
Jesika sangat terpukul saat mengetahui keadaan Jo, dia sudah mengetahui keadaan Jo dari Dokter yang menanganinya kalau Jo terkena luka karena perutnya terkena tusukan senjata tajam.
Jesika masuk ke dalam tempat Jo di rawat, Jo masih tidak sadarkan diri karena pengaruh anestesi. Dia duduk di samping Jo yang belum membukakan matanya juga, rasanya sangat menyakitkan melihat keadaan Jo seperti itu, beruntung luka tusuk itu tidak terlalu dalam karena saat Jo berkelahi dengan anak buah Bima, dia bisa menahannya.
Jesika memegang tangan Jo, "Jo, kamu harus sembuh. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu. Maaf, karena selama ini aku tidak pernah menyadari perasaan kamu, tapi asal kamu tau kalau aku juga sekarang memiliki perasaan yang sama dengan kamu. Aku cinta kamu, Jo. Aku tidak tau sejak kapan aku memiliki perasaan itu, yang pasti aku selalu nyaman di dekat kamu." Jesika mengatakannya sambil menangis, dia menyesal mengapa menyadari perasaan itu setelah dia akan menikah.
Jonathan atau biasa dipanggil Jo, memiliki kenangan pahit di masa lalunya, di saat dia masih kecil, saat itu dia masih berusia 8 tahun, dia ditinggal ayahnya yang memilih pergi dengan selingkuhannya, dan ibunya bunuh diri karena sangat sakit hati ditinggal suaminya, Jo hidup sebatang kara, karena itu dia dibawa ke panti asuhan milik Neo Grup. Jo memiliki otak yang cerdas, dia tidak mudah bergaul dengan anak-anak panti lainnya, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar.
Saat dia berusia 10 tahun, dia mampu menarik perhatian Pak Ferry dengan prestasinya, kebetulan dia juga membutuhkan seorang anak untuk menjadi teman dan menjaga Bara karena Bara memiliki sifat yang tidak mudah bergaul dengan orang lain dan selalu sendirian, juga mengajarinya belajar, karena itu Pak Ferry menyuruh Jo tinggal bersamanya . Disanalah Jo sering bertemu dengan Jesika, anak dari sahabatnya Pak Ferry.
Bahkan saat Jo remaja, Jesika sering meminta Jo untuk menuliskan surat cinta untuk Bara. Dari dulu Jesika memang gadis yang ceria, dia tidak pernah menyerah walaupun Bara tidak pernah membalas surat apalagi cintanya. Darisanalah Jo menyadari ada ketertarikan pada Jesika karena dia merasa sakit disetiap kata yang dia tulis atas perasaan Jesika pada Bara.
Malam ini Jesika tidur disana, dia duduk di kursi dan menyandarkan kepalanya ke ranjang tempat Jo berbaring. Dia ingin menjaga Jo.
Saat itu Karin terbangun, dia melihat Bara yang sedang tertidur di sampingnya, dia merasa bersalah saat melihat keadaan Bara yang babak belur seperti itu. Karin teringat Jo yang juga menjadi korban penyerangan Bima, dia juga tau Jo banyak membantunya, dia ingin melihat keadaan Jo, tapi niatnya terhenti saat melihat Jesika ada disana, dia merasa lega ada yang menemani asisten suaminya itu. Karin bertemu dengan dokter yang menangani Jo dan menjawab semua pertanyaan Karin tentang keadaan Jo.
Karin masuk lagi ke ruangan Bara, ternyata Bara sudah terbangun. Karin duduk di samping Bara, "Aku sudah melihat keadaan Jo."
"Bagaimana keadannya?" tanya Bara dengan nada khawatir.
"Dokter bilang ada luka tusukan dibagian perut Jo."
"Luka tusuk? Aishh... dia selalu begitu, selalu tidak ingin membuat aku khawatir." Bara tercengang mendengarnya, dia segera bangkit dan menarik selang infus, dia ingin melihat keadaan Jo.
__ADS_1
Karin menahannya, dia mencoba untuk menenangkan Bara. "Disana masih ada Jesika, orang yang bisa membuat Jo semangat. Dokter bilang Jo akan baik-baik saja, jadi kamu juga harus cepat sembuh."
"Benar dia baik-baik saja?" Bara sedikit lega mendengarnya.
Karin hanya menganggukan kepala. Dia memeluk Bara, Maaf besok aku tidak bisa meminta izin padamu, aku harus membuat Elsa menyesal karena sudah berani melukaimu dan juga Jo.
...****************...
Paginya....
Jesika terbangun dari tidurnya, dia kaget saat mendapati dirinya berada di atas ranjang, dia melihat Jo yang sedang duduk dengan santai di sofa memperhatikannya sambil tersenyum.
"Jo, kenapa aku jadi tidur disini?" Jesika bangun dari ranjang rumah sakit itu sambil mengomel, berjalan menghampiri Jo, "Kamu belum sembuh total, mengapa kamu... "
"Aku baik-baik saja," potong Jo.
"Hm ya sudah kalau kamu baik-baik saja, aku pulang dulu." Jesika segera bangkit, dia merasa jantungnya tidak akan aman jika terus berada di dekat Jo yang sikapnya berubah seperti itu. Dia mengecek ponselnya ternyata ada panggilan tidak terjawab dari mamanya. Jesika lupa tidak memberitahu dulu mamanya kalau malam tadi dia tidak akan pulang.
Namun Jo mengikutinya, dia menarik tangan Jesika dan membawa tubuh itu ke dalam pelukannya, Jesika terpekik kaget saat Jo memeluknya dengan begitu erat, "Aku pikir aku tidak akan diberi kesempatan lagi untuk bertemu dengan kamu, karena itu aku sangat takut. Tapi sekarang aku senang akhirnya aku bisa bertemu dan melihat kamu lagi."
Jesika hanya terpaku, dia terdiam saat mendengar ucapan Jo bahkan Jo memeluknya. Hampir saja jantungnya mau meledak.
Jo melepaskan pelukan, dia menatap dengan intens kedua mata Jesika yang jarak mereka begitu dekat, "Jesi, aku... "
__ADS_1
Jesika meletakkan jari telunjuk di bibir Jo, "Sttt... kamu harus cepat sembuh, setelah kamu sembuh nanti baru kita harus saling bicara. Kamu mau aku bawakan makanan apa?"
"Tiba-tiba aku kangen spageti kamu." Jo memegang jari Jesika yang menyentuh bibirnya tadi.
Jesika menggeleng, "Kamu tidak boleh dulu makan spageti, aku akan buatkan bubur yang enak buat kamu. Nanti siang aku kesini lagi."
Jo tersenyum sambil menganggukan kepala. Dia membiarkan Jesika pulang dulu ke rumahnya.
Jesika tidak tahu bahwa semalam Raka dan kedua orangtuanya datang ke rumah Jesika untuk membicarakan masalah pernikahan mereka yang ingin segera dipercepat berhubungan semua persiapan pernikahan sudah dilakukan, tinggal menunggu hari H saja. Karena itu Bu Hera terus menelpon Jesika. Tadinya Bu Hera ingin mendengar persetujuan dari Jesika, karena Jesika tidak pulang juga akhirnya Pak Gani menyetujuinya, Pak Gani rasa dia tidak perlu meminta persetujuan dari Jesika karena sudah merasa cocok dengan Raka, sosok calon menantu yang sangat diidamkan olen Pak Gani.
Jo tidak sabar menunggu kedatangan Jesika sampai siang hari, tapi dia belum datang juga, rasanya dia begitu sangat merindukan wanita itu. Kebetulan ada seorang suster datang memeriksa keadaan Jo.
"Suster, Dokter Jesika mana? Apa dia belum datang kesini?" tanya Jo dengan nada ragu-ragu.
"Dokter Jesika hari ini cuti dulu, katanya sih hari ini akan ada pembagian kartu undangan pernikahan Dokter Jesika."
Tangan Jo gemeteran mendengarnya, matanya berkaca-kaca, tidak mungkin dia membiarkan air matanya terjatuh di depan orang lain, terlebih lagi dia seorang pria, namun hatinya terasa tercabik-cabik, begitu perih dan sangat menyakitkan, lebih sakit dibandingkan luka tusuk di tubuhnya.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...