
Bu Zora malah mengelak, "Tidak pa, mana mungkin mama tega melakukannya."
"Ohokk...ohokk!" Pak Tian terbatuk-batuk , dia menutup mulutnya dengan tangan, dia terkejut saat ada banyak darah di telapak tangannya, ternyata mulutnya mengeluarkan banyak darah.
"Jangan berbohong, papa akan melaporkan ini pada polisi!" Pak Tian berjalan ke nakas untuk meraih ponselnya.
Namun kepala Pak Tian merasakan sangat pusing. Dia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya ambruk ke lantai.
Buuukk...
"Papa!" Bu Zora mencoba untuk menolongnya, namun malah di tahan Elsa yang mendengar kegaduhan disana.
"Udah biarin aja, Ma." ucap Elsa sambil memperhatikan Pak Tian yang sedang pingsan di lantai.
"Tapi bagaimana kalau papa mati?" tanya Bu Zora, dia takut menjadi tersangka.
"Bukan kah itu yang kita harapkan? Nanti bilang saja saat masuk ke kamar, tiba-tiba papa sudah tidak sadarkan diri. Beres kan, ma?" Elsa mengatakannya sambil menyeringai.
"Lalu bagaimana dengan obatnya, Elsa?" Bu Zora terus saja memperhatikan Pak Tian yang belum sadarkan diri juga.
"Kita ganti dengan yang asli, dan obat palsunya kita buang. Kita biarkan saja papa seperti itu sampai papa tidak bisa bangun lagi." Elsa mengucapkannya dengan tenang.
Bu Zora sangat gemetaran, karena ini untuk pertama kalinya dia resmi menjadi seorang pembunuh.
"Namun sialnya dokter yang menangani Karin beda orangnya, padahal semalam kita sudah bersepakat untuk tidak membuat Karin bangun lagi." Elsa sangat kesal mengucapkannya, saat itu setelah bertemu dengan Bara di rumah sakit Elsa bertemu dengan dokter yang menangani Karin, dia menyogoknya dengan sejumlah uang yang fantastis.
"Kenapa tidak kita coba sogok aja dokter yang sekarang?" usul Bu Zora.
"Dia direktur sekaligus dokter disana, tidak akan mempan dengan uang."
__ADS_1
Bu Zora segera membereskan obat yang berceceran di lantai, sementara Elsa mendekatkan jari telunjuknya ke dekat hidung Pak Tian.
"Bagaimana?" tanya Bu Zora.
Elsa menyeringai saat tak ada tanda-tanda Pak Tian bernafas, "Dia sudah mati."
...****************...
Berita Kematian Pak Tian kini sudah tersebar, banyak yang datang melayad ke pemakamannya, termasuk Bara. Bara merasa ada kejanggalan kematian pada Papa mertuanya. Dia memandangi kuburan Pak Tian dengan tatapan sedih, selama ini Pak Tian selalu besikap baik padanya. Bagaimana dia bercerita pada Karin nanti tentang semua ini, pasti akan membuat Karin semakin terpuruk.
Saat itu hanya ada Bara dan Doni, semuanya sudah pergi.
Doni memperlihatkan foto obat yang dikirim oleh Pak Tian, kepada Bara. "Sebelum tuan meninggal, tuan menyuruh saya untuk menyelidiki obat ini. Tapi saya tidak mengerti mengapa tuan menyuruh saya untuk menyelidikinya, dia bilang dia akan membicarakannya nanti di rumah sakit bersama anda sekalian melihat keadaan nona Karin."
Bara menghela nafas panjang, dia merasa terpukul jika kematian Pak Tian tidak wajar, Bara memutuskan untuk datang ke kediaman Pak Tian saat itu juga.
"Dimana obat papa?" tanya Bara, dia tidak ingin basa basi.
Bu Zora mengernyitkan keningnya, "obat? Untuk apa?"
Elsa yang mendengar semua itu, dia turun dari lantai atas dengan berjalan pelahan melewati anak tangga satu per satu.
"Obat ini bukan?" tanya Elsa dengan tersenyum manis pada Bara.
Bu Zora yang takut ditanyai macam-macam oleh Bara segera pergi menghindari Bara dan Elsa yang sedang duduk di ruang tengah.
Elsa duduk di kursi yang berbeda dengan Bara, "Untuk apa menanyakan obat ini?" Elsa masih belum memberikan obat itu pada Bara.
"Hanya ingin tau apa saja yang dikonsumsi papa selama ini." jawab Bara dengan tenang.
__ADS_1
Sepertinya dia mencurigai kematian papa, aku tidak akan membiarkannya.
"Ah begitu, oke akan memberikannya. Tapi bagaimana kalau kamu makan dulu disini bersama aku dan mama, kami ini kan keluarga Karin juga. " jawab Elsa dengan santai sambil terus memandangi Bara, dia menyesal mengapa baru bertemu dengan Bara sekarang , malah dia merasa bodoh karena mengharapkan Revan yang akhirnya mencampakannya.
Bara menghela nafas berat, "Aku masih banyak pekerjaan, cepat serahkan obatnya!" Bara mengatakannya dengan nada tinggi, dia merasa jengkel dengan kelakuan Elsa.
Elsa terpaksa memberikan obat itu karena dia sudah mengganti pilnya dengan yang asli.
Setelah menerima obat itu, Bara segera pergi tanpa permisi padanya.
"Hhh... dia sangat menarik, sayangnya angkuh sekali. Tapi untuk apa dia meminta obat itu?"
...****************...
Bara meminta Jo untuk mengecek obat yang selalu di konsumsi ayah mertuanya.
"Bagaimana, Jo?" Tanya Bara, penasaran dengan obat itu.
"Obat ini memang untuk radang paru-paru, tuan." jawab Jo setelah mengecek keabsahan obat itu.
Bara menjadi pusing memikirkannya. "Tapi kenapa papa meminta asistennya untuk mengecek obat itu? Apa mungkin papa merasa diracuni?"
Jo juga ikut pusing memikirkannya, "Bisa jadi. Kenapa tidak melakukan otopsi saja? "
"Saya sudah mengajukannya, tapi dokter bilang tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik atau semacamnya, apalagi tidak ada persetujuan dari istrinya. Aku akan terus menyelediki masalah ini." Bara merasa kasihan pada Karin, rupanya hidupnya sangat berat sekali karena di kelilingi orang yang jahat padanya.
Setelah pulang dari kantor , Bara langsung ke rumah sakit untuk menemani istrinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya Karin nanti kalau tau papanya sudah pergi untuk selamanya.
Bara memegang tangan Karin, dia memandangi Karin dengan mata berkaca-kaca "Aku sangat merindukanmu, Karin. Aku rindu senyummu, tingkahmu, tawamu, semuanya, aku rindu. Setiap aku pulang ke rumah bayanganmu selalu saja ada disana. Ayo bangun, aku yakin kamu pasti kuat menghadapi semua ini, dan aku tidak akan membiarkan satu orangpun menyakitimu."
__ADS_1