sangat spesial, terlebih dia adalah istriku. Lebih baik sekarang kamu minggir!" Bara berusaha untuk menahan emosi pada wanita licik itu.
Elsa menunjukan sebuah foto Karin yang sedang duduk berdua dengan Revan di rumahnya, rupanya Bu Zora diam-diam mengabadikannya, membuat Bara membulatkan matanya saat melihat foto itu di handphone Elsa.
"Ini kelakuan istri kamu pada saat kamu pergi, diam-diam dia janjian dengan Revan untuk bertemu di rumah. Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan, Bara. Dia dan Revan.... "
"Berhenti! Jangan bicara lagi! Lebih baik sekarang kamu minggir" bentak Bara, Bara sangat emosi sekarang. Mengapa Karin diam-diam pergi dari rumah tanpa meminta izin padanya, dia mencoba untuk berpikir positif pada istrinya itu, dia harus bertanya pada Karin langsung, dia yakin Karin tidak mungkin menghianatinya.
Bara menarik lengan Elsa untuk menjauhkannya dari daun pintu karena dia harus keluar dari sana, tapi Elsa malah mendekatkan jaraknya pada Bara, "Mereka saling mencintai, bahkan Karin hampir setiap hari selalu bercerita soal Revan sampai aku bosan mendengarnya, Karin selalu bilang dia tidak sabar ingin segera menjadi istri Revan, tidak mungkin perasaannya hilang begitu saja walaupun Revan dulu telah membuat dia kecewa dan mereka pernah putus, tapi Karin akhirnya memaafkannya dan menerima dia lagi karena dihati Karin cuma ada Revan. Perasaan dia sama kamu bukan cinta tapi tepatnya dia hanya ingin balas budi karena kamu sudah berjasa besar terhadapnya dengan mengurus K Grup selama dia koma padahal kamu juga memiliki perusahaan. Karena K Grup sangat penting bagi Karin."
Perkataan itu membuat Bara mematung, ini kesempatan bagi Elsa untuk memperdayanya, dia semakin mendekatkan jaraknya pada Bara dan mencoba membuka kancing kemeja Bara. Bara memang pria dengan sejuta pesona, memiliki postur tubuh yang bisa menggoda iman wanita walaupun dia berpakaian lengkap, apalagi kalau menanggalkan pakaiannya.
__ADS_1