Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)

Menikahi Gadis Koma ( Arwah Cantik)
Tidak Mencintaimu


__ADS_3

Bu Zora mengambil satu foto Pak Tian dari album foto, "Oke, aku hanya sebentar lagi berpura-pura baik seperti ini, nanti semua aset berharga keluarga Keano menjadi milikku." Bu Zora tersenyum licik.


Setelah itu Bu Zora kembali menemui Karin, dia menyeringai saat melihat Karin meneguk air putih itu sampai habis.


Akhirnya dia meminumnya juga, kamu akan mati dengan perlahan Karin.


Drrtt... Drrtt....


Bu Zora mendapatkan pesan dari Revan.


[Iya tante, terimakasih sudah mau membantu saya. Saya sekarang sedang di jalan menuju kesana.]


Rupanya Bu Zora memberitahu Revan bahwa Karin ada di rumahnya karena Revan sendiri yang meminta bantuan pada Bu Zora sebagai mamanya Karin, Revan ingin Bu Zora membantunya untuk bertemu dengan Karin karena Revan yakin Karin masih mencintainya. Tidak mungkin dia jatuh cinta begitu saja pada Bara.


Bu Zora duduk di sofa, dia memberikan foto suaminya pada Karin, "Ini foto papa, Karin."


Karin mengambil foto itu. Mata Karin berkaca-kaca memandanginya, ingin rasanya dia menangis karena sangat merindukan papanya, bayangkan saja orang yang pertama Karin ingin lihat saat dia terbangun dari komanya adalah papanya tapi ternyata sang papa sudah meninggal, rasanya pasti sangat menyakitkan , tapi dia harus menahannya agar tidak terlihat lemah. Karin menyimpannya di saku jaket.


"Terimakasih, mah."


"Iya," jawab Bu Zora tersenyum puas melihat gelas yang sudah kosong, padahal dulu dia akan menyutikan racun itu ke cairan infus yang terpasang di tangan Karin saat di rumah sakit dulu tapi Bara menyuruh bodyguard yang terus menghalanginya untuk masuk ke rumah sakit itu.

__ADS_1


Bu Zora meneguk air putih yang ada di depannya , hanya setengah gelas saja karena gelas itu berukuran kecil.


Karin mengeringai melihatnya karena minuman itu dia tukarkan dengan miliknya saat Bu Zora mengambil foto papanya, Karin juga tidak yakin 100 persen minuman itu di campuri racun atau tidak , dia hanya ingin berjaga-jaga saja mengingat papanya yang sebelum meninggal menyuruh mengecek obat pada Doni, Doni bilang Bara dan dia mencurigai papanya merasa diracuni makanya dia menyuruh Doni untuk mengecek obat itu. Itulah alasan Karin ingin mengambil obat yang dulu diselipkan papanya di kursi agar tidak ketahuan bahwa dia tidak meminum obat itu, kini Karin mengerti mengapa papanya tidak mau meminum obat itu.


Seperti yang terjadi pada Pak Tian, obat itu tidak akan langsung bereaksi setelah diminum, jadi Bu Zora terlihat baik-baik saja dan Karin juga harus memastikannya beberapa hari ke depan apa minuman itu di racuni atau tidak, namun dia bersikap masa bodoh saja yang penting dia tidak meminumnya.


Bu Zora sudah tidak sabar menantikan hari dimana Karin menghembuskan nafas terakhirnya, yang dia tangani tinggal Bara, Bara harus mati atau berpisah dengan Karin sebelum Karin meninggal, itu karena surat wasiat suaminya yang menyerahkan tanggungjawab Bara pada Karin sepenuhnya termasuk saham yang dimiliki Karin selama dia masih menjadi suami Karin pastinya, Itu karena Pak Tian sangat mempercayai Bara akan selalu menjaga Karin dan cara agar tidak mudah melenyapkan Karin juga.


"Kak Elsa mana, Ma?" Karin ingin sekali melihat wanita licik itu.


"Biasalah hotel hari minggu tidak libur, Elsa sekarang menjadi penanggung jawab di hotel K-3, suami kamu yang menempatkannya," Bu Zora mengatakannya dengan nada kecewa.


Karin hanya tersenyum tipis saja, "Hmm... ya sudah kalau begitu aku harus pulang dulu, Ma."


"Ya lain kali ya." jawab Karin, padahal dia tidak akan membiarkan Bara bertemu dengan ibu tirinya yang jahat itu.


Namun saat Karin mau bangkit dari duduknya, dia terkejut saat ada yang baru datang ke rumahnya, dia melihat Revan, Karin membulatkan matanya memandangi Revan.


"Oh ada nak Revan, silahkan duduk!" suruh Bu Zora.


"Iya tante," Revan segera duduk di samping Karin.

__ADS_1


Karin segera bangkit, "Ya udah, aku pulang, Ma."


Namun Revan menarik tangan Karin, "Kita harus bicara."


Bu Zora segera meninggalkan mereka membiarkan Karin berduaan dengan Revan. "Hahaha... ternyata gampang sekali menangani anak nakal itu." Bu Zora mengatakannya dengan pelan.


Karin menarik tangannya dari cekalan Revan, "Aku rasa tidak ada yang harus aku bicarakan lagi padamu."


"Aku pacar kamu, Karin. Aku calon suami kamu."


Karin tersenyum sinis, "Calon suami? Aku sudah punya suami, Van."


"Kenapa semenjak kecelakaan itu kamu jadi begini, Karin? Bukan kah kita saling mencintai? Bahkan kita sudah merencanakan acara pernikahan kita." Revan tidak mengerti dengan tatapan Karin yang terasa berbeda. Padahal sebelum terjadi kecelakaan itu Karin begitu sangat mencintainya.


Karin memandanginya dengan tatapan penuh kebencian "Kamu pikirkan saja saja sendiri kesalahanmu itu, mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."


Karin segera bangkit dan berjalan ke luar dari rumahnya meninggalkan Revan. Namun Revan mengejarnya, "Kamu tidak bisa memutuskan hubungan kita seperti ini, aku sangat mencintai kamu, Karin."


Revan menarik tangan Karin untuk memeluknya tapi Karin reflek dengan cepat menendang kaki Revan dan menampar pipinya.


Plakk...

__ADS_1


"Argghhh... " Revan meringis kesakitan merasakan linu di bagian betisnya dan pipinya sakit karena di tampar keras oleh Karin.


"Jaga etikamu, aku adalah istri orang. Istri dari Bara Sebastian. Jangan pernah menyentuhku lagi. Dan kamu harus ingat aku tidak mencintaimu lagi."


__ADS_2